Oleh Dato’ Akhmad Elvian *)
Ada sekelompok kecil masyarakat di Pulau Bangka yang tidak mau menerima Berita Proklamasi Kemerdekaan. Kelompok tersebut tergabung dalam Tentara Keamanan Tionghoa (TKT) atau Po An Tui, sering juga disebut Poh An Tui. Mereka tidak mendukung Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dan masih berharap Belanda akan kembali berkuasa di pulau Bangka. Po An Tui atau TKT membentuk organisasinya dengan pusat perkumpulan atau barisan di Kota Pangkalpinang. Kontak fhisik bersenjatapun terjadi antara TKR dan TKT atau Po An Tui di pulau Bangka, terjadi di beberapa kampung di Pangkalpinang, terjadi juga di kampung Celuak, Belinyu, Lumut, Toboali dan Payung. Kontak bersenjata TKR dan TKT berlangsung sampai dengan berdirinya TRI (Tentara Republik Indonesia) dan berakhir sejak kedatangan tentara sekutu di pulau Bangka, pada pertengahan bulan Februari Tahun 1946.
Tentara Keamanan Tionghoa (TKT) atau Po An Tui merupakan organisasi yang didirikan oleh kaum Tionghoa di Indonesia pada Tanggal 1 Januari 1946, sebuah milisi yang terdiri dari pemuda Tionghoa yang bertujuan melindungi warga Tionghoa dari hal-hal yang tidak diinginkan, yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab (namun dalam kenyataannya mereka mendukung aksi tentara sekutu dan hadirnya Belanda kembali (Gunawan, dkk, 2015:113). Tentara Keamanan Tionghoa (TKT) di Bangka umumnya berasal dari bekas pekerja-pekerja Tambang Timah perusahaan Tambang Timah Belanda BTW (Bankatinwinning), dan mereka mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan sekutu dan pasukan NICA Belanda di pulau Bangka dengan melakukan latihan baris berbaris di sekitaran pusat pasar (pasarloodsen) Kota Pangkalpinang. Disamping Po An Tui atau TKT, Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di pulau Bangka, juga tidak diterima oleh orang Timur Asing atau golongan minoritas (vreemde oosterlingen) serta para pekerja yang bekerja pada instansi pemerintah Hindia Belanda di pulau Bangka, walaupun sikap penentangan atau ketidaksetujuannya tidak begitu ditampakkan seperti yang dilakukan oleh Po An Tui atau TKT.
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA. 17 Agustus 1945-17 Agustus 2025.
*) Sejarawan Bangka Belitung Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.












