Oleh: Lutfia Shinta (Siswa SMPN 3 Koba)
“Jangan.”
Teriak Dara dengan keras, ia berusaha meraih gulungan tua yang tergeletak di lantai.
Di sekelilingnya, api menyala tanpa henti, membakar habis rak-rak di perpustakaan tersebut yang menyimpan banyak kata-kata kuno yang tersimpan lama di perpustakaan tersebut.
Asap tebal membuat Dara sulit bernapas. Ia hampir tidak bisa berdiri. Dara berusaha untuk mencari jalan keluar dari perpustakaan tersebut, namun ia tahu: gulungan tua di tangannya bukan hanya gulungan biasa karena di dalam gulungan tua itu ada kata terakhir dari sebuah bahasa yang hampir punah. Jika kata itu hilang, maka satu sejarah manusia akan lenyap untuk selamanya.
“Lemparkan padaku!” teriak Arka dari seberang reruntuhan, sambil melewati tiang-tiang yang berjatuhan dari atap perpustakaan. Namun lantai terus berguncang. Tiang-tiang runtuh. Suara gemuruh memenuhi seluruh ruangan. Dara sadar, ia tidak punya banyak waktu lagi sebelum semuanya hancur.
Dara semakin panik karena ia pikir tidak ada lagi jalan untuk keluar. Di tengah kepanikan itu, Tiba-tiba muncul sebuah sosok hitam yang disebut makhluk purba —- sosok penjaga yang
selama ini mereka anggap hanya cerita legenda: sosok tanpa suara, pemakan kata-kata yang terlupakan. Matanya yang menyala mengarah pada gulungan tua yang di genggam Dara, ia tampak lapar. Seperti ingin memakan gulungan tua itu.
“Berikan padaku, maka kau akan menemukan jalan keluar dari bahaya ini,” bisiknya, suaranya sangat pelan seperti desir angin, namun terdengar mematikan.
Jantung Dara berdetak kencang, tubuhnya gemetar. Di seberang sana sahabatnya Arka menunggu untuk menyelamatkan kata itu. Sementara, ada makhluk purba menyeramkan yang menawarkan jalan untuk keluar dari kematian.
Dara menutup mata, lalu melemparkan gulungan tua itu ke arah Arka. “Bahasa tidak akan pernah mati selama ada yang mempercayainya.” Teriak Dara dengan keras.
Namun, kejadian terjadi di luar dugaan. Gulungan tua itu tidak jatuh ke tangan Arka, melainkan gulungan tua itu memancarkan cahaya biru dan melayang di udara. Tiba-tiba, cahaya itu pecah menjadi ribuan huruf bercahaya yang berterbangan. Tiang-tiang runtuh, api mereda.
Huruf-huruf itu membentuk menjadi lingkaran, berputar di atas kepala mereka, kemudian masuk ke tubuh Dara. Ia terjatuh, berteriak kesakitan, urat-uratnya keluar. Arka menjerit dan kaget ketika melihat kejadian yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya bakalan terjadi, Arka mencoba mendekat, namun kekuatan tak terlihat menahannya.
Setelah semua berhenti, Dara berdiri kembali. Matanya memancarkan cahaya biru. Ketika ia mencoba untuk bicara, suaranya menjadi aneh, bukan hanya berasal dari satu suara, tetapi ribuan bahasa yang keluar:
“Aku adalah kata. Aku tidak bisa diselamatkan, karena aku layak memilih siapa yang pantas menggunakan diriku.”
Arka terdiam, ia tidak bisa berkata apa-apa. Dara sahabatnya yang hanya manusia biasa kini telah berubah menjadi perwujudan bahasa yang hampir hilang. Makhluk purba menyeramkan berteriak ketakutan, lalu hancur menjadi debu tanpa sisa.
Di tengah keheningan mencekam, Dara menatap Arka dengan senyum sendu.” Aku masih Dara, tetapi aku telah berubah. Aku harus pergi dan membawa pengetahuan ini melintasi zaman, sampai ada generasi baru yang siap melanjutkannya.” Seru Dara yang kini telah berubah menjadi perwujudan dari sebuah bahasa itu sendiri, lalu pergi meninggalkan Arka.
Arka tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya bisa diam dan melihat ketika tubuh Dara berubah menjadi cahaya biru. Kemudian pecah menjadi ribuan huruf-huruf yang bercahaya dan terbang ke seluruh penjuru dunia melalui langit malam.
Setelah semua selesai, hanya tersisa kesunyian dan selembar kertas kosong di tangan Arka.
Ketika ia menyentuh kertas itu sebuah kalimat tiba-tiba muncul dengan sendirinya di kertas kosong itu: “Bahasa tidak pernah mati. Bahasa hanya mencari generasi baru untuk terus hidup dan berkembang.” (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025.












