Liburan Bersama Saudara

Karya: Ghaaziyatunnisa (SDN 2 Namang)

 

Libur sekolah telah tiba. Saat itu juga sedang musim buah-buahan. Kelekak milik kakek Zia ada pohon durian, manggis, rambutan , dan lain-lain. Saat itu buah durian sedang berbuah walaupun belum matang.

“Ayah, ayo kita ke kelekak!” ajak Zia

“Durian belum matang, Zia!”

“Zia ingin melihat buah durian, Yah!”

Tanpa basa – basi ayah langsung menghidupkan motornya. Tak lupa parang di bawa. Kelekak di Mengkanau berjarak 5 km dari kampung. Kelekak itu bekas kebun  kakek Zia dulu. Saat tiba di kelekak ayah langsung  memarkirkan motornya.

“Zia lihat buah durian masih kecil!”

“Berapa lama buahnya matang, Yah?”

“Sekitar tiga bulan lagi!”

“Nanti kalau buahnya sudah matang, Ayah buatkan pondok ya!”

“Baiklah nanti Ayah buatkan dekat pohon manggis ini!”

Tiga bulan berlalu. Ayah dan Paman membuat pondok. Pondok untuk menunggu durian supaya tidak dicuri. Pondok itu sangat sederhana.

“Anak-anak nanti libur sekolah kita kumpul di Namang, ya!” WA ayah di grup keluarga besar.

“Asyik,” jawab Qeis  dengan emoji tertawa.

Begitu juga dengan saudara Zia yang lainnya. Semua senang karena akan menikmati liburan bersama keluarga dan saudara.

Sabtu pagi tiba cuaca cerah. Qeis datang bersama ayah dan adiknya. Mereka langsung pergi ke kelekak Mengkanau.

“Zia kami sudah di pondok durian!” Suara Qeis saat menelepon Zia .

“Ibu, ayo kita ke kelekak di sana sudah ada Qeis!” ajak Zia.

Tanpa basa-basi ibu langsung menghidupkan motornya.

“Hanif, ayo kita ke kelekak!” ajak Zia.

Saat tiba ibu langsung memarkirkan motornya.

Hanif dan Qeis mendengar suara durian jatuh. Qeis langsung lari mencari durian yang jatuh. Durian itu sangat besar. Qeis sangat senang mendapatkan durian yang sangat banyak.

“Zia cepat buka duriannya!” ucap Qeis.

Saat membuka durian, tangan Zia luka lalu Qeis mencari daun keramunting untuk mengobati tangan Zia supaya tidak berdarah lagi.

Ibu melanjutkan membuka duriannya. Setelah terbuka Zia, Hanif dan Qeis  langsung memakan duriannya. Selesai makan Qeis mengajak mandi di sungai sambil menangkap ikan untuk lauk makan di pondok durian. Kami mencari udang dan ikan kecil. Qeis dan Hanif menemukan serumbong, saat diangkat ternyata ada ikan lele. Zia, Hanif dan Qeis membawa ikan ke pondok. Qeis menyuruh ibu membersihkan ikannya. Zia dan Hanif bagian mencari kayu bakarnya. Ibu menyalakan apinya untuk menggoreng ikan.  Setelah menggoreng ikan Zia, Hanif dan Qeis mengambil nasi. Saat makan Hanif tertulang duri ikan. Lalu Qeis mengambil minum  dan memberikan kepada Hanif. Selesai makan, Qeis  mengusulkan, “bagaimana kalau kita tidur di sini saja malam ini?”

“Oke kita tidur di sini saja,” ujar Zia dan Hanif. Mereka meminta izin kepada ayah dan Zia.

Suara jangkrik membuat malam itu begitu syahdu, ditambah lagi langit cerah. Bintang-gemintang bertaburan di langit.

“krasak….Ketedup….”

“Ayah, ada buah durian jatuh!” teriak Zia.

Ayah mengambil senter dan turun dari pondok mengambil durian yang jatuh. Durian itu sangat besar.

Sambil mengasuh mata ayah Zia bercerita.

“Dulu nenek dan kakek kalian berkebun di sini, banyak hasil sahang yang di dapat.”

“Dulu mereka mendapatkan sahang yang banyak sehingga nenek dan kakek bisa naik haji,” tambah ibunya.

Mereka terlelap dalam buaian mimpi ditambah dinginnya udara di Kelekak Mengkanau.

Ayo jaga kelekak karena kelekak menjadi pemersatu keluarga. Kelekak warisan kakek nenek  harus di jaga. Kelekak jangan diganti menjadi lahan tanaman sawit. Dengan adanya kelekak bisa menjaga cadangan air.

 

Tulisan ini merupakan karya peserta Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Tahun 2025 Tingkat Kecamatan Namang.

Exit mobile version