Negeri yang Dikeruk dari Belakang

 

Cerita oleh: Belvan Alakhab

Pada sebuah pagi yang samar, kala embun belum sempat mencium tanah, di sebuah kota kecil yang gemar menyembunyikan luka di balik gedung-gedung pemerintahannya yang catnya mulai pudar, sebuah ekskavator berdiri gagah. Tidak di tengah hutan, bukan pula di tanah sengketa rakyat jelata, tapi di belakang gedung megah yang bertuliskan “BKPSDM Kabupaten Bangka Barat”—tempat para pejabat mengucap sumpah dan menghafal loyalitas.

Tanah itu adalah milik ibu yang bernama Negara. Tapi seperti ibu tua yang pikun dan dibisiki anak durhaka, tubuhnya digali pelan-pelan. Dikeruk, ditelanjangi, dilubangi, dan ditinggalkan—tanpa izin, tanpa rasa malu.

Bayangkan seekor tikus besar berdasi, mengunyah berlian di meja makan negara, sembari menyeka mulutnya dengan bendera. Itulah yang terjadi hari itu, dan hari-hari sebelumnya, saat ekskavator itu menari di atas tulang rusuk tanah Pemkab, tak gentar meski ia tahu dirinya tak berizin.

Seorang lelaki tua, memegang senapan mimis, duduk di lokasi tempat tragedi. Ia menyulut rokok kretek dan menatap lahan gersang yang telah berubah menjadi luka terbuka. “Dulu, tanah itu tempat anak-anak bermain menangkap burung. Sekarang, tempat itu jadi tempat hukum bersembunyi,” ucapnya lirih.

Ia menyebut tanah itu “punggung negara”—tempat yang seharusnya dijaga, bukan dijarah. Namun kini, punggung itu dicabik oleh kuku besi ekskavator, dengan irama bising yang lebih keras dari nurani pejabat.

Gedung BKPSDM, yang berdiri kokoh seperti menara keangkuhan, hanya berjarak sepelemparan batu. Tapi anehnya, batu itu tak pernah dilempar. Tidak oleh Satpol PP, tidak oleh aparat berseragam coklat, apalagi oleh mereka yang sehari-harinya berbicara tentang “pengawasan dan ketertiban.”

Di kota ini, hukum ibarat burung hantu buta yang hanya terbang saat malam dan pura-pura tidur saat siang. Tidak melihat, tidak mendengar, tidak berbicara.

Dari koordinat satelit, ditentukan bahwa tambang itu tidak berada di hutan lindung, bukan pula di tanah sengketa. Ia berdiri sah di atas tanah negara, tapi dibajak oleh tangan-tangan tak bertuan. Dan entah mengapa, keberadaannya seperti rahasia umum—yang semua orang tahu, tapi tak satu pun mengaku melihat.

Warga pun bersuara, dengan lirih dan takut-takut, seperti menyanyikan doa di tengah kuburan.

“Sudah lama itu alat berat masuk. Tapi tak ada yang berani menyentuh. Mungkin tanah itu sudah bukan milik rakyat,” kata seorang warga muda sambil melirik ke arah gedung pemerintah yang tampak pucat dari kejauhan.

Pada suatu titik, seorang wartawan datang. Ia bukan siapa-siapa, hanya seseorang yang membawa kamera dan pena, bukan senjata atau surat tugas. Tapi di kota ini, kejujuran justru lebih berbahaya dari senapan. Ia memotret ekskavator itu seperti memotret tikus besar yang sedang tidur kenyang.

Ia menulis:

“Tanah pemerintah dikeruk tanpa izin, tapi pejabat diam. Barangkali mereka sedang rapat, atau barangkali mereka sedang pura-pura buta. Di negeri ini, tambang ilegal tak lagi bersembunyi di hutan. Ia datang ke pusat kota, mengetuk pintu belakang kantor pemerintahan, lalu berkata: ‘Boleh saya menggali sedikit?’ Dan pintu pun terbuka lebar.”

Namun, hari-hari pun berlalu. Tidak ada garis polisi. Tidak ada penyegelan. Tidak ada pernyataan dari bupati. Tidak pula dari polisi. Hukum menjadi seperti kucing tua yang hanya mengeong saat lapar, tapi tidur saat maling masuk dapur.

Tokoh pemuda kota itu berkata dalam amarahnya yang ditahan:

“Kalau tanah pemerintah saja bisa dikeruk seenaknya, bagaimana nasib tanah rakyat biasa? Ini bukan hanya pelanggaran. Ini adalah penghinaan terhadap marwah hukum.”

Dan ekskavator itu pun masih menari, menari seperti penari barong mabuk di tengah pesta yang dibiayai dari lubang. Ia menari di atas kesunyian hukum, diiringi nyanyian sunyi dari rakyat yang bosan melapor.

Lalu cerita ini mengendap di ruang tunggu media, menanti dicetak, mungkin juga menanti dilupakan.

Karena di negeri yang punggungnya dikeruk dari belakang, kebenaran sering kali dianggap gangguan. Dan hukum?

Ah, hukum hanyalah nama seekor anjing tua yang sudah kehilangan taring.

 

Akhir Kata:

Kisah ini bukan fiksi. Ini nyata. Nama-nama mungkin disamarkan, tapi ekskavator itu ada. Lubang itu nyata. Dan diamnya hukum lebih sunyi dari doa orang mati.

Mentok, 10 Juli 2025. Tanah ini menangis, tapi tak ada yang mendengar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *