Merawat Bahasa, Meruwat Rindu

Oleh: Nada (Siswa SMPN 1 Namang)

 

“Srak, srak, srak!” Pria paruh baya itu merobek kertas di tangannya menjadi enam. Napasnya berat. Matanya menatap Nira penuh amarah. Beberapa detik kemudian suaranya menggema di langit rumah, sudah pasti ia dimarahi lagi.

“Apa yang kau pelajari selama ini? Mengapa nilai ulangan harianmu hanya 75? Hp akan ayah sita sampai nilai ulanganmu naik!”

Nira masuk ke kamar. Dadanya penuh. la menutup wajahnya dengan bantal. Menatap kosong langit kamar dengan penuh luka. Menangis bukanlah solusinya, setiap malam Nira tenggelam dengan buku soal-soal matematika.

Nira adalah anak semata wayang. Ayahnya bekerja sebagai seorang guru disalah satu SD. la dikenal sebagai guru yang tegas. Kegagalannya masuk ke universitas impian, membentuknya menjadi begitu terobsesi pada matematika. Bahkan mengorbankan anaknya sendiri.

Pagi itu saat kakinya baru melangkah masuk ke kelas. Dina berteriak tak sabar menyuruhnya segera duduk. Mereka bersahabat sejak kelas sembilan SMP hingga SMA. Dina adalah siswi pindahan dari kota yang sangat sering berbahasa campuran, bahasa Inggris dan Indonesia.

“Aku udah kirim message ke kamu tadi malam, kenapa nggak dibalas? Kan aku mau tanya PR.”

Nira sedikit menunduk, dan mulai menjelaskan kejadian tadi malam. Membuat Dina iba dan ikut duduk bersamanya. Menggenggam tangan Nira, membuat Nira sedikit terhibur.

Nira menoleh pada meja di sampingnya. Penuh dengan kalimat ejekan bertinta putih dan hitam. Sahabatnya itu selalu disalahpahami oleh teman-temannya yang lain sejak dulu.

People still say aku sombong karena menggunakan bahasa Inggris. Where did it go wrong? Bukannya bagus bisa berbahasa asing?”

Alisnya berkerut kesal. Bibirnya cemberut. Dina sudah begitu muak selalu mendapat ejekan sejak dulu. Sementara terus mengoceh, tangannya sibuk berusaha menghapus tulisan di mejanya dengan susah payah dibantu Nira.

“Menggunakan bahasa asing, contohnya bahasa Inggris itu tidak salah, hanya saja. Kita harus bangga dan mengutamakan bahasa kita.”

Melihat sahabatnya kesusahan membuat Nira tidak tega. Ketika rapat OSIS Nira mengajukan sebuah program yang diberi nama, “Dua Hari Berbahasa Indonesia”, yang disetujui oleh para anggota OSIS lainnya.

Pagit itu, hari pertama program dijalankan. Seluruh siswa diwajibkan menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik selama di lingkungan sekolah, yang juga berlaku untuk para guru di sekolah.

Masing-masing begitu bersemangat. Kata baku terdengar di mana-mana. Namun Dina masih belum terbiasa. Terkadang masih terselip bahasa Inggris pada kalimatnya, membuat Nira harus mengoreksinya menjadi lebih baik.

Dua hari kemudian. Nira baru melangkah memasuki kelas. Dina berteriak penuh semangat menyuruhnya segera duduk. Buku-buku penuh berserakan di mejanya.

“Semalam aku mengirimkan pesan, apakah ponselmu masih belum dikembalikan juga? Dan…kamu sudah mengerjakan PR belum?”

Nira terdiam bukan karena pertanyaan. Melainkan sadar jika Dina tidak lagi menggunakan bahasa Inggris pada kalimatnya. Nira mengangguk semangat, sadar programnya cukup bekerja.

Bel istirahat menggema, disambut sorak gembira para siswa yang mulai berhamburan keluar kelas. Nira melangkah ringan menuju perpustakaan, diikuti Dina yang melangkah di sampingnya.

“Mau ke mana? Perpustakaan lagi?”

Perpustakaan adalah tempat penuh buku untuk dibaca, dan boleh dipinjam. Nira duduk di bangku seraya membaca salah satu buku, ia juga sempat meminjam ponsel untuk mencari referensi.

Disaat orang-orang mengira Nira mencintai matematika. la justru tumbuh dengan buku-buku dipelukannya. la bisa membaca selama berjam-jam, lupa waktu, tapi itulah kebahagiaannya. Bukan bertemu dengan angka dan simbol-simbol matematika.

Aroma buku begitu menenangkan. Tiap kata seolah membawanya masuk ke dalam cerita. Membuatnya lupa akan waktu, hingga bel masuk berbunyi. Nira memutuskan untuk meminjam buku, untuk dirinya baca di rumah.

Malam harinya ia bergegas menuju meja belajarnya. Membuka buku yang berhasil ia pinjam dengan begitu senang. la berniat kembali masuk ke dalam cerita.

Namun, pintu tiba-tiba terbuka. Ayahnya berdiri di ambang pintu. Matannya menyipit menatap tajam buku yang seharusnya matematika malah buku yang dirinya tak suka.

“Membaca buku seperti itu lagi? Sudah berkali-kali ayah katakan berhenti! Apa gunanya buku itu untuk masa depanmu? Tidak ada!”

Suaranya menggema di langit-langit kamar. Urat lehernya nampak menonjol dengan rahang mengeras, jelas ia begitu marah.

Nira menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Mulutnya terbuka berusaha membela. Namun suaranya terlalu takut, memilih bersembunyi dan bungkam.

“Selama aku yang membiayai hidupmu, ikuti perkataanku! Agar kau bisa masuk kampus terbaik!”

Pintu kamar dibanting kuat. Kata-kata itu menggantung di udara. Dadanya sesak. la mengusap kasar wajahnya. Bahunya bergetar dengan isak tangis.

Buku soal-soal matematika kembali ia buka. Menggores kertas dengan tinta perih. “Dina…” Suaranya bergetar lemah. Air mata mulai membasahi kertas.

Beberapa waktu sebelum malam itu, berkat programanya ia dipilih untuk mengikuti seleksi Duta Bahasa. Formulir ia pegang erat penuh keraguan, sebab tahu ayahnya tak akan suka. Namun, Dina pernah berkata, “You don’t have to fight him, just show him.”

Di sebuah gedung besar dengan begitu banyak orang, Nira berdiri gugup menunggu pengumuman. Tangannya mengepal meremas erat sisi pakaiannya.

“Dewan juri telah menetapkan… Dan inilah saatnya kami umumkan, kategori Duta Bahasa Putri, diraih oleh… Nira, kami persilakan naik ke panggung!”

Suara itu bergema di dalam gedung. Nira terdiam tidak percaya. la berjalan menuju panggung dengan senyumnya. Napasnya lega, seolah terbebas dari tali yang telah mengikatnya selama ini. la merasa benar-benar menjadi dirinya sendiri.

Matanya memanas. Menatap tak percaya saat ayahnya hadir di sana. Menatapnya dengan tatapan itu, tersenyum bangga. Bukan karena matematika, melainkan hal yang selama ini dianggap remeh oleh ayahnya.

Beberapa bulan berlalu. Hari ini Nira membaca berulang-ulang kali surat di tangannya.

Matanya berbinar antara bahagia dan masih tidak percaya, saat dirinya mendapatkan beasiswa di universitas ternama di provinsi.

Ayah Nira, langkahnya pelan penuh keraguan saat mendekat, rasa malu dan bersalah menjadi beban dihatinya. Membuat langkahnya terasa begitu berat, namun penuh dengan tekad.

“Maaf…” Suaranya pelan. Serak. Hampir tak terdengar. Namun semua penyesalan itu terdengar jelas dalam suaranya, penyesalan itu terlalu jelas sekalipun itu hanya sebuah kebohongan.

Nira menatap ayahnya, lalu menunduk diam. Terlalu rumit hingga sulit merangkai kata. Pupil matannya melebar saat merasakan kembali kehangatan yang sempat hilang kini kembali.

la merindukan pelukan ini sejak lama. Pelukan hangat tanpa syarat. Usapan penuh kasih di punggungnya terasa begitu menenangkan, begitu menghangatkan. Sebuah kehangatan yang selalu ia butuhkan disaat semuanya terasa begitu melelahkan. “Kamu berhasil membuktikan semuanya, ayah salah. Kamu sudah berjuang, ayah bangga padamu…Sangat bangga.”

Nira membawa dirinya semakin dalam pada pelukan. la menangis tersedu-sedu, meluapkan semua yang sempat tertahan. Tangannya gemetar namun erat membalas pelukan, menikmati kedekatan setelah semua kerenggangan.

Tidak menyadari keberadaan Dina di sana. Menatap pemandangan di depannya dari kejauhan, sebab enggan mengganggu. Ujung bibirnya melengkung membentuk senyuman. Membuatnya merindukan ayahnya. (BP/ KM)*

 

 

Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *