Membuka Kolang-Kaling di Bulan Ramadan

Oleh : Dini Hafuza (Siswa SDN 9 Namang)

 

Dusun Tanah Merah adalah nama tempat tinggalku. Di mana aku dibesarkan dan aku mempunyai kakak perempuan dan kakak laki-laki. Di kampung kami setiap akan memasuki bulan Ramadan biasanya masyarakat kampung kami akan mengambil buah kolang-kaling untuk direbus. Pada suatu pagi temanku Repan dan Sakila memanggilku

“Dini!”

Lalu aku menjawab, “Iya ada apa kalian memanggilku?”

Lalu Repan menjelaskan semuanya.

“Dini hari ini kan hari pertama puasa dan kita libur sekolah dan kita membuka kolang-kaling, yuk!”

Lalu aku bertanya, “Di mana?”

Kata Repan, “Di rumah Pak Sudar, tapi sebelum kita pergi ke sana kita harus membawa peralatannya dulu ya.” kata Repan.

Aku berkata, “Apa peralatannya?” “Peralatannya seperti pisau, sarung tangan, dan baskom.”

Kami langsung pergi ketempat Pak Sudar.

Dan kami melihat sangat banyak kolang-kaling. Aku berkata kepada Pak Sudar.

“Pak, kolang-kaling sebanyak ini di mana bapak dapatkan?”

“Bapak membelinya di kampung sebelah. Kebetulan di kampung kita sudah habis bapak beli. Oh iya kalian juga mau membuka kolang-kaling juga ya?”

“Iya, Pak.” jawab kami serentak.

“Tapi kalian harus menunggu dulu ya karena kolang-kalingnya harus dimasak terlebih dahulu, dan bukan bapak yang merebus kolang-kalingnya melainkan bu Herni.”

“Mengapa harus direbus, Pak?” tanya Sakila.

“Karena jika tidak di rebus, kolang-kaling akan gatal. Untuk mengurangi rasa gatalnya harus direbus terlebih dahulu,” jawab Pak Sudar.

Kami melihat Buk Herni menyiapkan bahannya seperti kayu api, kuali dan air.

Sambil menunggu airnya mendidih kami bermain di sekitar perebusan kolang-kaling. Kami bermain dengan gembira walaupun saat itu panas tapi kami tetap melanjutkan permainan kami karena hari hari pertama puasa. Sekian lama kami bermain dan bercanda kami juga melihat ibu-ibu dan rombongannya datang kesini untuk membuka kolang-kaling juga, dan akhirnya airnya mendidih juga dan kami langsung berlari untuk mendatangi tempat membuka kolang-kaling.

Sesampainya di tempat membuka kolang-kaling, kami langsung duduk dan masih sempat bercanda. Hampir satu jam kami menunggu, akhirnya kolang-kalingnya masak dan Bu Herni menuangkan kolang-kalingnya ke ember. Ia menaruhnya ke tempat plastik yang sudah disiapkan.

Lalu bu Herni melihat kami dan ia berkata, “Kalian membuka kolang-kaling, ya?

“Iya.” jawab kami serentak.

“Kalian hati-hati ya karena kolang-kalingnya masih panas, atau begini kalian harus menunggu sampai dingin sedikit lalu kalian buka ya!”

“Iya Bu.”

Aku membuka kolang-kaling satu persatu, kami membukanya dengan bercerita dan kami sambil tertawa. Tidak terasa bu Herni mau menuangkannya lagi ke dalam tong yang berisi air. Lalu kami bermain lagi ke tempat kami bermain dan seperti tadi kami tetap semangat walaupun kami puasa. Kami mendengar suara beduk zuhur mulai terdengar dan kami menghentikan permainan kami.

Kami langsung menghentikan permainan dan langsung pergi untuk ke tempat membuka kolang-kaling ternyata sesampainya di sana kami terkejut karena kolang-kalingnya sudah masak. Kami buru-buru untuk membuka kolang-kaling. Kami memakai sarung tangan dengan terburu-buru. Kami langsung membuka kolang-kalingnya dengan hati-hati. Kami membuka kolang-kaling engan hati yang sabar. Aku pun berkata kepada Repan dan Sakila “Ternyata membuka kolang-kaling ini sangat menyenangkan ya!” ujarku.

“Iya,” kata Repan dan Sakila. mereka menjawab dengan gembira.

Kami membuka kolang-kaling, tidak terasa ternyata bu Herni menuangkan air lagi dan memasukan kolang-kalingnya lagi. Ternyata yang ada di depan kami sudah habis. Bu Herni menuangkan kolang-kalingnya lagi. Tidak lama kami menunggu ternyata kolang-kalingnya sudah masak.

Bu Herni menuangkan kolang-kaling ke ember dan menaruhnya di tempat kolang – kalingnya. Tidak terasa hari mulai sore. Beduk asar mulai terdengar, kolang-kaling mulai habis. Ibu-ibu mulai mencetongnya atau satu kaleng yang dilubangi dengan kecil. Satu kaleng dihargai seribu rupiah, dan sekarang yang aku akan mencentongkan. Aku mendapatkan 19 ribu rupiah, Sakila mendapatkan 29 ribu, dan Repan mendapatkan 32 ribu rupiah. Walaupun aku lebih sedikit tapi aku tetap bersyukur karena ini pengalamanku pertama kali membuka kolang-kaling.

Dengan membuka kolang-kaling ini kita bisa menambah penghasilan ibu-ibu membeli takjil dan uangnya bisa di tabung. (BP / KM)*

 

Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Namang Tahun 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *