Penulis : Yoelch Chaidir
Malam kian beranjak saat bulan sabit mengawasi dari balik rindangnya dedaunan pohon durian yang gemulai menari diterpa sayup sang bayu.
Gemercik air samar terdengar dari balik rerimbunan bambu di ujung jurang seakan berdendang melantunkan irama tanpa lirik.
Api masih bangga menjilat kayu-kayu kering menyisakan abu di ujung bara dengan asap-asap meliuk melambai pergi bersama angin dingin di malam Jum’at akhir bulan Desember.
Untuk ke sekian kalinya bunyi durian jatuh membuat aku berniat beranjak bangkit dan menggapai senter yang terselip di bilah dinding pondok kelekak usang namun kali ini ditegur oleh Bang Sopyan.
“Lah dak usah dicarik agik, itu pe “mese” di hini nek ngagel Engka, hebab Engka baru hekali ni datang ke hini.”
“Die nek bekenal ken Engka,” sambung Bang Sopyan.
Serta merta aku terdiam dan bulu kuduk merinding mendengar kata-kata Bang Sopyan pewaris kelelak usang malam itu.
Aku yang sedari tadi masih terdiam mengingat kata-kata Bang Sopyan terkesima dalam lamunan menatap kunang-kunang bercumbu mesra di antara ilalang liar yang bergoyang sontak memalingkan pandangan pada sekelebat bayangan melintas tepat di sisi sebelah kiri di mana Aku duduk sambil menikmati secangkir kopi.
Tak sempat mengedipkan mata yang ku arahkan pada bayangan yang melintas menuju arah suara gemercik air di balik rimbunnya bambu dan menghilang ditelan gelapnya malam.
Aku tersadar apa yang barusan aku lihat adalah sosok bayangan putih melayang di atas tanah itu tak lain dan tak bukan adalah penghuni kelekak usang sebangsa jin yang dinampakkan sekilas di hadapanku malam itu seperti yang di kisahkan oleh Bang Sopyan yang memang sudah terbiasa dengan hal-hal semacam itu di kelekak usang yang kini hanya tinggal sebatang pohon durian besar yang telah menua.
Ternyata jin penghuni kelekak usang memang sering menampakkan wujud dalam bentuk berbagai macam rupa kepada siapa saja yang baru masuk ke area kelekak usang mungkin dengan maksud agar siapa saja yang memasuki kawasan kelekak tahu akan keberadaan penghuni gaib yang bermukim di kelekak usang milik seorang kakek yang telah lama meninggal dunia dan kini di wariskan kepada anaknya bernama Sopyan.
Malam itu tak sebutir durianpun yang kami dapatkan di kelekak usang hingga subuh menjelang dengan sedikit rasa kecewa namun malam itu telah membuktikan bahwa disetiap kelekak usang ada penunggu gaib yang bermukim di sana.
Menurut kisah terdahulu yang menguasai alam gaib di kelekak usang adalah seekor kera besar berwarna hitam kemerahan yang pernah masuk ke pondok kelekak usang.
Walahualam bissawaf, Keberadaan yang gaib adalah pasti dan hanya dibatasi tabir penghalang antaranya.
Setipis apakah tabir penghalang yang membatasi hingga mata kita tak mampu menembus untuk melihat sesuatu yang gaib. (BP)*












