Oleh: Elycia Callysta (Siswa SMPN 1 Pangkalanbaru)
Suara spidol berdecit di papan tulis, meninggalkan garis-garis hitam seperti jejak semut yang berlari. Dosen berbicara cepat, nada-nada Mandarin keluar dari bibirnya seperti aliran air yang tidak bisa di ikuti. Naomi menunduk. Menatap buku catatan yang penuh dengan aksara aneh itu. Semuanya tampak seperti labirin yang menertawakannya.
“Mā…Má…Mă…Mà…”
Ia mencoba mengikuti suara dosennya yang begitu cepat, seperti melodi yang susah untuk diikuti. Nada ketiga keluar aneh, setengah serak. Tawa kecil terdengar dari belakang. Naomi menelan ludah dan berpura-pura sibuk mencatat. Ketika ia menulis ulang nada-nada itu, tangannya sedikit gemetar seolah penapun ikut menertawakannya. Ia dari kecil memang selalu takut salah bicara, bahkan dalam bahasanya sendiri.
Bel berbunyi. Mahasiswa keluar berhamburan, seperti daun-daun yang tertiup angin sore. Naomi masih duduk di bangkunya, menatap papan tulis yang sedang dihapus pelan oleh dosennya. Tulisan di papan tulis mulai memudar, tapi di matanya masih ada bekasnya, seperti ada hal yang baru saja datang dan menghilang begitu cepat.
“Eh…” Suara itu datang dari samping. “Kamu tadi terlihat bingung,” kata seorang gadis dengan logat halus tapi agak kaku. Naomi menoleh dengan pipi yang memerah karena malu. Gadis itu berkulit pucat, matanya sedikit sipit, dan rambut panjang di kuncir. “Aku Li Mei,” katanya.
“Mau aku ajarin bahasa Mandarin?”
Naomi menatapnya beberapa detik. Ada harapan kecil di matanya, tapi harapan kecil yang aneh. “Boleh,” kata akhirnya dengan sedikit harapan.
Pada hari itu, mereka sering belajar bersama di taman depan kampus, di bawah pohon flamboyan yang sedang berbunga merah. Li Mei menulis di udara dengan jarinya, seakan ada kertas melayang di udara. Ia menulis “Mā itu ibu”. Tapi kalo kamu bilang “Mă, itu artinya kuda. Jadi hati-hati”. Nomi tertawa kecil, “Jadi kalo aku salah ngomong, aku bisa manggil orang kuda?” Li Mei mengangguk dan ikut tertawa.
“Bahasa kadang bisa kejam juga.”
Hari demi hari, Naomi mulai bisa bicara bahasa Mandarin sedikit-sedikit di kelasnya, meski masih ada kata-kata yang salah, ia selalu memperbaiki kata-kata itu menjadi kata yang benar. Kalau dosennya menegur karena salah nada, ia selalu mengingat kata-kata Li Mei di pikirannya. “Pelan saja, jangan takut” Naomi menarik napas, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Suatu sore, dengan angin sore yang sejuk, Naomi duduk di bangku taman pohon flamboyan sambil membuka buku catatan bahasa Mandarin di pangkuannya. Li Mei duduk di sampingnya, sambil menulis bahasa Mandarin di buku catatan mereka, untuk belajar bersama Naomi. Naomi menatapnya menulis. “Li Mei kamu lancar banget bahasa Mandarin, kok bisa?”
Li Mei berhenti menulis dan tersenyum kecil.
“Aku orang China, Naomi. Aku lahir di Beijing”. Naomi terdiam, “Serius” dengan tatapan mata yang tidak percaya dan terkejut.
“Iya, aku ke Indonesia karena aku lulus program pertukaran mahasiswa internasional. Aku ke Indonesia karena menyukai budaya dan bahasanya, jadi aku memilih belajar berbahasa Indonesia. Naomi termenung, karena melihat ada orang asing yang mau belajar bahasa Indonesia. “Jadi selama ini, kita saling belajar bahasa yang sama-sama bukan milik kita ya? mungkin karena itu kita bisa saling memahami satu sama lain.”
Sejak hari itu, Naomi dan Li Mei menjadi semakin akrab seiring waktu. Mereka sering menghabiskan waktu bersama-sama, pergi ke perpustakaan, membahas drama China di kafe depan kampus, bahkan hanya sekedar duduk di taman bawah pohon flamboyan. Naomi yang tertarik dengan budaya dan bahasa Mandarin, menemukan ensiklopedia pada diri Li Mei. Begitupun sebaliknya Li Mei pun menganggap Naomi sebagai ensiklopedia Indonesia berjalan.
Enam bulan telah berlalu, akhir semester telah tiba. Li Mei harus pulang ke Beijing karena masa pertukarannya telah berakhir. Di kelas, bangku Li Mei kosong. Di taman, bunga flamboyan mulai gugur.
Hari terakhir mereka bertemu, Li Mei menyerahkan buku catatan yang mereka gunakan untuk belajar bersama. Di halaman belakang akhir buku, ada tertulis tulisan dengan tinta biru, “Bahasa bukan hanya suara” katanya. Tapi bahasa adalah salah satunya cara untuk kita saing mengerti.
Naomi menatap tulisan itu lama, dalam pikirannya bergema tawa teman di kelas, suara datar yang salah, dan Li Mei yang menuntunnya untuk belajar bahasa Mandarin satu-satu. Dulu Bahasa membuatnya diam. Tapi sekarang bahasa membuatnya berani.
Banyak hal yang ingin disampaikan Naomi kepada Li Mei seperti rasa terima kasih, rasa kehilangan, dan masih bayak yang ingin disampaikan Naomi kepada Li Mei. Tapi Naomi tidak bisa menampung dan mengatakan kata yang banyak itu.
Naomi tidak berkata apa-apa selain mengangguk dan mencoba menahan air matanya.
Saat Li Mei perlahan berjalan menjauh, Naomi ingin memanggilnya, tapi yang keluar hanyalah kata “XieXie”, suara itu hampir tak terdengar, tapi cukup membuat Li Mei menoleh dan tersenyum.
Tinta biru di halaman akhir perlahan mulai memudar, tetapi tulisan itu membekas di pikiran Naomi, seperti suara yang tak pernah hilang. Mungkin memahami seseorang bukan hanya dengan kata sempurna, melainkan rasa keberanian untuk berbicara, meski takut salah. (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025.












