Pandemi dan Literasi : Upaya Peningkatan Minat Baca Masyarakat

Oleh: Naila Salma Asyifha

(Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Prodi: Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung)

 

“Membaca bukan beban, tapi kebutuhan. Jadikan membaca sebagai gaya hidup.” Pepatah ini sangat relevan dengan minat membaca di Bangka. Pasca pandemi, minat untuk membaca terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Padahal operasional perpustakaan sempat ditutup untuk umum. Berdasarkan data, Perpustakaan Kota pada tahun 2021 hingga 2024 mengalami peningkatan sebesar 65,52%, yaitu sekitar 45.114 pengunjung di tahun 2024.

Peningkatan literasi ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah penambahan fasilitas perpustakaan kota. Apalagi dengan adanya pembangunan gedung baru dan fasilitas yang semakin lengkap dan nyaman, seperti ruangan ber-AC, tersedianya Wifi gratis, ruang serbaguna, komputer, dan juga jumlah buku yang semakin bertambah. Sejak pembangunan gedung baru pada tahun 2022 dan beroperasi pada tanggal 8 februari 2023 menjadikan jumlah pengunjung semakin meningkat.

Selain itu, seiring dari program yang diselenggarakan oleh Perpusnas, perpustakaan kota harus bertransformasi berinklusi sosial, artinya perpustakaan tidak hanya untuk membaca, tetapi juga terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat agar dapat memanfaatkan fasilitas apabila dilakukan berbagai kegiatan seperti pelatihan, pertemuan, dan lain-lain. “Perpustakaan bukan sesuatu yang ekslusif tetapi terbuka dan dapat digunakan oleh siapa saja, maka dari itu jumlah pengunjung semakin meningkat.” ( Wiwik, 29/5/2025)

Kemudian, perpustakaan menyediakan layanan literasi digital yaitu ipangkalpinang, namun pengunjung relatif masih menggunakan buku berbentuk fisik untuk dibaca. Lalu, tersedianya pojok digital yang berada di Dukcapil dan perpustakaan keliling yang pergi ke institusi pendidikan, lurah hingga lapas anak, perempuan, dan narkotika. Hal ini merupakan Upaya efektif dalam meningkatkan minat literasi membaca pada seluruh masyarakat.

Begitu pula, dengan menambah jumlah koleksi buku merupakan salah satu cara yang tidak dapat diabaikan, mulai dari kategori buku fiksi dan non-fiksi. Hal ini dapat meningkatkan minat literasi membaca pada masyarakat. “ Pada januari sekitar 56,843 buku sudah tersedia di perpustakaan kota,” ujar pustakawan.

Terakhir, untuk merealisasikan tujuan menuju perpustakaan yang inklusif agar dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Maka dari itu, pentingnya menyediakan fasilitas bagi yang memiliki keterbatasan khusus sehingga membuat semakin nyaman. “Perpustakaan kota telah menyediakan fasilitas bagi tunanetra, yakni braille dan toilet khusus disabilitas.” Ujarnya

Sementara itu, Rizal menjelaskan jika kemampuan literasi lulusan sarjana di Indonesia masih kalah dibanding lulusan SMP di negara Denmark. Hal ini berdasarkan data dari OECD untuk tes Programme for the International Assessment of Adult Conpetencies (PIAAC). “Bahkan ketika dites orang lulusan sarjana di Jakarta itu kita tertinggal sekitar 69 persen di bawah kompetensi minimum dan bahkan lulusan sarjana kita (Indonesia) itu kemampuan literasinya di bawah lulusan SMP di Denmark,” ujarnya.

Selain itu, terdapat beberapa tantangan dalam mempertahankan minat literasi. Terutama pada zaman kemajuan teknologi, hambatan utama yang dihadapi ialah semakin maraknya penggunaan Handphone, mengakibatkan menurunnya minat dalam membaca khususnya pada buku fisik maupun digital (e-book). Dikarena banyaknya masyarakat yang kecanduan terhadap konten media sosial yang tidak edukatif dan minimnya akses terhadap bahan bacaan yang berkualitas. Berdasarkan survei Perpustakaan Nasional (Perpusnas) tahun 2022, hanya sekitar 30% sekolah di Indonesia yang memiliki perpustakaan dengan koleksi memadai.

Meskipun adanya hambatan, kita dapat melakukan beberapa Upaya yang efektif untuk menjaganya. Upaya – upaya tersebut yaitu dengan memaksimalkan fasilitas yang ada, seperti memperbanyak variasi buku yang berkualitas dan edukatif, sehingga pengunjung perpustakaan tidak kehilangan semangat dalam literasi membaca. Selanjutnya, mempromosikan tentang pentingnya literasi melalui media sosial dan mengembangkan layanan digital platform yang lengkap dan menarik agar pembaca bisa membaca dengan praktis dan mudah, serta mengadakan berbagai kegiatan yang menyenangkan tetapi tetap mengedukasi dan memberikan dampak dalam meningkatkan literasi membaca, contohnya mengadakan festival literasi dengan kegiatan seperti pameran buku, lokakarya menulis, dan sesi diskusi dengan penulis terkenal dapat membangun semangat literasi dalam skala yang lebih besar (Metro aspirasiku).

Dengan demikian, membaca tidak hanya untuk pelajar tetapi dapat dibudayakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Lapisan masyarakat yang dimaksudkan adalah mulai dari anak-anak usia dini, pelajar sekolah dasar, menengah, hingga perguruan tinggi, serta kalangan pegawai dan masyarakat umum. Jika budaya membaca sudah menjadi kebiasaan, Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia menjadi lebih berwawasan, kompeten, memiliki daya saing, dan kemampuan dalam berpikir kritis. (BP/ KM)*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *