Laporan : Belva
Bekaespedia.com, Mentok, Bangka Barat, -Malam di Rumah Dinas Bupati Bangka Barat seakan menahan napas. Angin laut dari Tanjung Kalian berhembus perlahan, membawa aroma asin dan kelembapan yang menyusup di antara cahaya lampu taman. Di bawah langit yang bertabur bintang, kopi hitam mengepul di cangkir, dan tawa kecil menyelusup di sela percakapan pejabat Forkopimda.
Selasa (28/10/2025) malam itu bukan sekadar malam seremonial. Ia adalah malam penuh rasa tentang perpisahan dan penyambutan, tentang penghargaan dan harapan. Sebuah malam di mana kehangatan antar insan pemerintahan berbaur dengan rasa hormat terhadap pengabdian.
Acara lepas sambut Kepala Kejaksaan Negeri Bangka Barat berlangsung dengan kesederhanaan yang berkelas. Tak ada panggung megah, tak ada sorot lampu berlebihan, hanya wajah-wajah yang saling mengenal dalam perjuangan dan kebersamaan menjaga marwah negeri Sejiran Setason.
Bupati Bangka Barat berdiri di tengah halaman rumah dinas dengan suara yang lembut namun tegas. Ia membuka sambutan dengan rasa syukur, seolah ingin menyampaikan bahwa di balik setiap pergantian jabatan, ada denyut kehidupan birokrasi yang terus berjalan, penuh makna dan tanggung jawab.
“Selama masa kepemimpinan Bapak Bayu Sugiri, begitu banyak koordinasi dan komunikasi yang telah dibangun bersama pemerintah daerah dan berbagai pihak lainnya,” ujarnya dengan nada haru. “Beliau bukan hanya rekan kerja, tetapi sahabat yang menjaga harmoni dalam kebersamaan.”
Nama Bayu Sugiri, S.H., M.H., disebut dengan nada penuh penghormatan. Dalam dua tahun masa kepemimpinannya, ia dikenal bukan sekadar seorang jaksa, melainkan sosok yang merangkul, membimbing, dan menegakkan hukum dengan rasa.
“Beliau berhasil menangani berbagai perkara pidana, perdata, dan tata usaha negara di Kabupaten Bangka Barat,” lanjut Bupati, “dan lebih dari itu, beliau telah menjaga kepercayaan masyarakat dengan kerja yang sunyi tapi nyata.”
Lalu mikrofon berpindah ke tangan Bayu Sugiri. Saat itu, angin laut seperti ikut mendengarkan. Wajah-wajah di hadapannya menatap penuh makna, seakan ingin merekam setiap kata yang akan keluar dari bibirnya.
“Selama saya bertugas di sini,” ucapnya perlahan, “saya belajar bahwa kekuatan Bangka Barat bukan semata pada sumber daya alamnya, tetapi pada solidaritas antar insan yang mengabdi untuk negeri ini.”
Ia berhenti sejenak. “Penyelamatan aset daerah, baik berupa tanah, bangunan, maupun sumber daya alam seperti timah, hanya mungkin terlaksana karena dukungan dan kerja sama lintas lembaga. Saya hanya bagian kecil dari perjalanan besar itu.”
Tepuk tangan membahana lembut, tak hanya sebagai tanda hormat, tetapi juga rasa terima kasih. Dalam suaranya yang tenang, Bayu menegaskan kembali sesuatu yang sederhana namun berarti: “Sinergi Forkopimda Bangka Barat adalah benteng kokoh dalam menjaga marwah hukum dan keadilan di negeri Sejiran Setason.”
Lalu, giliran Ahmad Patoni, S.H., M.H., melangkah ke depan. Senyum ramahnya menyapa setiap mata yang menatap penuh rasa ingin tahu. Ia tak membawa janji muluk, hanya membawa kesungguhan untuk melanjutkan jejak yang telah ditinggalkan.
“Terima kasih atas sambutan yang luar biasa ini,” katanya dengan nada tulus. “Saya datang bukan untuk menggantikan sosok, tetapi untuk melanjutkan semangat yang telah ditanamkan oleh Bapak Bayu Sugiri. Beliau telah menunjukkan bagaimana kejaksaan dapat hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga penjaga kepercayaan masyarakat.”
Ahmad menatap sekeliling wajah-wajah yang sudah menjadi bagian dari satu keluarga besar. “Saya percaya, tanpa kolaborasi, penegakan hukum akan kehilangan rohnya. Mari kita bersama-sama mewarnai pemerintahan Bangka Barat dengan sinergi, kejujuran, dan semangat pelayanan. Forkopimda adalah keluarga besar, dan saya siap menjadi bagian di dalamnya.”
Malam itu berubah menjadi ruang penuh rasa. Pantun perpisahan mengalun pelan:
Kalau tidak karena unggas,
tidaklah rusak padi di sawah,
berpisah kita menjalani tugas,
silaturahmi kokoh takkan terpisah.
Dan pantun harapan menyambut kepemimpinan baru:
Sungguh harum kayu gaharu,
tak kalah dengan kayu cendana,
selamat mengemban amanah baru,
marwah dijaga, sinergi dibina.
Lampu halaman berpendar lembut, menerangi obrolan yang penuh tawa ringan. Di antara gelas kopi dan jabat tangan, ada rasa hangat yang sulit dijelaskan sebuah perasaan yang tumbuh dari kepercayaan dan saling menghormati.
Malam di Rumah Dinas Bupati itu menjadi saksi bahwa jabatan boleh berganti, tetapi nilai-nilai pengabdian tak akan pernah pudar. Di bawah langit Mentok yang tenang, Forkopimda Bangka Barat kembali meneguhkan satu tekad: menjaga negeri Sejiran Setason dengan marwah, kebersamaan, dan cinta yang tulus kepada tanah mereka.
Sebab pada akhirnya, keadilan dan persaudaraan bukan sekadar semboyan, melainkan denyut nadi kehidupan di Bangka Barat tempat hukum, pemerintahan, dan hati nurani berjalan berdampingan.












