Oleh: Raisya Kaila (Siswa SDN 11 Pangkalanbaru)
Di suatu hari yang panas seperti membakar kulit, Rani dan Riski sedang bermain pasir di tepi pantai. Mereka pergi ke air laut karena ingin mencuci kaki sebentar karena panas. Mereka duduk di pasir yang basah menunggu ombak datang. Setelah selesai mencuci kaki, kaki Rani seperti ada sesuatu yang mendekati. Ternyata itu adalah ikan kecil yang sedang mendekati kaki Rani. Ikan itu seperti ingin meminta tolong sebentar kepada Rani dan Riski.
“Riski, coba lihat ikan ini, dia mendekati kakiku!” ucap Rani sambil geli-geli.
“Hahaha, iya Ran dia mendekati kakimu,” jawab Riski sambil tertawa pelan.
Setelah tertawa ikan itu pergi ke sebelah kapal nelayan seperti mengajak Rani dan Riski untuk ikut bersama. Rani dan Riski mengikuti ikan itu karena ingin tahu mengapa ikan itu pergi. Sampai di sana Rani dan Riski kaget karena banyak sampah di tepi laut yang sudah menumpuk.
“Hah, kenapa ada banyak sekali sampah di sini!” ucap Rani dengan wajah yang bingung dan terheran-heran.
Riski menjawab, “Iya kok bisa banyak sekali sampah di sini!”
Mereka berdua bingung melihat sampah itu. Tidak lama berpikir mereka berdua berbincang-bincang untuk sepakat membersihkan sampah-sampah di pantai itu. Riski mengambil karung di sekitarnya lalu menaruh di daratan. Rani mengangkut bungkus mie instan lalu terkejut melihat di bawahnya ada ikan-ikan kecil yang mengira bahwa itu adalah rumah mereka.
“Riski, ikan ini mengira bahwa sampah bungkus mie instan adalah rumah mereka.” Lalu Rani memasukkan sampah mie instan ke dalam karung yang Riski ambil dan ikan-ikan kecil tadi dilepaskan lagi. Memunguti sampah yang begitu banyak membuat mereka berdua lelah dan berkeringat.
Lalu ada dua laki-laki yang membawa kertas plastik berisikan sampah dan menertawakan mereka berdua. Salah satu mereka yang memakai topi hijau membuang sampah sembarangan di laut yang mereka bawa tadi. Saat mereka menertawakan Rani dan Riski, mereka hanya diam saja. Tapi saat mereka membuang sampah tepat di hadapan mereka berdua, mereka tidak tinggal diam karena mereka langsung memunguti sampah yang mereka buang sembarangan tadi. Setelah selesai Rani mengajak Riski untuk ke batu-batu karang yang ada di sebelah mereka.
“Riski kita pergi batu-batu yang ada di sebelah sana yuk!” ajak Rani.
Riski menjawab, ”Iya” sambil tersenyum. Mereka berjalah santai, langkah demi langkah sambil memunguti sampah yang ada di tepi laut. Setelah sampai mereka melihat banyak sekali sampah yang tersangkut dan mengapung di laut.
Ada kakak-kakak cantik yang berkata, “Semangat ya adik-adik!” ucap kakak cantik itu sambil tersenyum bahagia. Lalu mereka melirik ke sumber suara itu ternyata adalah kakaknya Adi teman sekelas Riski bernama kak Sintia.
“Kak Sintia, ayo ikut bersama untuk membersihkan sampah ini!” teriak Riski dengan wajah yang gembira.
Kak Sintia mengangguk mau dan berlari ke arah mereka berdua. Kak Sintia langsung memunguti sampah dengan semangat begitu juga dengan Rani dan Riski. Rani menarik plastik besar yang berisikan air laut dan ikan-ikan kecil yang terperangkap di dalamnya.
Ia menarik plastik itu sekuat tenaga tapi ia tidak kuat menariknya sendiri sehingga ia memanggil Kak Sintia dan Riski.
“Kak Sintia, Riski, tolong aku tarik ini!”
Kak Sintia dan Riski langsung membantu menarik. Tarik-menarik melawan ombak terasa seperti tarik tambang melawan lautan. Ombak datang menghantam lalu Rani terpeleset karena licin. Lalu Kak Sintia bertanya dengan panik.
“Rani, kamu tidak apa-apa kan?”
Kaki Rani mengeluarkan darah yang lumayan banyak, lalu ia menjawab, “tidak apa-apa, Kak!”
Ia tak menghiraukannya, ia duduk sebentar lalu lanjut menarik plastik itu. akhirnya mereka menang melawan ombak.
Lalu Rani cepat-cepat membuka plastik itu dan mengeluarkan isi di dalamnya dan membebaskan ikan-ikan itu. Yang tadinya kaki Rani mengeluarkan darah yang lumayan banyak, sekarang sudah berhenti. Mereka melanjutkan memunguti sampah yang mengapung dan tersangkut. Setelah selesai membersihkan sampah, tubuh mereka berkeringat dan basah kuyup. Ada ibu-ibu yang lewat lalu memberikan tepuk tangan.
Akhirnya pantai itu bersih dari sampah plastik dan sampah lainnya. Pengalaman itu sudah menjadi kebiasaan mereka setiap libur sekolah. (BP/ KM)*
Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Pangkalanbaru Tahun 2026 Cabang Menulis Cerita.












