Bekaespedia.com, Aceh Tengah, Aceh,- Malam turun perlahan di kaki perbukitan Aceh Tengah. Udara basah masih menyimpan bau lumpur, kayu lapuk dan tanah yang baru saja kehilangan pijakannya. Di sebuah halaman sekolah yang dindingnya retak dan atap sengnya berderik tertiup angin, seberkas cahaya proyektor memecah gelap. Di depan layar putih sederhana, anak-anak duduk rapat beralaskan terpal biru. Mata mereka berbinar, jari-jari kecil menunjuk gambar yang bergerak. Untuk sesaat, banjir dan longsor yang merenggut rumah, ladang dan rasa aman mereka seolah menjauh.
Di balik layar itulah Posko Kemanusiaan Mapala Se-Indonesia berdiri. Bukan sebagai bangunan megah, melainkan sebagai simpul solidaritas tempat mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia menjelma menjadi relawan di medan krisis. Minggu malam (11/01/2026), posko ini menjadi saksi bagaimana kemanusiaan bekerja di ruang paling sunyi pascabencana.
Pusat Koordinasi Nasional (PKN) dan Pusat Koordinasi Daerah (PKD) Mapala Se-Indonesia secara resmi mendirikan Posko Mapala Se-Indonesia di Kabupaten Aceh Tengah sebagai pusat komando aksi tanggap darurat banjir dan longsor. Dari posko ini, penyelamatan korban, distribusi logistik, layanan kesehatan, hingga pemulihan psikososial masyarakat dijalankan secara terpadu.

Bagi Mapala, alam bukan sekadar ruang petualangan, melainkan ruang hidup yang rapuh. Ketika ia runtuh, manusia di sekitarnya ikut terguncang. Prinsip inilah yang membawa para relawan kampus ini menembus jalur-jalur sulit di Aceh Tengah wilayah yang secara geografis berbukit, berhutan dan rawan bencana hidrometeorologi.
Dalam masa tanggap darurat, Mapala Se-Indonesia menjalankan empat program utama yaitu Search and Rescue (SAR), penyaluran logistik, pembersihan fasilitas umum dan penanganan medis. Berdasarkan asesmen lapangan, fokus kegiatan diarahkan ke desa-desa yang terdampak paling parah:
Kecamatan Linge: Pantan Nangka, Penarun, Jamat, Reje Payung, Delung Sekinel
Kecamatan Bintang: Kelitu, Sintep, Syiah Utama, Kala Segi
Kecamatan Kebayakan: Jongok Meluem
Kecamatan Ketol: Bah
Koordinator PKN Mapala Se-Indonesia menegaskan bahwa kehadiran mereka tidak berhenti pada fase darurat.

“Mapala Se-Indonesia hadir bukan sekadar membawa bantuan, tetapi memastikan proses penyelamatan, pemulihan dan edukasi kebencanaan berjalan terpadu. Posko ini kami dirikan agar seluruh potensi relawan dan bantuan bisa bekerja efektif dan tepat sasaran,” ujarnya.
Dari posko tersebut, sekitar 20 ton bantuan logistik disalurkan. Isinya bukan hanya beras dan makanan siap saji, tetapi juga lampu penerangan darurat, perlengkapan evakuasi, hingga kebutuhan dasar keluarga terdampak. Distribusi dilakukan dengan pola jemput bola menyusuri jalan desa yang rusak, menyeberangi jalur licin yang sebelumnya tertutup longsor.
Pada siang hari, relawan Mapala bergulat dengan lumpur. Mereka membersihkan masjid, jalan desa dan fasilitas umum yang tertimbun material banjir. Di sela kerja fisik itu, jalur evakuasi dibuka, titik kumpul warga ditetapkan. Langkah-langkah kecil ini menjadi penting di wilayah yang masih menyimpan potensi bencana susulan.
Di sebuah ruang kelas sederhana, puluhan anak duduk memegang kertas gambar berwarna. Mereka menggambar burung, gunung, rumah dan laut. Goresan-goresan polos itu adalah bahasa lain dari trauma dan harapan. Seorang relawan perempuan berjongkok di antara mereka, memperlihatkan gambar burung berwarna cerah. Anak-anak tertawa, saling menunjukkan hasil karya.
Bagi Mapala, kegiatan ini bukan sekadar hiburan. Ia adalah trauma healing upaya menyelamatkan kesehatan mental generasi paling rentan terdampak bencana. Malam harinya, layar tancap digelar. Anak-anak dan orang tua duduk bersisian, menonton bersama. Cahaya layar menjadi simbol sederhana bahwa di tengah gelap bencana, masih ada ruang untuk rasa aman dan kebersamaan.
Di sektor kesehatan, relawan Mapala melakukan pemeriksaan medis, penanganan keluhan pasca bencana, serta pembagian obat-obatan. Kasus infeksi kulit, gangguan pernapasan dan kelelahan menjadi temuan umum dampak dari lingkungan yang lembap, sanitasi terbatas dan kelelahan fisik warga.
Secara investigatif, tim mencatat persoalan klasik yang terus berulang dalam setiap bencana keterbatasan akses layanan dasar, jarak antardesa yang sulit ditembus, serta minimnya edukasi kebencanaan sebelum bencana terjadi. Temuan-temuan ini menjadi bahan evaluasi dan rekomendasi untuk upaya pengurangan risiko bencana di wilayah pegunungan Aceh.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya pulih, tetapi juga lebih siap menghadapi potensi bencana ke depan. Edukasi jalur evakuasi dan titik kumpul adalah bagian penting dari kerja kemanusiaan kami,” tambah Koordinator PKN Mapala Se-Indonesia.

Aksi di Aceh Tengah memperlihatkan wajah lain gerakan mahasiswa pecinta alam. Mapala Se-Indonesia hadir bukan sebagai simbol romantisme alam, melainkan sebagai kekuatan sipil yang bekerja di ruang-ruang krisis ekologis dan kemanusiaan. Di tengah medan sulit dan keterbatasan negara, mereka bergerak cepat, fleksibel dan dekat dengan warga.
Bagi masyarakat Aceh Tengah, Mapala bukan sekadar organisasi mahasiswa. Mereka adalah wajah solidaritas yang datang tanpa janji politik, tanpa baliho, tanpa sorotan kekuasaan namun meninggalkan jejak kerja dan ingatan kolektif. Di tanah yang masih basah oleh lumpur, Mapala menanam satu hal yang paling dibutuhkan pasca bencana yaitu harapan.












