Khutbah Idul Adha 1447 H : KETELADANAN DAN PEMBELAJARAN NABI IBRAHAMI AS

Oleh: Assoc. Prof. Dr. Drs. H. Saidun Derani, BA, MA

Khutbah Pertama :

اَلله اَكْبَر 3× ، اَلله اَكْبَر 3× ، اَلله اَكْبَر 3× اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرا والْحَمْدُ ِلله ِكَثِيرْاً وَّسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلاً ، لآ اِلهَ الاَّ الله وَالله ُاَكْبَر، اللهُ اَكْبَر وَلِله الْحَمْد.

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى اصْطَفَى اِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً ، وَجَعَلَهُ لِلنَّاسِ إِمَامًا. أشْهَدُ اَنْ لآ اِله الاّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه الْمَبْعُوْثُ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا ، وَصَلّى الله على سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِه بُكْرَةً وَاَصِيْلاً

امّا بَعْدُ : فَيَآ أيُّهَا النّاسُ رَحِمَكُمُ الله.. إتَّقُوااللهَ ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمُ اْلعِيدِ اْلاَكْبَر. قَدْ رَفَعَ اللهُ قَدْرَهُ وَاَظْهَرَهُ وَسَـمَّاهُ يَوْمَ الْحَجِّ اْلاَكْبَرْ ، فَإِنَّ الله َاِبْتَلَى خَلِيْلَهُ اِبْرِهِيْمَ بِذَبْحِ وَلَدِهَ فَاَمْتَثَلَ اَمْرَهُ فِيهِ ، وَلِذَا سُمِّيَ يَوْمُ النَّحْرِ

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah swt yang sudah memberikan kenikmatan kepada kita; antara lain nikmat Iman dan Islam, nikmat sehat wal afiah, nikmat berkeluarga, sehingga dapat hadir untuk melaksanakan shalat Idul Adha 1447 H. Kehadiran kita pada solat Idul Adha di Perumahan Perdagangan ini bersamaan dengan kehadiran jutaan kaum Muslim melaksanakan ibadah haji dari seluruh dunia di tanah suci. Kemudian salam dan shalawat kita sampaikan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad Saw, keluarga, sahabat dan para pengikutnya sampai akhir zaman. Aamiin ya Allah ya Rabbal Alamiin.

اَلله اَكْبَر , اَلله اَكْبَر، اَلله اَكْبَر، وَلِله الْحَمْد

Kaum Muslim jamaah shalat Idul Adha yang dimulyakan Alllah swt

Hari ini kita mengenang kembali utusan Allah Nabi Ibrahim As dan keluarganya, di mana keagungan pribadi dan ketinggian akhlaknya menjadi pembelajaran bagi kita kaum Muslim yang beriman wabil khusus kaum muslim yang ada di Pamulang Timur, Tengsel. Allah Swt berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهْ

Artinya:”Sungguh ada pembelajaran yang baik bagi kalian pada Nabi Ibrahim As dan orang-orang yang bersamanya….(al-Mumtahanah: 4)

Dalam khutbah ini sekurang-kurangnya ada empat keteladanan (tentu masih banyak lagi keteladanan yang lain) yang bisa kita ambil hikmah dari kisah Nabi Ibrahim As dan keluarganya, baik bagi kita yang melaksanakan shalat Idul Adha sekarang maupun bagi kaum Muslim yang sedang melaksanakan ibadah haji di tanah suci Haramain.

Kata keteladanan mengandung makna suatu hal yang dapat ditiru atau dicontoh. Jadi yang mau kita ambil, yang mau kita tiru dari Nabi Ibrahim As dan zurriyatnya adalah kegiatan, kelakuan, sifat serta karakteristik mereka sehingga dapat dijadikan rujukan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari untuk mendapatkan kebahagiaan dan keberkahan dunia Akhirat.

Apalagi sekarang ini kondisi bangsa kita sedang mengalami masa-masa sulit, antara lain masalah kelebihan penduduk (booming demografis), masalah pengangguran, PHK, persoalan kemiskinan (iman dan asset), rendahnya Indeks SDM Indonesia sehingga sangat sulit bersaing dengan negara tetangga dan negara maju, persoalan perumahan, lingkungan hidup yang mulai memburuk udaranya, sikap dan gaya hidup sebagian besar masyarakat yang hedon dan tak mengapa tekor yang penting asal kesohor, lemahnya penegakan hukum, serta rendahnya akhlak sebagian besar elite pemimpin NKRI.

Pertama, kita menyadari bahwa suatu keharusan memperhatikan sungguh-sungguh terhadap pembinaan generasi muda yang dapat meneruskan perjuangan kita sebagai orang tua dan pengembangan masyarakat. Perhatikan ketika Nabi Ibrahim As semakin tua, beliau begitu kuat ingin mendapatkan keturunan untuk meneruskan tugasnya menyampaikan Risalah Allah swt. Dan doanya dikabulkan maka lahirlah Nabi Ismail As dari Rahim Siti Hajar.

Kaum Muslimin Jamaah Shlat Idul Adha yang dimulyakan Allah swt

Kita menyadari bahwa anak merupakan anugrah sekaligus amanah. Dikatakan anugrah karena kita tidak bisa menciptakan anak. Kita hanya sebagai sebab lahirnya anak. Tidak sedikit orang menginginkan anak akan tetapi tidak juga mendapatkannya sungguh pun sudah lama didambakan. Persolan anak ini kita hanya sebatas dititipkan Allah Swt. Dalam konteks inilah kita wajib mensyukuri kehadiran anak apa pun jenis kelaminnya.

Kaum Muslim, anak sebagai amanah kewajiban orang tua mendidiknya dengan baik dan benar. Sebagai contoh bagaimana Siti Hajar mendidik Ismail putranya yang disimbolkan dalam pelaksanaan ritual ibadah haji aktivitas Sa’i dan tempat Hijr Ismail. Dalam konteks ini Islam memandang sangat penting pendidikan, terutama pendidikan usia dini. Sedangkan pendidikan usia dini terkait dengan wajib menguasai ilmu berumah tangga sebagai persiapan memasuki jenjang pernikahan. Demikianlah kaum Muslim, untuk melahirkan keturunan yang baik pastilah ada ilmunya. Akan tetapi kenyataan di masyarakat, kita masih menemukan ada sebagian orang tua menikahkan anaknya hanya sebatas melepaskan tanggungjawab sebagai orang tua tanpa persiapan yang memadai, baik persiapan ilmu agama dan ilmu dunia.

Dalam hubungan inilah kaum Muslim, pentingnya koordinasi di lingkungan tempat tinggal semacam kompleks atau di perkampungan misalnya yang perlu mendapat perhatian serius. Bukankah kasus-kasus kenakalan anak remaja mulai dari pencurian, NAZA, penyimpangan seksual adalah masalah-masalah yang kuat diduga bersumber dari miss manajemen rumah tangga serta leadership di masyarakat. Kata kuncinya adalah melahirkan anak solih berawal dari kedua orang tuanya yang solih terlebih dahulu dan lingkungan yang solihah pula.

اَلله اَكْبَر , اَلله اَكْبَر، اَلله اَكْبَر، وَلِله الْحَمْد

Kedua, kewajiban haji seumur hidup hanya sekali setiap Muslim yang mampu. Substansi atau hakikat pelaksanaan haji adalah menjauhi semua perilaku negatif dan mengerjakan segala hal yang positif. Dalam konteks ini, bagi kita yang tidak melaksanakan ibadah haji disunnahkan Puasa Arafah, yang pahalanya kata Nabi Muhammad Saw menghapuskan dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.

Demikianlah kaum Muslim, icon ibadah haji secara keseluruhan adalah taqwa, yang terdiri dati tiga huruf Ta, Qaf, dan Wau. Huruf Ta dimaknai dengan Taqarrub Ilallah, yaitu selalu merasakan kehadiran Allah dalam diri pribadi sehingga ada pengawasan melekat kapan dan di mana saja kita berada. Huruf Qaf dimaknai dengan Qana’ah, yaitu suatu sikap jiwa yang merasa cukup dengan apa yang Allah berikan kepada kita. Sedangkan huruf Wau dimaknai dengan Wara’ yaitu sebuah keyakinan yang mantap dalam sikap hidup bahwa dunia memang kita butuhkan tetapi kita sendiri tidak dipermainkan dunia (hubbud dunya karaha al-maut). Allah swt berfirman:

اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ، فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ ، وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ ، وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰى، وَاتَّقُوْنِ يٰاُولِى الْاَلْبَابِ. (سورة البقرة :197)

Artinya:”Haji itu dilaksanakan pada bulan tertentu. Maka itu siapa saja melaksanakanya janganlah berkata kotor, bermaksiat, dan berkonflik. Bawalah bekal akhirat dan sebaik-baik bekal adalah ketaqwaan. Bertaqwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal sehat.” (al-Baqarah: 197)

Jamaah shalat Idul Adha yang berbahagia

Berdasarkan penjelasan ayat di atas bahwa seseorang yang berprilaku negatif, baik perkataan, sikap, dan cara berfikirnya negative thinking, hal ini mengisyaratkan bahwa jiwanya yang sedang sakit. Kayak bangsa kita yang lagi sakit sekarang ini contohnya. Dalam konteks inilah di mana kondisi keluarga, masyarakat, dan bangsa kita mengalami kesulitan sebagaimana yang telah khotib disebutkan di atas sudah seharusnya ketaqwaan, keimanan semakin diperkuat dan ditingkatkan. Bukan sebaliknya.

اَلله اَكْبَر , اَلله اَكْبَر، اَلله اَكْبَر، وَلِله الْحَمْد

Kaum Muslimin Jamaah Solat Idul Adha yang disayang Allah

Pembelajaran ketiga yang dapat kita ambil dari kisah kehidupan Nabi Ibrahim As adalah konsistensi menegakkan kebenaran Ilahi. Istiqamah sikap hidupnya dalam melaksanakan perintah Allah Swt apa pun situasi dan kondisi yang dihadapinya. Dalam surat al-Anbiya ayat 56-58 dijelaskan bahwa beliau diusir dari kotanya dan dibakar hidup-hidup karena persoalan konsistensinya mengajak masyarakat mentauhidkan Allah. Lalu beliau diperintah Allah menyembelih anaknya Ismail As yang nantinya disimbolkan dalam ibadah sunnah Qurban yang sekarang kita laksanakan sebagai tali sambung: asah, asih dan asuh antara si miskin dan si kaya, antara yang the have dan the have not.

Dalam konteks inilah Jamaah shalat Idul Adha bahwa pentingnya sikap istiqamah dalam kehidupan berkeluarga, istiqamah bermasyarakat, dan istiqamah berbangsa. Karena kita masih menemukan di masyarakat bahwa ketika usia muda sangat kuat menentang kezaliman dan ketidakadilan, akan tetapi ketika diberi amanah memegang jabatan publik, seperti jabatan Presiden, Menteri, Gubernur, Walikota, Bupati, dst., justru sebaliknya melakukan kezaliman dan ketidakadilan yang akhirnya berujung masuk jail/penjara. Inilah Kaum Muslim yang perlu diingat dan perlu diwaspadai bahwa luar biasa godaan 3 T; tahta, harta, dan wanita.

اَلله اَكْبَر , اَلله اَكْبَر، اَلله اَكْبَر، وَلِله الْحَمْد

Jamaah Shalat Idul Adha yang dimulyakan Allah

Keempat, pembelajaran yang dapat diambil dari Karakteristik Nabi Ibrahim As adalah sangat berhati-hati terhadap godaan syaitan. Surat al-Baqarah ayat 208 mengingatkan kita bahwa “Jangan mengikuti langkah-langkah syaitan karena syaitan ini musuh yang nyata”.

وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّه لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ. (سورة البقرة :208)

Inilah makna kegigihan Siti Hajar melawan syaitan yang disimbolkan dengan “melontarkan jumrah”.

Dalam hubungan ini mengapa Islam begitu menekankan kepada para pemeluknya supaya dalam segala aspek kehidupan untuk selalu berlindung kepada Allah Swt dari godaan Iblis dan anak buahnya. Perhatikan dialog Iblis cs di bawah ini yang dipatrikan dalam surat Ibrahim, ayat 22;

وَقَالَ الشَّيْطٰنُ لَمَّا قُضِيَ الْاَمْرُ اِنَّ اللّٰهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُّكُمْ فَاَخْلَفْتُكُمْ، وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِّنْ سُلْطٰنٍ اِلَّا اَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِيْ فَلَا تَلُوْمُوْنِيْ وَلُوْمُوْا اَنْفُسَكُمْ، مَا اَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا اَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ، اِنِّيْ كَفَرْتُ بِمَا اَشْرَكْتُمُوْنِ مِنْ قَبْلُ ،اِنَّ الظّٰلِمِيْنَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ. (سورة إِبراهيم :22)

Artinya:”Pasca hisab dilaksanakan Iblis berkata bahwa Allah telah menjanjikan kepada kalian sebuah janji yang benar. Saya (Iblis) juga memberi janji, akan tetapi saya sendiri mengingkarinya (janji). Sebenarnya saya tidak ada kekuasaan terhadap kalian, melainkan hanya sekedar mengajak (merayu) supaya kalian mengikuti ajakan saya. Sebab itu, kalian jangan salahkan saya, akan tetapi salahkanlah diri kalian sendiri karena kebodohan kalian. Saya tidak dapat menolong kalian dan kalian juga tidak dapat menolong saya. Sebenarnya saya tidak membenarkan kelakuan kalian mempersekutukan saya dengan Allah swt sejak dulu. Sungguh orang-orang yang zalim mendapat siksa yang pedih.”

Luar biasa Iblis memberi PHP (Pemberi Harapan Palsu) untuk menyesatkan umat manusia supaya menjadi temannya di Neraka Jahannam. Kayak Benyamin Netanyahu dan Donald Trump maunya nyalahin negara lainnya saja.

Dari uraian khutbah di atas khotib menyimpulkan bahwa muara dari segala ritual ibadah haji di atas berpuncak pada pelaksanaan Shalat Idul Adha dan berqurban untuk mencapai tingkat ketaqwaan yang setinggi-tingginya bagi setiap muslim. Dalam konteks berqurban akan melahirkan sikap solidaritas antar sesama, antara yang punya dengan yang kagak berpunya. Dan Allah menjanjikan bagi muslim yang memiliki ketaqwaan akan diberikan keberkahan dan kemulyaaan hidup di dunia-akhirat.

Jamaah Shalat Idul Adha yang dimulyakan Allah,

Mengakhiri khutbah ini ada sebuah alat ukur untuk mengetahui apakah kita sudah memiliki ketaqwaan dan keberimanan yang mantap dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana yang dimaksud dengan mengambil pembelajaran dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim As dan keluarganya di atas. Jawablah pertanyaan Allah swt/Alquran di bawah ini;

Pertama, apakah kita semakin bertambah iman dan wawasan keilmuan dari hari ke hari (surat Mujadalah: 11, dan Thaha: 114)

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ (سورة مُـجَادَلَة :11)

رَّبِّ زِدْنِىْ عِلْمًا (سورة طه :114)

Kedua, apakah kita memiliki kemampuan atau skil menilai mana yang haq dan mana yang bathil (Anfal; 29)

يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ أَمَنُوْا إِنْ تَتَّقُوا ٱللَّهَ يَجْعَلْ لَّكُمْ فُرْقَانًا (سورة الأنْفَال :29)

Ketiga, apakah kita diberi jalan ke luar dari kesulitan hidup dan kehidupan serta dimudahkan segala urusan dunia-akhirat (Thalaq; 2 dan 4),

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهُ مَخْرَجًا (سورة الطلاق :2)

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهُ مِنْ اَمْرِهِ يُسْرًا (سورة الطلاق :4)

Keempat, apakah setiap yang kita butuhkan selalu ada dan rezeki datang dari sumber yang tidak bisa diduga-duga (Thalaq; 3)

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ (سورة الطلاق :3)

Kelima, apakah kita merasakan ada keberkahan dalam kehidupan (nahl 97)?

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ (سورة النحل :97)

Jika kelima pertanyaan di atas sebagai parameter atau ukuran ketaqwaan dan keberimanan dapat terjawab, insya Allah kita akan merasakan ketenangan hidup dan tersenyum menghadapi kematian yang pasti datangnya. Dan atau sebaliknya, jika belum terjawab kelima pertanyaan itu, khotib mengajak marilah Jamaah Shalat Idul Adha ini kita meningkatkan ketaqwaan dengan banyak beramal sosial, meningkatkan ilmu agama dan ilmu dunia dengan seikhlas-ikhlasnya (kerja ikhlas, kerja cerdas, kerja keras, dan kerja tuntas). Mari kita upayakan melaksanakan shalat wajib dengan berjamah di Masjid meramaikan rumah Allah swt. Kata kuncinya adalah totalitas atau profesional sebagai hamba Allah Yang Hanif.

Kesimpulan khutbah ini adalah bahwa lahirnya keresahan dan amuk sosial di masyarakat berawal dari ketidakharmonisan (miss management) kehidupan di rumah tangga.

Mohon maaf atas segala khilaf kata dan kekurangan dan kepada Allah kita mohon ampunan.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بـِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا ، فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah Kedua :

اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ،

اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً . لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ. اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَناَ أَنْ نُصْلِحَ مَعِيْشَتَنَا لِنَيْلِ الرِّضَا وَالسَّعَادَةِ، وَنَقُوْمَ بِالْوَاجِبَاتِ فِيْ عِبَادَتِهِ وَتَقْوَاهُ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.اَمَّا بَعْدُ

فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦوَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبٌ الدَّعَوَاتْ.  اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.  رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَالله,  اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.  وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَر.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *