Kisah Abang-Adek
Oleh: Ummi Sulis
Bekaespedia.com,-
“Ummiii, di mana?” Tiba-tiba terdengar teriakan Adek memecah keheningan siang.
Sepertinya selesai main bersama krucil-krucil barusan, langsung pulang dan berteriak. Ummi yang baru saja selesai beberes di dapur jadi terkaget-kaget. Tumben-tumbennya berteriak.
“Ish, Adek bikin kaget aja!” omel Abang. Kegiatan membacanya jadi terganggu.
“Apa, sih, Bang! Manggil Ummi aja kok, kaget?” jawab Adek. Anak itu berlalu ke dapur.
“Kenapa teriak, Dek?” tanya Ummi.
“Puasanya yang bener itu, Rabu atau Kamis, Mi? Kawan-kawan bilangnya Kamis, tapi kata Abi, kita Rabu besok udah puasa,” tanya Adek lagi.
“Oh, itu ya? Karena perbedaan dalam penentuan tgl 1 Ramadan saja,” ucap Ummi.
“Maksudnya, Mi?” tanya Adek lagi karena baginya membuat bingung dan tidak paham.
“Hmm, begini, Dek, di Indonesia ini ada dua ormas besar yang keberadaannya merupakan pelengkap kehidupan bernegara Indonesia. Ormas (organisasi masyarakat) itu adalah Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama. Ada juga ormas-ormas yang lain, tetapi peran mereka biasanya mengikuti pemerintah.” Abi menjelaskan.
“Kenapa kedua ormas itu berbeda, Bi?” tanya Abang.
“Ya, kan, Abi belum selesai menjelaskan. Baru mau mulai, Bang,” timpal Ummi.
“Hehe …” Abang garuk-garuk tengkuk.
“Kita mulai puasa Rabu, tanggal 18 kemarin krn mengikuti maklumat PP Muhammadiyah pusat, Dek. Penjelasannya begini, pada Selasa 17 Februari 2026, terjadi ijtima’/konjungsi, yaitu pertemuan matahari, bulan, dan bumi pada garis ekleptika, sebagai penanda bahwa bulan Sya’ban berakhir dan bulan Ramadan tiba. Muhammadiyah menganut prinsip atau metode melihat hisab hakiki.”
“Walau di Indonesia posisi hilal masih minus, namun di Casablanca, Marokko posisi hilal di atas 2 derajat dan di Ottawa/Quebec, Canada pada 3,2 derajat. Di Indonesia pada waktu magrib di kedua tempat tersebut masih malam, alias belum fajar, sekitar pukul 01 atau pukul 02, sini hari tanggal 18 Februari 2026. Maka umat Islam Indonesia memiliki hilal tersebut. Hal ini berdasarkan pemahaman dan keyakinan bahwa mathla’ (cakrawala) dalam dalam menentukan hilal tersebut bersifat global sesuai prinsip Islam sebagai agama universal (bukan lokal atau nasional). Begitu penjelasan Prof. Din Samsudin.” jelas Abi mengutip penjelasan tokoh cendikiawan Islam Muhammadiyah.
“Kalau NU, Bi?” tanya Adek.
“Mereka menentukan awal Ramadan dengan sidang isbat. Secara konseptual, sidang isbat adalah forum penetapan resmi awal bulan Hijriah yang memadukan pendekatan teologis/agama dan astronomis. Penggunaan hilal dan rukyat dilakukan untuk penetapan 1 Ramadan, 1 Syawal dan 1 Muharam,” lanjut Abi.
“Belum paham, Bi,” ucap Abang dan Adek hampir bersamaan.
“Nanti, kalau sudah besar dan sering ikut kajian, lama-lama akan paham.” sela Ummi.
“Hmmm, gitu ya, semoga nanti bisa mendalami kedua ilmu itu.” Abang manggut-manggut.
“Iya, walau berbeda, kita punya hujjah masing-masing dan itu shoheh hadistnya.”
“Dan kita hari sudah hari kedua, ya.” Adek manggut-manggut juga.
“Jangan menyikapi perbedaan dengan saling hujat, ya. Karena semua ada hujjah yang diikuti,” tutup Abi mengakhiri penjelasan pagi ini.
Fajar Indah, 19 Februari 2026
