Mentok Kota 1.000 Kue Bersinar di Bulan Ramadhan, Surga Takjil dari Dapur-Dapur Rakyat Bangka Barat

Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio

Bekaespedia.com, Mentok, Aroma santan, gula merah, dan daun pandan merambat di udara Kampung Tanjung, Minggu (22/2/2026) sore. Di bawah langit yang mulai memerah, deretan lapak sederhana berdiri seperti barisan doa. Bazar Ramadhan yang baru beberapa hari digelar itu diserbu ratusan warga yang berburu takjil untuk berbuka puasa. Kue tradisional berwarna-warni, es buah yang dingin, hingga lauk berat yang mengepul dari kuali kecil menjadi saksi bahwa Ramadhan di Mentok bukan sekadar ibadah. Ia adalah denyut ekonomi rakyat, sekaligus cerita panjang tentang identitas kota pelabuhan tua di ujung barat Bangka.

Kerumunan warga membuat ruas jalan di sekitar bazar macet sementara. Anak-anak berlarian, ibu-ibu menawar harga, bapak-bapak menenteng plastik berisi kue lapis, bingka, dan jongkong. Di sudut lapak, Firmansyah (25), pedagang es buah, tersenyum lebar. Dagangannya habis lebih cepat dari biasanya.

“Alhamdulillah, es buah saya habis semua. Baru setengah lima sudah ludes. Ramadhan memang berkah,” ujarnya.

Ia menjual es buah Rp8.000–Rp10.000 per porsi. Mulai berjualan pukul 14.00 WIB, namun sebelum azan magrib dagangannya sudah habis. Bagi Firmansyah, bazar Ramadhan bukan hanya tempat jualan, tapi harapan agar ia bisa membuka kedai tetap suatu hari nanti.

“Kalau bazar ramai terus, saya ingin buka toko sendiri. Biar orang luar Mentok tahu es buah Mentok,” katanya.

Di balik senyum Firmansyah, ada cerita ribuan pelaku UMKM yang menggantungkan hidup pada bulan Ramadhan.

Bazar Kampung Tanjung hanyalah satu dari banyak titik bazar Ramadhan di Mentok. Data Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan Kabupaten Bangka Barat menunjukkan setiap titik bazar bisa menampung puluhan hingga ratusan pedagang kecil.

Menurut laporan statistik Badan Pusat Statistik Kabupaten Bangka Barat, sektor UMKM kuliner menjadi penyumbang signifikan ekonomi rumah tangga di wilayah pesisir. Momentum Ramadhan meningkatkan omzet hingga dua atau tiga kali lipat dibanding hari biasa.

Di balik angka-angka itu, ada dapur-dapur kecil yang bekerja sejak subuh. Ada ibu rumah tangga yang mengukus kue talam sambil menidurkan bayi. Ada anak muda yang belajar membungkus kue rintak dengan plastik bening sambil menghitung laba kecil.

Ramadhan adalah musim panen harapan.

Seorang pejabat pemerintah daerah mengatakan bazar Ramadhan bukan sekadar pasar, tapi ruang promosi kuliner Mentok. Jika dikelola serius, bazar bisa menjadi festival wisata tahunan. Di sinilah cerita besar itu bermula.

Mentok bukan kota biasa. Ia adalah kota pelabuhan tua yang sejak abad ke-18 menjadi simpul perdagangan timah dunia. Kapal dari Tiongkok, Arab, India dan Eropa pernah singgah di sini. Mereka membawa rempah, gula, tepung, dan budaya.

Pertemuan itu melahirkan dapur-dapur baru.

Sejarawan lokal mencatat bahwa sejak abad ke-19 masyarakat Mentok sudah dikenal sebagai pembuat kue untuk kebutuhan ritual agama, perayaan adat, hingga bekal pelaut menuju Selat Malaka. Kue bangkit dibuat agar tahan lama di laut. Kue rintak dibuat dari kelapa panggang agar tidak cepat basi. Kue srikaya harum pandan menjadi bekal kerinduan pelaut pada kampung halaman.

Tradisi itu diwariskan dari nenek ke ibu, dari ibu ke anak.

Pakar kuliner Indonesia seperti William Wongso pernah menegaskan bahwa makanan tradisional adalah arsip budaya yang hidup. Dalam kajian tentang kuliner Nusantara, ia menunjukkan bahwa jalur perdagangan di pesisir Sumatera dan Bangka menciptakan keragaman kue berbasis santan, gula merah dan rempah.

Hal serupa dikemukakan oleh pakar wisata kuliner dunia Erik Wolf dalam Food Tourism Around the World. Ia menyebut makanan lokal sebagai magnet wisata paling kuat, karena membawa identitas sejarah dan emosi masyarakat.

Laporan gastronomic tourism dari UNWTO juga menegaskan wisata kuliner mampu meningkatkan ekonomi lokal sekaligus menjaga warisan budaya, terutama jika melibatkan komunitas UMKM.

Mentok memiliki semua unsur itu.

Kota 1.000 Kue: Identitas yang Tertidur

Julukan Mentok sebagai “Kota 1.000 Kue” lahir dari tradisi panjang dapur keluarga di kota ini. Kue bangkit, kue kacang mete, kue talam, kue lapis, bingka labu, jongkong, hingga ratusan variasi kue lain menjadi identitas masyarakat.

Namun julukan itu masih seperti lagu lama yang belum dinyanyikan kembali.

Padahal, jika dikembangkan serius, Mentok bisa menjadi destinasi wisata kuliner nasional. Bazar Ramadhan bisa menjadi pintu masuk menuju festival kuliner tahunan.

Wisatawan bisa berjalan di kota tua Mentok, mengunjungi Masjid Jami Mentok yang berdiri sejak abad ke-19, mencicipi kue tradisional di bazar malam, lalu menikmati matahari tenggelam di Pantai Tanjung Kalian.

Di antara sejarah kolonial dan jejak pelabuhan timah, mereka menemukan rasa rumah.

Di lapak sebelah Firmansyah, seorang ibu tua menjual kue bangkit dari resep neneknya. Ia bercerita bahwa dulu kue itu dibuat untuk pelaut yang berlayar dari Mentok ke Malaka.

“Supaya mereka ingat kampung halaman,” katanya pelan.

Ia membuat kue sejak pukul dua dini hari. Tangannya gemetar, tapi ia tetap tersenyum saat kue pertama laku.

Di sisi lain, seorang gadis remaja membantu ibunya mengemas kue sambil belajar menghitung uang. Ia bermimpi membuka toko kue online.

“Saya ingin jual kue Mentok ke Jakarta,” katanya.

Mimpi kecil itu tumbuh di antara lampu-lampu bazar.

Di setiap kue, ada sejarah. Di setiap bazar, ada masa depan.

Pengembangan wisata kuliner tidak hanya soal festival. Ia membutuhkan strategi.

Pertama, pendataan kue tradisional Mentok secara ilmiah. Kedua, pelatihan UMKM untuk menjaga kualitas dan kemasan. Ketiga, promosi digital agar wisatawan mengenal Mentok sebagai Kota 1.000 Kue.

Di berbagai negara, wisata kuliner berhasil meningkatkan ekonomi lokal hingga puluhan persen. Mentok bisa meniru model itu dengan menonjolkan kekuatan tradisi.

Ramadhan menjadi momentum terbaik karena seluruh dapur Mentok hidup serentak.

Mentok pernah menjadi kota pelabuhan timah yang sibuk. Kini, ia mencari identitas baru di tengah perubahan zaman.

Mungkin jawabannya ada di dapur-dapur kecil.

Bazar Ramadhan di Kampung Tanjung bukan sekadar pasar musiman. Ia adalah museum hidup kuliner Mentok. Ia adalah ruang ekonomi rakyat. Ia adalah panggung bagi mimpi generasi muda.

Ketika azan magrib berkumandang, warga pulang membawa kue dalam plastik. Namun mereka juga membawa harapan.

Harapan bahwa suatu hari Mentok dikenal dunia bukan hanya karena timah, tetapi karena kue-kue manis yang lahir dari tradisi panjang.

Di Kampung Tanjung, dari aroma santan yang mengepul, mimpi tentang wisata kuliner Kota 1.000 Kue mulai tumbuh.

Mungkin, suatu hari nanti, wisatawan dari berbagai negeri akan datang ke Mentok hanya untuk satu hal sederhana: mencicipi kue yang dibuat dengan cinta dari dapur-dapur kecil di kota pelabuhan tua ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *