Penguin Kecil Tanda Persahabatan

Oleh: Pavita Phelia Araminta (Siswa MTs Nurul Falah, Airmesu Timur)

 

Hujan semalam, sepertinya sangat memengaruhi cuaca pada pagi hari ini. Udara yang dingin membuat siapapun begitu betah ingin berlama-lama di kasur miliknya. Begitu pula dengan seorang gadis kecil bernama Liara Syahana, seorang gadis kecil yang sampai saat ini masih betah di kasur empuk miliknya. Hari sudah menunjukkan sinar mentarinya, namun tidak juga dapat membuat Liara untuk bangun dari tempat ternyamannya.

“Eughh…”Lenguh Liara pelan ketika sinar mentari menerobos masuk melewati celah tirai jendelanya. Dengan perlahan akhirnya ia membuka mata dan mendudukkan tubuhnya di pinggiran kasurnya. Saat sudah sepenuhnya terbangun, tatapan Liara menjadi terfokuskan ke arah meja belajarnya yang berada di sudut kamarnya. Hal ini sudah terulang selama beberapa tahun silam, di mana ada kenangan dari seseorang yang tak akan mungkin untuk ia lupakan, sahabatnya yang bernama Kaisya. Bunyi deritan pintu mampu membuat Liara menoleh ke asal suara, ternyata itu Ibu Liara yang baru saja ingin membangunkan gadis kecilnya untuk sarapan bersama.

“Lia, kok belum turun nak? Ibu sama Ayah udah nungguin kamu loh!”

“Lia baru bangun bu, ini juga mau ke bawah kok tapi Lia cuci muka dulu ya.”

“Iya, Ibu sama Ayah tunggu di bawah ya nak.”

Sesaat Liara memandangi foto yang berada di atas nakas kamarnya, foto yang sudah sangat lama ia simpan hanya untuk mengenang seseorang yang sudah lama tidak berkabar dengannya.

Langkah kaki terdengar menggema ketika Liara melangkahkan kakinya untuk menuju ruang makan yang di mana sudah ada Ayah dan Ibunya yang telah menungggunya. Decitan kursi terdengar jelas dipendengarannya karena tidak ada suara apapun yang menyambut pagi hari seperti biasanya. Ibu menyodorkan piring yang telah berisi nasi beserta lauk untuk Liara, dan seperti biasa Liara menerima dan hanya memakannya dengan diam. Ayah yang melihat hal itu hanya dapat menghela napas berat, sudah setahun ini Liara bersikap demikian. Dan hal itu disebabkan oleh seseorang yang sudah lama putri kecilnya itu tunggu untuk kembali datang.

“Liara, bisa ayah ngobrol sama kamu habis makan ini nak?”

“Bisa Ayah.” Obrolan dihentikan dengan keheningan yang menyapa seisi rumah. Tak dapat dipungkiri bahwa sikap Liara selama setahun ini, begitu membuat seisi rumah bingung bagaimana caranya agar dapat mengembalikan Liara kecil yang ceria. Kehilangan seorang teman dekat sangat memengaruhi Liara kecil yang dulunya sangat ceria dan tak pernah dapat diam.

Akhirnya Liara menemukan keberadaan Ayah setelah beberapa kali mencari di setiap ujung rumah. Ayah ternyata sedang duduk sembari bersantai di kursi kayu peninggalan kakek yang sudah lama meninggal dunia. Liara turut duduk di samping Ayahnya dan kemudian kembali diam seperti biasanya. Hembusan angin terasa membelai kulit Liara dan Ayah, keduanya masih setia membisu selama beberapa menit menunggu percakapan yang ingin diutarakan dia antara keduanya, keduanya masih membisu tanpa ingin merusak keheningan yang ada. Sampai akhirnya perkataan Ayah membuat Liara kembali fokus dengan sang Ayah.

“Lia, kamu masih kepikiran sahabat kamu itu?” Tanya Ayah pelan.

“Sepertinya Lia gak bisa sehari aja gak kepikiran sama Kaisya, Ayah.”

“Kalau kamu kepikiran sama dia terus gimana kamu bisa ngelanjutin hidup kamu sendiri nak. Ayah gak bisa kalau harus lihat anak Ayah setiap harinya merenung terus.”

Liara memilih untuk kembali tak menjawab perkataan Ayah tersebut. Ia hanya tidak suka ketika Ayah dan Ibunya terus-terusan menanyai perihal dirinya yang menjadi pendiam. Bukan tanpa sebab, ia hanya merindukan sahabat terbaiknya yang sudah meninggalkan dirinya untuk selamanya. Dulu, tiada hari yang ia lewatkan tanpa bersama sahabatnya itu dan karena hal itulah yang membuat dirinya memilih untuk tidak mencari teman seperti Kaisya, sahabat terbaiknya.

“Lia, dengarkan Ayah, mulai besok kita akan pindah ke kota karena Ayah ada pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan. Ayah mau kamu sama Ibu juga ikut, ini juga bisa jadi peluang untuk kamu cari teman baru di sana.”

Mendengar perkataan Ayah yang temasuk tiba-tiba ini membuat Liara hanya mampu menghela napas pelan dan menganggukkan kepalanya sebelum kembali meninggalkan sang Aayah seorang diri.

Kini, Ayah dan Ibu sedang disibukkan dengan berbagai perlengkapan yang ingin dibawa untuk besok pergi dari rumah ini. Sementara yang lainnya sedang sibuk, Liara justru sibuk memandangi foto yang dulunya ia ambil ketika sedang bersama dengan Kaisya. Entah bagaimana dirinya dapat mencari teman sebaik Kaisya, dengan perlahan ia memasukkkan foto tersebut ke dalam koper miliknya yang kelak akan dibawa untuk esok hari. Saat Liara sudah selesai membereskan perlengkapannya, terdengar ketukan pintu yang membuat Liara berdiri untuk membuka pintu tersebut, ternyata itu adalah Ibunya yang sedang memegangi beberapa baju Liara yang sudah di siapkan. Liara sedikit mundur dari tengah pintu kamarnya agar Ibu dapat masuk.

“Lia, sini Nak. Ada yang mau Ibu bilangin sama kamu.”

Ibu Liara menyuruh agar Liara dapat duduk di sampingnya. Dan tentu saja diiyakan oleh Liara, ia duduk di ujung kasurnya berada tepat disamping Ibunya.

“Gimana persiapan kamu? Udah disiapin semua, kan?”

“Udah Bu, Liara udah pastiin semuanya gak ada yang tertinggal kok.”

“Baguslah kalau begitu, malam ini tidurnya yang cepat ya, biar besok pagi gak ngantuk pas dibangunin. Ibu keluar dulu ya, mau bantuin Ayah kamu diluar.”

Setelah mengatakan hal itu, Ibu Liara pergi dari kamar dan meninggalkan Liara seorang diri.

Liara beranjak dari tempat tidurnya, dan beralih untuk menatap pantulan dirinya yang berada di depan kaca besar yang berada di kamarnya. Dirinya dapat melihat bayang-bayang dirinya dan Kaisya ketika berada di kamar ini. Terlalu banyak canda tawa yang tersimpan lekat di dalam memori ingatannya ketika bersama Kaisya.

Liara berusaha mengusir pikiran yang selama ini terus menghantuinya, sampai akhirnya Liara memilih untuk mengistirahatkan tubuh serta pikirannnya yang mungkin akan dapat mengganggu fokusnya.

Liara turun dari mobil ketika Ibu membangunkannya dengan memberi tahu bahwa kami kini sudah sampai di rumah baru kami. Liara turun perlahan dari mobil, dan memandang ke sekitar di mana rumah ini berada. Di depan rumah Liara terdapat hamparan sawah yang luas beserta jalan raya yang memisahkannya antara rumah dan pemukiman warga. Sepertinya Ibu dan Ayah sengaja memilih rumah ini karena Ibu suka dengan ketenangan, lain halnya dengan Liara. Liara sangat suka berada di tempat yang ramai dengan banyaknya kegiatan yang terus terjadi di sekitarnya. Mungkin Ibu lupa kalau sebenarnya Liara sangat suka berada di tempat yang sangat ramai dengan penduduk.

“Lia! Ayo sini, bantuin Ibu sama Ayah bawa barang-barang kita ke dalam!” Panggil Ayah ketika melihat putri kecilnya itu melamun memandang hamparan luas yang berada di depan rumah mereka.

“Ayah, barang apa yang bisa Lia bawa?” Tanya Liara. Ayah memberikan sebuah koper yang berisi perlengkapan rumah. Liara membawa koper tersebut dengan cara menariknya perlahan menuju ke depan pintu rumah barunya. Ternyata Ibu sudah menunggu Liara membawa koper tersebut. Liara pun memberi koper tersebut kepada Ibu dan berniat ingin masuk ke dalam kamar barunya yang tadi sudah diberi tahu oleh Ayah. Namun, baru saja Liara hendak berbalik, dirinya diberhentikan oleh perkataan Ibu.

“Lia, kamu gak mau kenalan sama tetangga sebelah, Nak? Tetangga kita itu temen Ibu pas SMP, dan katanya juga dia punya anak perempuan yang seumuran sama kamu, samperin gih sekalian kasih oleh-oleh ini sama temen Ibu!” Ibu menyodorkan kepadaku bingkisan berupa makanan yang sengaja dibawa untuk diberikan kepada teman saat Ibu SMP yang rupanya juga kini menjadi tetangga sebelah Liara.

Tak perlu waktu lama untuk Liara mencari rumah tetangganya tersebut, karena tepat di sebelah rumahnya sudah terdapat rumah yang dimaksud oleh Ibu tadi. Dengan pelan Liara mengetuk pintu rumah tersebut sebanyak 3 kali. Terlihat pintu terbuka dengan menampilkan seorang perempuan paruh baya dengan senyuman hangatnya.

“Kamu anaknya Ratna ya, Ibu kamu udah bilang tadi kalau kamu mau kesini. Mau masuk dulu gak? Biar tante panggilin anak tante. Sebentar ya.”

Tante yang belum Liara ketahui Namanya, terlihat memanggil anak perempuannya yang mungkin kini sedang berada di dalam. Tante tersebut kembali menampilkan dirinya bersama dengan seorang anak perempuan yang Liara pikir seumuran dengannya.

“Nah ini dia anak tante, Namanya Aila, Aila temenin gih keliling-keliling daerah sini biar dia tau.” Anak Perempuan tersebut dengan semangat menarik tangan Liara agar dapat mengikutinya, kami berkeliling melewati pemukiman warga di seberang dengan Aila yang terus bercerita tentang keadaan di sekitar rumah baru Liara. Liara yang semula diam kini mulai menunjukkkan senyum manisnya pada Aila, ia juga turut bercerita tentang dirinya yang selama ini tidak memiliki teman baik. Aila yang mendengar hal tersebut turut berduka cita karena kehilangan sahabat dekat Liara, Aila menawarkan Liara agar dapat menjadi sahabat dan tentu saja langsung diiyakan oleh Liara.

Beberapa bulan telah Liara lewati dengan Aila di sampingnya, kini Liara sudah kembali menjadi anak yang ceria seperti dulu. Liara akui bahwa kedatangan Aila di kehidupannya mampu membuat Liara sedikit mengikhlaskan kepergian sahabat terbaiknya, Kaisya. Namun, nyatanya kebahagiaan yang Liara peroleh dari Aila tak berlangsung lama karena minggu depan Liara dan keluarganya akan kembali pulang ke rumah mereka yang semula. Pekerjaan Ayah Liara sudah kembali dipindahkan, dan karena itulah Liara harus kembali berjauhan dengan teman barunya. Liara memilih mengajak Aila di sore hari sebelum keberangkatannya pulang.

“Aila, ini aku kasih untuk kamu sebagai tanda persahabatan kita. Jaga baik-baik ya, maaf karena kita gak bisa main lagi karena aku besok udah harus pulang ke rumah lamaku.” Ucap Liara dengan menghadap ke arah Aila.

“Iya, gak papa kok. Kamu jaga diri ya di sana, kalau sempet nanti aku bisa kasih surat untuk kamu.”

“Oke, ditunggu ya!” Liara dan Aila menghabiskan waktu dengan bersenda gurau sampai senja menunjukkkan rupanya. Aila mengelus boneka penguin kecil yang Liara berikan padanya, seulas senyuman terpatri di wajah keduanya. Liara sekarang tidak takut lagi untuk memulai pertemanan dengan orang baru karena dengan bersama Aila, ia tidak takut untuk memulai hal yang baru. (BP/ KM)*

 

Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *