Pemain dan penonton foto bersama usai pementasan (foto : Abok Amang)
Bekaespedia.com, Pangkalpinang,- Sore itu awalnya tampak biasa. Langit terlihat mendung, angin berembus pelan seolah memberi pertanda bahwa hari akan berjalan tenang. Namun, menjelang pukul 16.00 WIB, tepat ketika acara hendak dimulai, suasana mendadak berubah.
Byur…!
Hujan turun deras memecah ketenangan sore. Air mengguyur jalanan tanpa ampun, suara rintiknya berpadu dengan langkah-langkah tergesa orang-orang yang berlarian kecil, melindungi kepala dengan payung seadanya, tas, bahkan selembar kain.
Namun, hujan rupanya tak mampu membendung semangat. Satu persatu penonton terus berdatangan menuju Auditorium Sofyan Tsauri, Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung. Mulai dari pelajar, mahasiswa, pegiat seni, budayawan, hingga masyarakat umum memenuhi lokasi dengan rasa penasaran yang sama: siapa sebenarnya Batin Tikal?
Nama itu membawa jejak masa lalu, tentang seorang pejuang dari tanah Bangka yang kisahnya perlahan kembali dibangkitkan melalui pementasan teater karya Rita Zahara bersama Sanggar Buluh Perindu. Sebuah upaya seni yang bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga usaha menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang seorang pejuangan.
Memasuki auditorium, suasana terasa berbeda. Kursi-kursi dipenuhi penonton yang masih sibuk berdiskusi kecil tentang sosok Batin Tikal. Ada yang penasaran, ada pula yang tak sabar menanti tabir sejarah dibuka di atas panggung.
Ketika pertunjukan dimulai, ruangan perlahan menjadi hening. Kisah demi kisah mulai dipentaskan. Perlawanan, perjuangan, pengorbanan, hingga semangat juang Batin Tikal dihidupkan kembali lewat dialog yang kuat, gerak tubuh para aktor, tata cahaya dramatis, serta penghayatan mendalam para pemain. Tepuk tangan penonton sekali-sekali pecah ditengah pertunjukan, yang menandakan mereka menikmati pertunjukan itu.
Dan ketika pementasan usai, tepuk tangan panjangpun kembali pecah menandai kekaguman penonton terhadap sajian teater yang sarat makna sejarah itu.
Rektor Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Fadillah Sabri, menegaskan pentingnya mengenalkan sejarah Batin Tikal kepada generasi muda.
“Tahun 1983 saya pernah memerankan Batin Tikal saat masih SMP. Saat itu belum banyak siswa mengenalnya. Karena itulah pada tahun 1986 drama Batin Tikal kembali kami tampilkan saat mengikuti Jambore Nasional di Cibubur, Jakarta,” ungkapnya penuh semangat.
Ia berharap semangat perjuangan yang ditampilkan sore itu dapat membangkitkan kesadaran generasi muda agar lebih mengenal sejarah bangsanya sendiri.
“Hari ini Batin Tikal hadir di tengah-tengah kita membawa semangat perlawanan yang dikemas begitu baik. Saya berharap generasi muda mampu terus menggaungkan sejarah bangsanya sendiri,” lanjutnya.
Pertunjukan “Kuasa Simbolik Rambut Keramat Batin Tikal” bukan sekadar seni pertunjukan. Teater ini menjadi pengingat tentang perjuangan rakyat Bangka melawan kolonialisme di tanah yang kaya akan timah, tetapi hasil kekayaannya justru lebih banyak dirampas bangsa asing daripada dinikmati rakyatnya sendiri.
Mewakili Wali Kota Pangkalpinang, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Setdako Pangkalpinang, Agustu Apendi, menyampaikan rasa bangga dan harunya terhadap pementasan tersebut. Bahkan, di tengah sambutan, ia tampak beberapa kali menahan haru.
“Batin Tikal merupakan bagian penting dari sejarah Bangka Belitung yang harus terus dijaga. Kami sangat berterima kasih kepada Ibu Rita Zahara dan seluruh tim yang telah menghidupkan kembali kisah perjuangan beliau melalui pementasan ini,” ujarnya.
Ia juga berharap perjuangan Batin Tikal suatu hari dapat memperoleh penghormatan lebih besar dari negara.
“Kami berharap Batin Tikal suatu saat dapat dianugerahi gelar pahlawan nasional,” tambahnya.
Di antara penonton yang hadir, tampak pula seorang guru dari SMA Negeri 1 Simpang Rimba, Kiki Saputra, yang rela datang dari Bangka Selatan demi menyaksikan pertunjukan tersebut.
Menurutnya, pementasan ini menjadi media yang sangat menarik untuk menggali sejarah lokal Bangka Belitung.
“Ini teater yang luar biasa. Sangat menarik untuk mengulik sejarah Bangka Belitung. Batin Tikal dikenal sebagai pejuang hebat yang memperjuangkan tanah Bangka dari penjajahan Belanda,” ungkapnya.
Sore itu, Gedung Sofyan Tsauri dipenuhi tepuk tangan dan sorak kagum penonton. Wajah-wajah puas terlihat jelas setelah pertunjukan berakhir.
Menjelang maghrib, pertunjukan pun usai.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama antara pemain, panitia, tamu undangan, dan penonton yang antusias mengabadikan momen langka tersebut. Kilatan kamera berkali-kali menerangi auditorium, sementara hujan di luar gedung masih setia turun, seakan ikut menjadi saksi kebangkitan kembali nama besar Batin Tikal.
Sore itu, Batin Tikal bukan hanya hadir sebagai sebuah pertunjukan teater. Ia menjelma menjadi jembatan yang mempertemukan sejarah, budaya, dan masyarakat Bangka Belitung, menghidupkan kembali semangat perjuangan Batin Tikal lewat bahasa seni yang menggugah hati.












