Oleh: Hafiz Dwi Kurnianto
Saat hari menjelang sore, seorang bapak pergi ke kebunnya. Namanya Pak Jamal. Dia berjalan sambil memanggul cangkul dan membawa beberapa tunas tanaman salak. Pak Jamal mencangkul tanah dan menanam bibit salak yang tadi dibawanya. Setiap hari dia menyiram tanaman salaknya.
Tiga tahun kemudian, pohon salak tumbuh besar. Namun, pohon salak itu tidak berbuah juga. Pak Jamal sangat heran dan mengelilingi kebunnya.
“Aduh, pohon salaknya kok, tidak berbuah-buah!” ucap Pak Jamal dengan ekspresi merengut.
Meskipun pohon salak Pak Jamal belum muncul-muncul buahnya, dia tetap sabar dan terus menyiramnya. Ketika Pak Jamal melewati ujung kebunnya, ada satu pohon yang berbuah.
Saat Pak Jamal mendekati pohon itu, ada suara orang memanggil, tetapi Pak Jamal tidak melihat ada orang di situ. Hanya dia sendiri di kebun. Dia begitu kaget.
“Halo, siapa itu! Jangan menakutiku,” ucap Pak Jamal membalas suara yang memanggilnya.
” Hei, ini aku, Salak! Aku ingin berbicara,” panggil Salak.
“Lah, kok kamu bisa bicara? Dan … kok hanya kamu pohon salak yang berbuah di kebunku?” tanya Pak Jamal.
“Tanaman salaknya tidak berbuah karena kurang unsur hara tertentu. Jadi harus dipupuk!” ajar Salak.
“Tetapi kenapa pohonmu ada buahnya. Kan aku tidak memupukmu?” tanya Pak Jamal.
“Oh, aku tidak sengaja kena pupuk dari kebun tetangga,” ucap Salak pada Pak Jamal.
“Begitu, ya. Besok aku mau memupuk tanaman di kebun ini.” Pak Jamal pun pulang.
Tiga bulan berlalu. Setelah dipupuk, salak di kebun Pak Jamal terlihat mulai muncul bakal buahnya. Beberapa waktu kemudian, tanaman salak itu menghasilkan banyak buah salak dan sekarang siap dipanen. Pak Jamal pun dapat menjual hasil panennya ke pasar. (BP / KM)*
Fajar Indah, 01 Agustus 2026
————————————
Penulis adalah murid kelas 5 di SDN 3 Pulau Besar yang ikut kelas menulis.












