Kisah yang Berceceran dari Buku-Buku

Oleh : Iyek Aghnia

 

Negeri ini lah tue. Setua Pertempuran Toboali. Dentuman bunyi suara senjata menggelegar. Menakutkan.

Lawang Uma warga terkunci rapat. Tak ada yang memberani membukanya. Tak ada pula yang mengetuknya.

Banyak kisah yang membuat penjajah banyak mati. Orang-orang Nyerupe. Senjata penjajah berhamburan ke udara. Salah sasaran. Tak ada yang mati.

Itulah Cerita-cerita Waktu Ku Kecil Dulu yang sering dikisahkan orang tua menjelang tidur.

Mereka, kaum penjajah kehabisan peluru sehingga dengan mudah Raden Keling dan anak bangsa menaklukkan mereka. Mereka Berani Bermimpi untuk merdeka. Merdeka adalah harga mati. Ini tentang martabat bangsa.

Penjajah kehilangan akal. Mereka menjadi Pembulak. Narasi mereka membumbung tinggi. Memaniskan hati warga. Laksana Asa Tak Bertepi.

Warga sudah cerdas. Tak tergiur cerita manis berbalut nafsu imperialis. Rakus kekuasaan. Itu adalah cerita Sang Usang. Cerita masa lalu. Kisah kuno. Keledai pun tidak akan terjatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Orang-orang kini, berkisah tentang indahnya Cinta Dibawah Tudung Saji. Seindah kisah Buk Rud yang merindukan kasih sayang dari pujaan hatinya.

Sebagaimana anak-anak yang mengatakan Ayah, Aku Rindu. Walaupun ada pula kaum muda yang mengatakan Aku Rindu pada kekasihnya sebagai Bidadari Kehidupan yang amat dcintainya. Walaupun bak Khayalan Dalam Untaian Kata.

Kepada orang yang dicintainya. Kepada istrinya yang disebutnya dalam Istighfarku adalah Cintaku. Entah kalau kepada pemimpinnya.

Goresan Tinta Pelajar terus diajarkan dari Sang Maha Guru Arunika di Kaki Gunung Muntai.

Seuntai Goresan Pena terus dibaca. Seiring Seputar Makna Kata, Peribahasa, Gaya Bahasa dan Paragraf  tertulis indah.

Apakah Matcagel memahaminya? Biarlah waktu yang menjawabnya? Atau kita tanyakan kepada Ikan Hemilang Sakti?

Salam literasi dari Negeri Junjung Behaoh. (BP/ KM)*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *