Puisi  

Ketika Karya Terlambat Tiga Menit

 

Karya: YIA

 

Pertemuan pembinaan, pemilihan pengurus baru,

di tengah kesibukan kabar datang menyapa:

lomba menulis sepuluh tokoh Bangka Tengah digelar,

aku memilih yang berbeda — Tjong Lian Soen, supir Bung Karno yang jarang disebut.

 

Sibuk seharian, baru menyusuri jejak saat sore menjelang magrib,

menemui Ace Foe, anak keempat yang sudah tua bertongkat.

Izin wawancara, memohon foto bukti penelitian lapangan,

waktu terus berlari, pendaftaran akan tutup pukul sebelas lewat lima puluh tiga menit malam.

 

Selesai shalat magrib, berangkat ke Engkong Cafe bersama kawan lama,

laptop terbuka, jari menari mengikuti juknis dan syarat lomba.

Data dan foto hasil riset satu per satu dimasukkan rapi,

namun di dalam hati bisik kecil berkata: tak mungkin terkejar, waktu terlalu sempit dan tipis.

 

Kalimat demi kalimat kususun dengan napas tertahan,

setiap detik terasa seperti jarum yang menusuk pelan.

Ingin semua cerita Tjong Lian Soen tersampaikan utuh,

supaya namanya tak lagi tersembunyi di balik sejarah yang bisu.

 

Malam makin larut, jam dinding terus berjalan tak kenal ampun,

tangan gemetar mengunggah berkas ke alamat e-mail panitia.

Berharap, memohon, semoga masih ada celah sedikit saja,

agar perjuangan ini tak berakhir sia-sia di ambang pintu.

 

Tiga menit saja hanya tiga menit setelah batas waktu lewat,

layar memberi tahu: pengiriman gagal, kesempatan sudah tertutup.

Tiga menit yang memisahkan antara harapan dan kekecewaan,

sekecil apa pun usaha, tak bisa memutar balik jarum jam.

 

Bukan berarti perjuangan ini hilang begitu saja,

meski tak masuk lomba, kisah Tjong Lian Soen tetap kutemukan.

Bahwa ada orang sederhana yang pernah mengantar sang Proklamator,

namanya pantas diingat, pantas dicatat dalam lembaran negeri.

 

Tiga menit terlambat mengajarkanku satu hal yang dalam:

sejarah tak selalu soal menang atau mendapat penghargaan.

Terkadang ia hanya soal kita berani mencari kebenaran yang terlupakan,

meski akhirnya hanya sampai di depan pintu, tak sempat masuk ke dalam.

Pkp, 15 Agustus 2026

Exit mobile version