Penulis: Media Hestri, Belva Al Akhab dan Satrio
Bekaespedia.com, Tempilang,- Dentuman beduk menggema, membelah malam yang pekat. Di langit, percikan kembang api mekar seperti doa yang dilepaskan ke angkasa. Jalanan penuh sesak. Puluhan mobil bak terbuka mengangkut beduk, dihiasi cahaya warna-warni, membawa para pemuda yang bertakbir tanpa henti. Inilah wajah malam takbiran di Tempilang dengan suara riuh, hidup dan sarat makna spiritual dalam menyambut Idul Fitri 1447 Hijriah.
Kegiatan takbir keliling yang menjadi tradisi tahunan ini dipusatkan di halaman Kantor Camat Tempilang. Sejak sore hingga larut malam, masyarakat dari berbagai penjuru desa berkumpul. Mereka datang tidak sekadar merayakan, tetapi juga merawat identitas kolektif sebagai umat dan sebagai warga daerah.
Camat Tempilang, Rusian, SKM, M.H., dalam sambutannya menegaskan bahwa takbir keliling bukan hanya seremoni, melainkan simbol kebersamaan dan kemenangan spiritual.
“Ini bukan sekadar tradisi tahunan. Ini adalah napas kebersamaan kita. Malam ini adalah malam kemenangan, bukan hanya karena kita telah menyelesaikan puasa, tetapi karena kita mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat Tempilang,” ujar Rusian, Jumat (20/03/2026).
Ia juga menekankan pentingnya menjaga ketertiban dalam euforia.
“Kita ingin kegembiraan ini tidak berubah menjadi risiko. Saya mengajak seluruh masyarakat, khususnya para pemuda, untuk tetap menjaga keselamatan, menghormati pengguna jalan lain dan menunjukkan bahwa Tempilang adalah daerah yang dewasa dalam merayakan tradisi,” tegasnya.
Lebih jauh, Rusian menyampaikan apresiasi kepada seluruh elemen yang terlibat.
“Terima kasih kepada masyarakat, panitia, aparat kepolisian dan seluruh pihak yang telah bekerja keras. Ini bukti bahwa jika kita bergerak bersama, maka kegiatan sebesar apa pun bisa berjalan dengan tertib dan penuh makna.” tambahnya.
Namun, lebih dari sekadar pernyataan formal, kehadiran Rusian di tengah kerumunan menyapa warga, berdiri di antara pemuda penabuh beduk menjadi simbol kepemimpinan yang hidup. Ia tidak hanya memimpin dari balik meja, tetapi hadir di denyut kehidupan masyarakat.
Asap kembang api menggantung di udara, menciptakan kabut tipis yang menyelimuti jalanan. Di atas mobil pickup, sekelompok pemuda memukul beduk dengan ritme yang liar namun serempak. Cahaya lampu LED membentuk siluet ornamen masjid mini yang diarak, berpendar di tengah gelap malam.
Di antara mereka, Rizki (23), salah satu peserta takbir keliling, mengaku bahwa momen ini adalah yang paling ia tunggu setiap tahun.
“Ini bukan cuma soal takbir, tapi soal kebersamaan. Kami dari kampung sudah menyiapkan beduk dan hiasan sejak beberapa hari lalu. Rasanya bangga bisa ikut meramaikan,” katanya sambil tersenyum.
Sementara itu, Siti (35), warga yang datang bersama keluarganya, mengungkapkan kesan berbeda.
“Anak-anak sangat senang. Mereka bisa melihat langsung suasana takbiran yang meriah. Tapi yang saya suka, suasananya tetap aman. Ada polisi, ada panitia, jadi kami merasa nyaman,” ujarnya.
Di sudut lain, seorang pemuda penabuh beduk, Andi (19), dengan wajah penuh keringat, berkata dengan penuh semangat:
“Capek, tapi puas. Ini tradisi kita. Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?”
Makna Sosial di Balik Tradisi
Fenomena ini, dalam kajian sosiologi, bukan sekadar ritual, melainkan bentuk “ritual kolektif yang memperkuat solidaritas sosial.” Seperti yang diungkapkan oleh Émile Durkheim, ritual bersama menciptakan collective effervescence dengan ledakan emosi bersama yang memperkuat ikatan komunitas.
Dalam konteks Tempilang, ledakan itu tampak nyata dalam gema takbir, dentuman beduk dan wajah-wajah yang larut dalam euforia religius.
Namun, di balik gemerlapnya malam takbiran, terdapat realitas yang tak bisa diabaikan. Kepadatan massa, penggunaan kendaraan terbuka, hingga petasan dan kembang api menyimpan potensi risiko.
Rusian menyadari hal tersebut, dan secara terbuka menyampaikannya.
“Saya tidak menutup mata terhadap potensi risiko. Justru di sinilah pentingnya kesadaran kolektif. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kita butuh kedewasaan masyarakat untuk menjaga diri dan lingkungan,” ujarnya.
Beberapa warga juga mengakui bahwa pengaturan arus kendaraan masih menjadi tantangan. Namun mereka menilai upaya yang dilakukan sudah jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Apa yang terjadi di Tempilang malam itu bukan hanya perayaan, tetapi juga panggung sosial sebagai tempat di mana kepemimpinan diuji dan citra dibangun.
Rusian, dengan gaya komunikasinya yang inklusif, memposisikan diri sebagai figur pemersatu.
“Jabatan hanyalah amanah. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa hadir di tengah masyarakat, mendengar mereka, dan berjalan bersama mereka,” ucapnya.
Dalam bahasa komunikasi politik, ini adalah bentuk soft power leadership untuk membangun pengaruh melalui kedekatan emosional, bukan sekadar otoritas struktural.
Ucapan-ucapan yang ia lontarkan, kehadiran fisiknya di tengah masyarakat, serta keterlibatannya dalam kegiatan, menjadi bagian dari strategi membangun kepercayaan publik.
Takbir keliling di Tempilang adalah bukti bahwa di tengah arus modernisasi, tradisi lokal tetap hidup.
Dari mobil pickup sederhana hingga ornamen masjid mini bercahaya, dari anak-anak hingga orang tua semua terlibat dalam satu narasi besar untuk merayakan kemenangan setelah Ramadan.
Di tengah narasi itu, suara Rusian kembali terdengar, menutup malam dengan pesan yang sederhana namun kuat:
“Selama kita masih menjaga kebersamaan, selama kita masih menghargai tradisi, maka Tempilang akan selalu hidup bukan hanya sebagai wilayah, tetapi sebagai rumah bagi kita semua.” tutupnya.
Ketika malam semakin larut dan gema takbir mulai mereda, yang tersisa bukan hanya jejak kembang api di langit, tetapi juga jejak makna di hati masyarakat.
Malam itu, Tempilang bukan sekadar ramai. Ia hidup.
Di tengah kehidupan itu, seorang camat berdiri bukan hanya sebagai pejabat, tetapi sebagai simbol harapan akan kepemimpinan yang hadir, yang mendengar, dan yang mampu menyatukan.
Takbir keliling pun usai. Namun narasi tentang kepemimpinan, tradisi dan kebersamaan akan terus bergema, bahkan setelah gema beduk terakhir menghilang di udara malam.
