Oleh: Aldi Peratama, Charlie, Desna Shafiah, Natan Jovian Nasrullah, Olivia Arzety, dan Vergita Detriyani
(Program Studi Sosiologi Jurusan Sosial dan Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung)
Bangka Belitung merupakan salah satu tempat wisata yang memiliki kekayaan keindahan alam yang masih sangat berpotensi untuk di kunjungi. Selain keindahan alam yang memukau, Bangka Belitung juga menyimpan nilai sejarah budaya yang menarik untuk di kunjungi. Nilai adalah standar tingkah laku, keindahan, keadilan, kebenaran, dan efisiensi yang mengikat manusia dan sepatutnya dijalankan dan dipertahankan. Artinya nilai itu dianggap penting dan baik apabila sesuai dengan kebutuhan oleh suatu masyarakat sekitar. Salah satu destinasi yang memiliki nilai tersebut adalah benteng Kuto Panji.
Benteng Kuto Panji, yang terletak di Desa Belinyu, Kabupaten Bangka, awalnya dibangun sebagai sebuah benteng pertahanan oleh Bong Khiung Fu, seorang tokoh yang berasal dari Tiongkok pada masa Dinasti Qing. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat persembunyian dari serangan bajak laut dan sebagai kediaman bersama keluarganya. Secara spesifik, Benteng Kuto Panji didirikan oleh Portugis sekitar tahun 1570 dengan tujuan utama sebagai benteng pertahanan yang kokoh untuk melindungi wilayah dari serangan bajak laut. Selain itu, benteng ini juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan kerajaan bawahan di bawah kekuasaan Kesultanan Palembang yang dipimpin oleh Bong Khiung Fu.
Bangunan benteng ini dibuat dari bahan bangunan yang berasal dari Tiongkok dan bahan alami sekitar lokasi. Materialnya berupa campuran pasir dan batu yang direkatkan dengan semen dan putih telur angsa, yang membuat struktur benteng ini sangat kuat dan mampu bertahan lama meskipun akhirnya rusak akibat serangan dari bajak laut.
Jika dilihat dari segi alam, Benteng Kuto Panji memiliki beberapa potensi dan keunikan yang mendukung pengembangan pariwisata, diantaranya lingkungan alami sekitar benteng yang masih asri dengan keberadaan semak belukar dan reruntuhan bangunan yang dikelilingi oleh tumbuhan alami, memberikan suasana yang khas dan menambah nilai estetika serta pengalaman wisata alam yang autentik. Selain itu taman wisata dengan konsep alam yang dibangun di depan Benteng Kuto Panji, menyediakan fasilitas seperti jogging track dan kolam ikan sebagai tempat refreshing sehingga menjadikan kawasan ini tidak hanya sebagai situs sejarah tetapi juga sebagai destinasi wisata alam dan edukasi yang ramah lingkungan.
Selanjutnya, dari segi wisata budaya, Benteng Kuto Panji memiliki nilai sejarah yang sangat kuat karena dulunya merupakan gedung rempah dan pusat pertahanan yang direbut dan dikuasai oleh orang Tionghoa, khususnya oleh Raja Bong Khiung Fu yang berasal dari dataran tinggi China-Tibet. Benteng ini dibangun sebagai benteng pertahanan yang kokoh untuk melindungi wilayah dari serangan bajak laut dan sebagai pusat pemerintahan kerajaan bawahan yang tunduk pada Kesultanan Palembang.
Bangunan ini awalnya berfungsi sebagai tempat pengelolaan dan pertahanan dalam perdagangan rempah-rempah yang sangat penting pada masa itu, sehingga menjadi saksi sejarah pergerakan dan dominasi budaya Tionghoa di Pulau Bangka. Dengan demikian, Benteng Kuto Panji tidak hanya sebagai situs sejarah bangunan bekas gedung rempah dan pertahanan, tetapi juga sebagai pusat budaya yang memadukan warisan Tionghoa dan lokal, menjadikannya destinasi wisata budaya yang kaya akan nilai sejarah dan tradisi.
Dengan adanya potensi-potensi yang dimiliki oleh benteng Kuto Panji ini baik dari segi bangunan, alam dan budaya menjadikan nilai tambahan akan keberlanjutan pariwisata ini, dengan melakukan perencanaan dan pengelolaan destinasi wisata kedepannya. Sehingga perencanaan dan pengelolaan destinasi wisata Benteng Kuto Panji dapat dilakukan melalui pendekatan pelestarian sejarah sekaligus pengembangan fasilitas pendukung agar para wisatawan nyaman dan menarik untuk selalu dikunjungi dengan fokus pada keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat setempat.
Perencanaan Pengembangan Destinasi
Pemerintah Kabupaten Bangka telah mengalokasikan anggaran untuk pelestarian fisik Benteng Kuto Panji. Dana ini digunakan untuk pemeliharaan dan perbaikan struktur benteng agar tetap lestari dan dapat menjadi bukti sejarah yang menarik bagi wisatawan. Perbaikan tersebut meliputi dinding benteng yang mulai rapuh serta penataan area sekitarnya agar lebih rapi dan aman untuk dikunjungi. Sebagai bagian dari pengembangan destinasi dibangun taman wisata berkonsep alam di depan Benteng Kuto Panji. Taman ini dilengkapi dengan fasilitas seperti jogging track, kolam ikan, dan ruang terbuka hijau.
Kehadiran taman ini tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga berfungsi sebagai sarana edukasi bagi pengunjung dan masyarakat sekitar. Selain itu, penataan ruang wisata juga menjadi perhatian utama. Area benteng difungsikan sebagai zona sejarah dan budaya, sedangkan taman wisata dikembangkan sebagai zona rekreasi alam. Penataan seperti ini mendukung kenyamanan pengunjung sekaligus meningkatkan daya tarik destinasi secara keseluruhan.
Pengelolaan Destinasi
Pengelolaan destinasi ini melibatkan kerja sama antara pemerintah daerah, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta masyarakat lokal. Para penjaga benteng secara rutin melakukan perawatan dan pengawasan terhadap objek wisata agar tetap terjaga kondisinya. Kolaborasi ini bertujuan untuk memastikan keberlanjutan agar tempat wisata Benteng Kuto Panji ini dalam jangka panjang. Masyarakat lokal juga diberdayakan dalam proses pengelolaan dan pengembangan destinasi ini. Dengan melibatkan komunitas melalui berbagai kegiatan ekonomi kreatif, seperti aneka kuliner yang dijual di sekitar lokasi wisata. Langkah ini tidak hanya meningkatkan pendapatan asli daerah, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan masyarakat terutama bagi UMKM.
Untuk menunjang kenyamanan dan edukasi pengunjung, pemerintah menyediakan berbagai fasilitas pendukung. Seperti memberikan jalur pejalan kaki, menyediakan tempat sampah dan juga papan informasi sejarah yang memberikan pemahaman lebih mendalam tentang nilai sejarah dari Benteng Kuto Panji ini. Upaya promosi juga dapat dilakukan secara aktif, seperti promosi digital melalui platform-platform tiktok maupun instagram agar dapat menjangkau wisatawan lokal maupun mancanegara untuk bisa berkunjung ke destinasi wisata ini.
Pendekatan Berkelanjutan
Pendekatan berkelanjutan diterapkan untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan perlindungan lingkungan. Struktur benteng dipertahankan sebagai cagar budaya, sementara kondisi lingkungan sekitarnya dijaga agar tetap asri dan bersih. Konservasi ini menjadi bagian penting dari strategi keberlanjutan tempat wisata. Selain itu, pengelolaan limbah juga menjadi perhatian. Pemerintah mendorong pengelolaan sampah yang baik dan penggunaan bahan ramah lingkungan di seluruh area wisata. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan akibat aktivitas wisata yang meningkat.
Dengan perencanaan dan pengelolaan yang telah dijelaskan diatas secara rinci serta dengan pendekatan berkelanjutan, Benteng Kuto Panji memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya. Kehadirannya tidak hanya memberikan nilai edukatif dan ekonomi bagi masyarakat lokal, tetapi juga memastikan kelestarian warisan budaya dan alamnya untuk generasi yang akan datang.
Keberlanjutan pariwisata di Benteng Kuto Panji dapat dianalisis menggunakan perspektif Teori Fungsionalisme Struktural. Teori ini menekankan bahwa masyarakat adalah sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian yang saling bergantung dan masing-masing memiliki fungsi untuk menjaga keseimbangan dan stabilitas sosial (Parsons, 1951; Merton, 1968).
Dalam konteks Benteng Kuto Panji, pada bagian struktur sosial terbentuk dari kolaborasi antara pemerintah daerah, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta masyarakat lokal, yang berfungsi menjaga pelestarian cagar budaya. Sedangkan dri bagian fungsi ekonomi dengan muncul melalui pemberdayaan UMKM lokal, menjadikan sektor wisata sebagai sumber penghidupan dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Selanjutnya pad bagian fungsi edukatif dan budaya diwujudkan melalui pelestarian nilai-nilai sejarah serta penyediaan papan informasi sejarah, yang memperkuat kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya warisan budaya. Dan terakhir yaitu pada bagian fungsi ekologis dan rekreasi tercermin dalam taman wisata dan pengelolaan ramah lingkungan seperti disediakan tempat sampah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, yang mendukung keberlangsungan alam dan kenyamanan pengunjung.
Dengan setiap bagian-bagian tersebut menjalankan fungsinya, sistem pariwisata Benteng Kuto Panji mencerminkan tatanan sosial yang stabil dan berkelanjutan. Perspektif fungsionalisme ini menyoroti bagaimana interaksi harmonis antar unsur sosial dapat menciptakan keberlanjutan destinasi wisata secara menyeluruh dan berkelanjutan. (BP)*












