Oleh: Alica Kharunnisa (Siswa SMPN 1 Simpangkatis)
Sang surya menampakkan diri dengan gagahnya, seakan menjelma seperti sang penguasa. Menambah suasana pagi yang hening menjadi sebuah ketenangan jiwa. Angin yang berlalu-lalang menggugah lorong-lorong pencernaan.
Terlihat dari kejauhan, pintu rumah yang terbuka lebar dan kue-kue yang tersusun rapi di atas meja, menandakan hari itu adalah hari yang special. Yaa hari itu adalah hari kelahiran, kelahiran sosok panutan bagi umat yang beragama Islam yaitu, Nabi Muhammad SAW. Umat yang beragama Islam menyambut hari itu dengan suka cita dan berbagai kegiatan keagamaan. Tetapi berbeda di Kepulauan Bangka Belitung, mereka merayakan hari itu dengan perayaan yang disebut “hari raya maulud”. Biasanya masyarakat Bangka pergi ke rumah-rumah keluarga atau kerabat untuk mempererat tali persaudaraan seperti hari raya Idulfitri.
Namaku Nisa. Saat aku pergi ke rumah pamanku, bersama ibu dan ayah. Aku melihat laki-laki asing, wajahnya mempunyai kemiripan dengan pamanku. Ia tampaknya sangat menikmati makanan khas Bangka yang sedang ia makan, yaitu makanan lempah kuning. Seperti yang aku lihat ia sangat antusias dengan perayaan ini, sepertinya ia sangat menyukai adat istiadat dan tempat-tempat yang ada di Bangka. Aku heran mengapa ia sangat antusias dengan perayaan ini, aku pun bertanya kepada ibuku.
“Mak ngapa nya ya cem dek suah maken lempah kuneng?” Tanyaku kepada ibu.
“Nya ge dari Jakarta nu mana lah suah makan lempah kuneng,” Jawab ibu.
“Dok mak acak tau, mak kenalkan kek nya?” tanyaku yang heran, mengapa ibuku bisa tau dia berasal dari mana.
“Mak kelupak madeh kek ka, nya ne agik seperadik kita la. Anek om ka yang di Jakarta tu, nya baru ne lah ke sinek.” Jelas ibuku.
Aku pun mengangguk kecil setelah mengetahuinya.
“Suai lah ko dek suah ningok e!”
Setelah percakapan antara aku dan ibuku, aku dikenalkan dengannya.
“Hai…… namaku Ilyas!” ia memperkenalkan dirinya kepadaku.
“Hai nama ko Nisa!” ucapku sembari tersenyum ramah.
Saat ibuku dengan ibunya Ilyas sedang berbincang, aku mendengar bahwa Ilyas pergi berlibur untuk beberapa hari dan berkunjung ke rumah pamannya yang tidak pernah ia jumpai. Setibanya di Bangka, ternyata bertepatan dengan perayaan maulud. Aku berinisiatif untuk mengajak Ilyas berkeliling desa, aku ingin dia merasakan perayaan maulud yang ada di Bangka, yang mungkin tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
“Ilyas gi ngeliling kampong ne, sambal namu kumah ko!” Ucapku mengajak Ilyas.
Aku melihat ke arah ilyas yang sedang kebingungan, mungkin dia tidak mengerti apa yang sedang aku katakan. Pamanku mendengar ucapanku kepada Ilyas. Paman pun menjelaskan kepada Ilyas yang aku katakan. Setelah Ilyas mengerti, ia pun menerima ajakanku tersebut. Kami berkeliling desa menggunakan sepeda motor yang dikendarai oleh Ilyas. Ilyas sangat kagum dengan perayaan itu. Ia menikmati hari yang spesial itu dengan gembira.
Tidak terasa waktu cepat berlalu, matahari akan berganti dengan sang rembulan. Saat matahari dan sang rembulan berganti, kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Dua hari setelah perayaan tersebut, aku ingin mengajak Ilyas untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Bangka. Pertama-tama aku mengajak Ilyas ke Pantai Pasir Padi. Sesampainya di sana kami melihat banyak sekali pengunjung yang berdatang untuk menikmati angin pantai ataupun mencoba kuliner yang ada di bibir pantai. Aku mengajak Ilyas ke tepian pantai untuk merasakan angin yang berlalu lalang serta merasakan suara ombak yang berkejar-kejaran seolah-olah menambah ceria hari kami.
Kami pun menikmati indahnya mentari dengan rona jingganya membuat hati merasa tenang. Saat menikmati indahnya mentari terbenam, aku sepintas melihat jam yang berada di tanganku menunjukkan pukul 19:15 WIB. Kami memutuskan untuk pulang. Saat perjalanan pulang kami berhenti di Tugu Tudung Saji yang menjadi daya tarik wisatawan. Ilyas begitu sangat terkesan melihatnya. Tudung saji yang berbentuk lingkaran dan diberi warna yang indah.
Keesokan harinya aku mengajak Ilyas untuk pergi ke Danau Kaolin. Danau kaolin terbentuk karena aktivitas tambang, sehingga membuat pemandangan yang sangat memukau. Airnya yang berwarna biru kehijauan dan tepian pasir putih merupakan daya tarik wisatawan yang ingin melihatnya. Semenjak kedekatan aku dengan Ilyas, ia mulai mengerti apa yang aku katakan saat menggunakan bahasa Bangka.
Tidak terasa waktu cepat berlalu, 2 hari lagi Ilyas akan pulang ke Jakarta. Rasanya baru saja ia datang berkunjung ke Bangka tetapi tinggal hitung hari ia akan pulang untuk sekolahnya. Aku pernah teringat, bahwa Ilyas ingin melihat jembatan yang bagian tengahnya diangkat untuk dilewati kapal-kapal besar.
Jembatan ini disebut dengan Jembatan Emas. Besok sore aku akan mengajak Ilyas untuk pergi ke Jembatan Emas. Sore yang ditunggu pun tiba, aku menemui Ilyas di rumah paman.
“Ilyas, ke Jembatan yoh!” ucapku yang mengajak Ilyas.
“Yo sek ko ge dak de gawi di rumah ne,” ucap Ilyas yang langsung menerima ajakanku.
Seperti biasa Ilyas yang mengendarai motorku sedangkan aku memberi arah jalan ke tempat tujuan kami. Sesampainya di jembatan emas, kami melihat banyak sekali pengunjung yang datang baik itu pemuda maupun orang tua. Sepertinya mereka ingin melihat bagian tengah jembatan yang akan dilewati kapal, sama seperti kami. Saat kami tiba ternyata bagian tengah jembatan belum diangkat mungkin tidak ada kapal-kapal besar yang akan lewat.
Sembari menunggu bagian tengah jembatan akan diangkat kami memutuskan untuk melihatnya dari pantai yang tepat berada di bawah jembatan. Pantai itu di namakan Pantai Koala. Pantai Koala menjadi salah satu lokasi rekreasi yang bisa melihat matahari terbenam disertai dengan Jembatan Emas. Tidak berselang lama, bagian tengah jembatan pun di angkat dan lewatlah kapal besar serta dihiasi mentari yang berona jingga, membuat fenomena itu saling melengkapi satu sama lain.
“Dak akan ku lupa, tempat yang lah suah ku liet.” Bisik Ilyas dalam hati, yang sangat berat rasanya untuk meninggalkan Bangka.
Setelah menikmati indahnya pemandangan Jembatan Emas, mentari yang berona jingga, dan laut yang dihiasi lampu-lampu kapal. Kami berniat ingin pulang dan beristirahat, terlebih lagi Ilyas akan pulang ke Jakarta besok sore. Di perjalan pulang aku mengajak Ilyas untuk berhenti di sebuah toko yang menjual berbagai macam makanan yang tentu saja khas Bangka.
Sesampainya di toko itu, aku membelikan buah tangan untuk Ilyas yaitu rusep, belacan, dan keritek atau disebut juga dengan getas. Setelah membelikannya, aku memberi makanan itu kepada Ilyas sebagai buah tangan yang akan ia bawa pulang ke Jakarta.
Tibalah di mana Ilyas akan meninggalkan Bangka yang mungkin dengan waktu yang cukup lama. Aku pergi ke bandara untuk mengantar Ilyas. setibanya di tempat yang penuh dengan kata perpisahan itu, aku mendapatkan pelukan hangat yang menandakan perpisahan akan terjadi.
“Makaseh kek waktu e berapa hari ni ok, maaf lah ngerepot ka.” Ucap Ilyas kepada ku.
“Sama-sama, gati men ke sinek misal ade waktu ok!” Jawabku.
Ilyas pun beranjak pergi disertai dengan lambaian tangan dan senyuman yang terukir di wajahnya. (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025.












