Langit Yang Bicara Lewat Jemari (Catatan Seorang Tunawicara)

Dwikki Ogi Dhaswara

Ilustrasi

Bekaespedia.com_Di suatu kota yang amat megah, di mana atap-atapnya menjulang tinggi bagai angan para raja. Lampu-lampu jalannya bersinar laksana kunang-kunang yang terkurung dalam tabung kaca. Tersebutlah seorang lelaki duduk termangu di anjung rumah, duduk di kursi kayu reyot dimakan usia.

Seumur hidupnya ia tinggal dalam sunyi. Bukan sunyi yang ia pilih, melainkan sunyi yang diwariskan oleh takdir. Lidahnya kelu, tak dapat menuturkan sepatah kata pun sejak mula ia mengenal dunia.

Sejak ia kecil, ia hidup dalam dunia tak bersuara, bagai hidup dalam tempurung kaca yang tak dapat ditembus oleh seruan atau tawa.

Ia menatap dunia penuh harap, namun dunia kerap melangkah melewatinya.

Orang-orang di sekelilingnya lalu-lalang, bersapa dan bersahut, namun tak seorang pun mencoba memaknai isyarat matanya, atau membaca getar-getar kecil pada jemarinya yang ingin menyampaikan maksud hati.

Ia hidup bagai bayang-bayang di tengah hari. Nampak ada, tetapi tak pernah benar-benar dianggap hadir. Hari-harinya dijalani dalam sepi yang tak bertepi. Ia hanya berteman bagi dedaunan yang gugur, menjadi sahabat bagi cahaya mentari yang merayap pelan ke lantai rumahnya.

Di kala itu, waktu sedang menggantung malas dan langit seperti menanti sesuatu. Hatinya digelitik rasa yang tak bernama, sebuah bisikan halus bahwa ada yang harus ia lakukan.

Tangannya, yang selama ini terlipat diam, perlahan menjangkau sebatang pena bambu, yang telah lama tersimpan dalam kotak kayu berukir burung serindit. Ditariknya selembar kertas usang dari bawah tumpukan buku-buku tua milik ayahnya.

Jantungnya berdebar, bukan karena takut, tetapi karena harap. Ia ingin menulis, bukan karena ia pandai, melainkan hanya ingin dikenang sebagai seseorang yang pernah merasa, merasakan apa yang pernah ia rasa.

Tulisannya tak rapi. Huruf-hurufnya bagai anak rusa baru belajar berlari. Kadang goyah, kadang patah. Namun ia terus menulis. Ia menulis bukan untuk dibaca orang, melainkan agar kesepiannya tak terkubur oleh waktu.

Maka bermulalah sebuah perjalanan waktu, dari sepi menuju makna, dari diam menuju daya. Ia menulis, meski tak sempurna. Namun, hanya dengan itu membuatnya dapat bicara.

Ini aku, Abhinaya.

Nama itu selalu kutemui, dan tertulis rapi di halaman depan buku kecil semasa aku bersekolah. Aku masih ingat, buku itu bersampul biru tua, sudah mulai mengelupas di sudut-sudutnya.

Ibuku adalah orang yang sering menuliskan namaku di sana, berulang-ulang, seolah ingin menegaskan bahwa aku ada, bahwa aku nyata.

Di bawah namaku yang ia ukir dengan pena hitam, selalu tertera satu kata pendek, namun besar maknanya, SEMANGAT. Katanya, namaku dengan tulisan itu bermakna sama.

Pada awalnya aku bingung, namun ibu selalu berkata, bahwa aku harus menjadi anak yang kuat, walau sendiri.

Sejak masih anak-anak, aku sudah tahu bahwa aku berbeda. Suaraku tak pernah sampai ke udara, dan hanya telingaku yang mampu mendengar dunia sebagaimana orang lain mendengarnya.

Ibuku, dengan kelembutannya yang tak terbeli oleh waktu, menjadikan kekuranganku ladang kekuatan. Ia menenun harap dalam tiap bisikan, mengajarkanku bahwa diam bukan kekalahan, dan sunyi bukan kehampaan.

Setiap pagi, saat embun masih menetes dari pucuk-pucuk daun, semesta masih berbisik pelan. Rumput-rumput di halaman tersusun rapi, disisir lembut oleh tangan ayahku, tangan yang keras oleh kerja, namun penuh kasih, sebelum ia melangkah pergi, menjemput rezeki sebagai buruh harian.

Ayahku tak banyak bicara, bahkan kadang hanya menepuk pundakku pelan. Namun aku tahu, di balik peluh yang menetes di dahinya, tersimpan kasih sayang yang tak terucap.

Di hari-hari yang tenang, aku lebih sering bermain sendiri. Anak-anak sebayaku lebih senang berteriak dan berlari. Aku selalu melihat mereka dari kejauhan. Mereka menganggap aku aneh, aneh tak pernah menyahut, aneh karena sering menatap langit dan berbicara dengan jari-jemari.

Hehehe…. ya inilah aku. Aku memang bisu, namun bukan berarti aku tak mampu bersuara. Tanganku tahu bagaimana menulis. Jiwaku tahu bagaimana menyusun kata.

Orang tuaku menyekolahkan aku di tempat yang jauh dari hiruk pikuk. Di sanalah aku belajar membaca dunia dengan mata dan tangan. Sekolah itu lambat laun menjadi rumah keduaku, tempat aku mengenal beberapa anak-anak lainnya, ternyata ada yang sama sunyinya denganku.

Dibalik tembok sunyi itu, kami berbagi tawa tanpa suara, saling menguatkan meski sering dipandang sebelah mata. Tak jarang, ada di antara kami yang harus berhenti melangkah karena luka yang tak terlihat.

Namun kami tahu, harapan tak boleh turut bungkam, maka kami harus tetap melangkah, meski perlahan, dengan semangat yang tak pernah kehilangan arah.

Di sekolahku, aku hanyalah seorang anak yang biasa-biasa sahaja. Tidak berpakaian mewah, tidak pula bekendaraan elok seperti anak-anak kota lainnya. Iuran sekolahku pun kerap tertunda.

Tiap kali sang guru memanggil namaku, dalam daftar yang belum lunas, hatiku pecah dalam diam, air mataku menetes bukan karna aku malu, melainkan aku tahu betapa susah payah ayah bekerja dengan tubuh yang mulai ringkih.

Aku menangis, tapi tanpa suara. Tangisku hanya dapat kulukiskan pada dinding hati, dan kadang tumpah di atas halaman buku lusuh. Namun, ayahku selalu saja menepuk pundakku dan memberi senyum yang tak pernah gugur.

“Belajarlah dengan tekun, Nak,” ucapnya.

“Semangatmu lebih kuat dari suara siapa pun di dunia ini.”

Aku berusaha mengejar ketertinggalan bukan dengan kata-kata, melainkan dengan rajin belajar dan sabar menuntut ilmu.

Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku berhasil menjadi siswa yang berprestasi. Sekolah memudahkan langkahku. Bukan karena aku hebat, tapi karena keluargaku adalah tiang semangatku.

Namun, seperti segala yang tumbuh lalu dewasa, tibalah saatnya pertemuan kami terbungkus waktu. Setelah kelulusan, satu per satu  sahabatku menjelma bayang, menghilang perlahan dalam jejak hidup yang tak lagi bersisian. Kenangan kami tertinggal di lorong-lorong sekolah, bagai bisik angin yang tak pernah benar-benar pergi.

Dan kini… aku kembali sendiri.

Tak lama berselang, ayahku jatuh sakit. Tubuhnya melemah, dan wajahnya tak setegar biasanya. Hatiku disergap cemas, aku tergopoh menelusuri penjuru kota, mencari penawar untuk rasa sakit yang tak kutahu namanya.

Aku mencoba bertanya dengan isyarat, namun tiada yang paham. Tanganku menggeliat ke sana ke mari, namun mata mereka memandangku seolah aku makhluk dari dunia lain.

Saat itu juga, aku memutuskan, aku harus menulis.

Aku selalu terbayang akan wajah-wajah mereka yang selalu mencemoohku. Gerak jemari mereka yang menyilang di keningnya. Tanda ejekan, sepertinya aku dianggap gila. Mereka tak tahu, bahwa dalam diamku tersimpan lautan rasa yang lebih dalam dari segala tawa mereka.

Dan ibuku, lagi-lagi selalu saja tak henti-hentinya menyalakan cahayanya. Senyumnya, meski telah disentuh usia dan keriput waktu, selalu membuat hari-hariku berbunga. Tak ada yang bisa menghapus semangat itu dari jiwaku, selagi ibuku masih mendoakan dalam setiap sujudnya.

Hehehe….

Ohhh.. ya, esok adalah hariku, hari yang telah lama kusematkan dalam pelukan harap.

Aku akan menghadiri wawancara pekerjaan, di perpustakaan megah yang berdiri anggun di jantung kota yang berkilau. Aku tak tahu di mana aku akan ditempatkan. Tapi aku tahu satu hal, aku bisa.

Aku harus bisa membanggakan orang tuaku.

Dunia ini tidaklah mutlak milik mereka yang lantang bersuara. Dunia juga adalah milik kami yang sunyi, tapi tetap melangkah. Kami tidak meminta dikasihani, hanya dimengerti.

Bagi teman-temanku yang berada diluar sana, yang juga mengalami hal yang serupa denganku, teruslah berjalan. Jangan menyerah hanya karena suara tak keluar dari mulutmu, sebab jemarimu bisa menjadi pena kehidupan.

Dan kepada para orang tua ataupun keluarga mereka  yang dianugerahi anak seperti kami, jangan tutup hati kalian. Berilah semangat, bukan kesedihan, apalagi cemoohan. Karena yang indah tak selamanya tentang langit cerah, awan mendung pun punya syair, dan angin yang bergoyang membawa nyanyiannya sendiri.

Ehh..  ternyata telah sampai  di sini titian jemariku menari. Akankah kisah ini akan bersambung? Hehehe…

Biarlah esok yang akan menjawabnya. Semoga rahmat sehat dan bahagia senantiasa menyertai tiap detik  di kehidupan kita.

Dengan menulis kita mengenang, dengan tulisan kita dikenang.

Wassalam..

1 Mei 1998

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *