Oleh: Meilanto
Masjid Besar Darussalam, Bakam yang kini berada di sisi selatan jalan raya Pangkalpinang – Mentok adalah masjid tua yang ada di Bangka. Hal itu bisa dibuktikan dengan melihat peta tahun 1933, Dalil, D D 29,59 opgenomen door den Topografischen Dienst in 1932. Blad 34/ XXIV i. Masjid itu ditandai dengan warna merah yang berarti terbuat dari batu. Masjid tidak berada di tengah kampung melainkan agak di ujung selatan kampung (arah ke Puding Besar). Seberang jalan (sisi timur) jalan ke Mangka yang masih jalan artileri yang lebarnya 2-4 m (Niet verharde weg in alle moesson geschikt voor veldartillerie van 2-4 m breed). Sebelah Utara masjid masih berupa kebun lada, karet serta semak belukar. Sementara itu di sebelah selatan ada jalan setapak yang sangat panjang melewati Aik Telang dan Bukit Sendau. Tulisan Bakam dalam peta tersebut Bakem. Menariknya, di sisi timur masjid ada Christen Kerkhof.

Sumber: Collection Leiden University
Kubur siapakah itu?
Menelisik tulisan Akhmad Elvian, Rumah Bakem, Saksi Bisu Tewasnya Pimpinan Pasukan Belanda, Kapten Doorschot dituliskan, “Untuk mengatasi perlawanan rakyat Bangka, pada tanggal 26 April 1850 didatangkan pasukan Belanda dari Palembang dan telah mendarat di Mentok, terdiri dari Kompi ke-4 dari Batalijon ke-I dengan kekuatan 4 perwira, 143 Bintara, beserta anak buah dipimpin oleh Kapten J.H. Doorschot. Setelah pertempuran sengit antara pasukan Depati Amir dan pasukan Belanda di Ketipeng, Kapten Doorschot tewas pada tanggal 17 Januari 1851 dan dimakamkan di Bakem, kuburannya terdapat di pinggir jalan di Bakem. Menurut Belanda, Kapten Doorschot tewas diakibatkan oleh penyakit disentri dan bengkak pada pahanya.”
Sayang, makam tersebut kini sudah tidak menyisakan jejak sama sekali. (BP/ KM)*












