Mentok: MTQH Babel Dorong Pembumian Tafsir Al-Qur’an Sebagai Pilar Karakter Daerah Sejiran Setason

Laporan : Belva

Bekaespedia.com, Bangka Barat, Minggu — Di ruang OR 2 Sekretariat Daerah Bangka Barat, perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Hadits (MTQH) XIV Babel memperkenalkan satu dimensi yang semakin penting untuk masa depan Bangka Belitung: tafsir Al-Qur’an bukan lagi ruang kompetisi internal santri, melainkan investasi strategis pembangunan karakter daerah.

Karakter daerah pada skala Bangka Belitung, bukan sekadar slogan festival. Ia adalah persoalan: bagaimana manusia Babel bersikap di jalan raya, bagaimana mereka berlaku pada laut, bagaimana mereka bersuara di ruang digital, hingga bagaimana mereka mengambil keputusan ekonomi dalam ekosistem tambang, nelayan, maupun birokrasi.

Dan di titik itu, tafsir hadir bukan sebagai “beauty contest” pemahaman ayat tetapi sebagai pembumian nilai.

Dalam wawancara eksklusif bersama Hakim Tafsir Al-Qur’an MTQH, Dr. Iqrom Faldiansyah, M.A, ditegaskan bahwa tafsir adalah “petunjuk arah”.

“Petunjuk hidup di dunia ini adalah Al-Qur’an. Jalan ke hutan tanpa petunjuk akan sesat, begitu juga laut tanpa kompas. Begitulah hidup tanpa ayat-ayat Tuhan,” ujarnya, Minggu (09/11/2025).

Kalimat itu di Mentok terasa sangat kontekstual. Karena Bangka Belitung adalah daerah yang kini sedang berada di tengah pertarungan nilai: dari klaim “tanah tambang” vs “tanah peradaban”, dari euforia digital vs akar tradisi Melayu-Islam, sampai debat moral ekonomi rakyat vs moralitas publik jangka panjang.

Karakter daerah tidak lahir otomatis hanya karena “orang Melayu”. Ia dibentuk setiap hari oleh nilai yang dipilih masyarakat untuk dihidupkan.

Dan tafsir, kata Dr. Iqrom, adalah ilmu yang menyodorkan pilihan cara hidup yang benar.

“Kalau ayat-ayat itu hanya dipahami tanpa dibumikan, ia akan mengawang di langit. Padahal Tuhan menurunkannya agar membumi.”

MTQH sebagai Pekerjaan Kebudayaan

Ketika MTQH hanya dipahami sebagai festival seremonial, ia berhenti pada seremonial.

Tapi ketika MTQH dipahami sebagai “ekosistem produksi nilai”, ia menjadi kunci masa depan daerah kepulauan ini.

Hasil penelusuran jurnalis hari ini menemukan tiga problem nilai sosial di Babel mutakhir:

etika interaksi publik menurun di ruang digital

kompetisi sosial tanpa moralitas mulai meningkat

bias informasi merusak kemampuan masyarakat memilah kebenaran

Dalam konteks itu, tafsir bukan “ilmu kelas menara”, tetapi intervensi sosial.

Ia menjadi pagar konseptual: membatasi kerakusan, menyeimbangkan hasrat, memurnikan orientasi hidup kolektif. Ia membentuk cara Babel memandang dunia.

Dari sana lahir identitas daerah.

Ketika ditanya soal digitalisasi dakwah berbasis tafsir, Dr. Iqrom menjawab:

“Kami di kampus punya podcast Islami. Mahasiswa diarahkan membuat konten dakwah untuk mencerdaskan masyarakat. Tafsir itu harus diamalkan.”

Ini penting: ruang digital Babel hari ini didominasi konten hiburan, drama, dan perang posisi.

Belum banyak ada konten Qur’ani yang berbasis ilmu.

Artinya ada gap besar: ruang edukasi agama publik belum dikerjakan oleh talenta lokal.

Padahal Babel membutuhkan bukan sekadar “netizen”, tetapi netizen yang karakter publiknya kuat. Netizen yang tidak mudah diprovokasi, tidak gampang marah, mampu menimbang, dan peka terhadap makna sosial dari tindakannya.

Itu semua adalah definisi karakter daerah.

Di Mentok, tafsir menjelma menjadi infrastruktur moral.

Ia bukan slogan “kembali ke Al-Qur’an” dalam poster.

Ia adalah ilmu untuk menyusun mentalitas publik agar Babel bangkit sebagai peradaban laut, bukan sebagai provinsi yang kalah oleh algoritma TikTok atau rakus investasi sesaat.

Perhelatan lomba tafsir di OR 2 Sekda Bangka Barat hari ini, jika dibaca jernih, bukan panggung mencari juara. Ia adalah tanda bahwa Babel sedang memulai proses serius: membentuk manusia Babel yang bisa membangun masa depan tanpa kehilangan kompas.

Di titik itu, tafsir adalah pondasi.

Karena kompas terbaik yang dimiliki masyarakat Babel tidak pernah berkarat adalah Al-Qur’an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *