Oleh : Aisyah Ayudia Inara (Siswa SDN 11 Koba)
Suatu hari, seperti biasanya aku datang ke sekolah dengan semangat. Guru-guru menyambut kami di gerbang dengan penuh kehangatan. Bel masuk berbunyi, kami kelas 4b sedang belajar pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Sosial. Bu Eni menjelaskan tentang bahaya sampah plastik. la bercerita tentang sungai yang tersumbat dan menyebabkan banjir. Bu Eni menunjukkan gambar seekor penyu yang terjebak plastik.
“Kita mungkin merasa sampah itu kecil,” kata Bu Eni lembut. “Tapi jika semua orang berpikir begitu, bumi akan menanggung akibatnya.”
Aku terdiam. Kata-kata itu seperti mengetuk hatiku.
Bel istirahat berbunyi, halaman sekolah kami seperti lautan kecil yang penuh warna. Bukan warna bunga melainkan warna-warni bungkus plastik. Hujan semalam membuat sampah-sampah itu menempel di tanah yang becek. Genangan air terbentuk di mana-mana dan beberapa plastik tersangkut di akar pohon ketapang besar di halaman. Aku berdiri melihat pemandangan itu dengan hati yang terasa sesak.
“Kalau bukan kita yang menjaga bumi, siapa lagi?” gumamku pelan.
“Ih, bau banget!” seru Raka sambil menutup hidungnya.
“Tenang saja nanti juga dibersihkan Bu Amel,” jawab Dewi santai.
Aku menatap mereka dengan tatapan yang tajam. Mengapa semua mengeluh? “Bukankah ini sekolah kami?” tanya ku dalam hati.
Bel masuk berbunyi nyaring. Kami berlari ke kelas namun pikiranku tetap tertinggal di halaman yang kotor itu. Saat jam istirahat kedua tiba aku mengambil sapu dari belakang kelas. Tanpa berkata apa-apa aku mulai menyapu sudut terdekat.
“Kamu lagi ngapain, Aisyah?” tanya Raka heran.
“Lagi bersihin sampah,” jawabku singkat.
“Itu kan tugas penjaga sekolah,” katanya lagi.
Aku berhenti menyapu dan menatapnya. Kemudian Raka mengambil sapuku dan mendorongku ke tanah. “Brakkk!” aku menangis kesakitan.
“Kenapa sih Raka jahat banget!” aku berkata sambil menangis.
Lalu datanglah Queen dan teman-temannya. Kemudian Raka berlari ketakutan dan melepas sapunya.
“Kamu lagi ngapain Aisyah?” tanya Queen.
“Lagi bersihin sampah,” jawabku singkat.
“Aku boleh bantu kamu gak?” katanya lagi.
“Boleh-boleh aja sih,” aku tersenyum.
Kemudian Queen mengambil sapu dari belakang kelas. Mereka mulai menyapu sampai bersih dan mengambil sampah yang becek di bawah pohon ketapang.
Angin berhembus pelan membuat sampah-sampah itu terbang seperti mengejek usahaku.
Setiap selesai istirahat bungkus plastik makanan kembali berserakan. Aku sering merasa lelah, bukan karena menyapu tatapi karena merasa sendirian.
Sepulang sekolah aku menceritakan semuanya kepada ayah. Ayah tersenyum dan berkata, “Perubahan besar selalu dimulai dari perubahan yang kecil dan jangan menyerah hanya karena belum ada yang ikut membantu.”
Malam itu aku berpikir keras bagaimana caranya agar aku bisa menerapkan apa yang telah kami pelajari dari Bu Eni.
Keesokan harinya, aku membawa dua kardus bekas dari rumah dan kutulis dengan spidol warna biru dan hijau yang bertuliskan sampah organik dan sampah anorganik. Bu Eni melihat apa yang kubawa dengan heran. la pun bertanya, “Untuk apa kardus itu, Aisyah?”
Aku pun menjawab, “Kardus ini akan aku dan teman-teman gunakan untuk mengumpulkan sampah berdasarkan jenisnya bu.”
Lalu Bu Eni bertepuk tangan dan dilanjutkan tepuk tangan dari teman-teman. Kami mendapatkan ilmu dari Bu Eni mulai dari bahaya sampah,
untuk lingkungan serta cara-cara agar sampah bisa dimanfaatkan. Kami pulang ke rumah dengan semangat dan mempersiapkan pembelajaran hari esoknya.
Malam itu aku berpikir dan bertanya, “Kenapa ya halaman sekolah kami penuh dengan sampah plastik?”
Ayah pun menjawab, “Karena bungkus makanan kalian dibuang sembarangan, maka dari itu kita harus membuang sampah berdasarkan jenisnya.”
Kemudian aku pun tertidur sendirian di kamar. (BP / KM)*
Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Koba Tahun 2026 cabang menulis cerita.












