Oleh: Fatimah Naurah Muhammad (Siswa MTs Negeri 1 Bangka Tengah)
“Hei Ali. Bagaimana persiapan kita? Sudahkah hal yang kita butuhkan kau siapkan?” Pemuda berkacamata itu bertanya selagi ia memastikan bahwa semuanya sudah disiapkan. “Tentu, kita tinggal menunggu orang itu datang. Jangan khawatir soal barang dagangan, semua sudah ku siapkan.” Ali mengusap peluh di dahi. Mentari pagi bersinar jauh di atas sana. Kicauan burung terdengar laksana nyanyian dewi nirwana. Tetesan embun pagi yang sejuk bertemu dengan tanah. Diiringi semilir angin yang bermain pada celah pepohonan.
Sinar mentari bersinar terang seperti harapan yang ada pada jiwa dua pemuda ini. Persiapan sudah dilakukan jauh-jauh hari demi mengubah nasib. Desa mereka berada jauh di pelosok. Butuh waktu hampir seharian penuh untuk tiba di kota Zamrud. Kota yang terkenal dengan arsitek yang memikat hati, lautan yang berkilau laksana emas di sore hari, juga suasananya yang romantis. Mengundang turis berdatangan. Sungguh daya tarik yang berbeda dengan desa mereka.
Di tengah kesibukan mereka, langkah kaki tersengat. Umar menoleh ke sumber suara. Tampak sosok wanita dengan jubah coklat berjalan mendekat. Ah, orang itu sudah tiba. “Selamat pagi, nona.” Umar menyapa dan menghampirinya untuk berjabat tangan. Wanita itu membalas dengan senyum sebelum membalas uluran tangannya. “Ya, pagi. Senang bekerja sama dengan anda.” Ali berdiri tak jauh dari mereka. Ia melambaikan tangannya.
“Kami lah yang seharusnya berucap demikian. Harga yang kami tawarkan bukan harga terbaik, namun kau tetap saja kau menerimanya dengan senang hati.” Wanita itu mengangguk. “Tidak apa, kumaafkan. Namun sebagai ganti agar kita imbang, untung dagang yang kau dapat harus diberikan padaku sebesar sepuluh persen. Bagaimana? Itu adalah tarif termurah yang bisa kau dapatkan untuk menyewa seorang penerjemah.” Helen meyakinkan. Wanita itu bermain mata. Ia tak memalingkan pandangan dan hanya menatap lurus. Tatapannya kuat, tak seorang pun dapat membantah.
“Baiklah. Kesepakatan yang bagus.” Umar mengangguk dan mengeluarkan kertas putih sebelum menuliskan perjanjian di dalamnya. Wanita itu menandatangani kertas perjanjian, begitu pula Umar. Kemudian stempel diberikan. Kertas bukti perjanjian. Siapapun yang melanggar akan terkena tindak pidana.
“Ayo pergi. Jangan mengulur lebih banyak waktu.” Ali menarik gerobak mereka dan membawanya menuju jalan turun bukit. Mereka tak cukup kaya itu untuk membeli seekor kuda atau bahkan keledai hanya untuk menarik gerobak mereka. Hamparan sawah subur tampak menyejukkan hati sejauh mata memandang. Para petani sibuk dengan sawah mereka yang luasnya mencapai puluhan hektare itu. Sesekali menyapa saat berpapasan. Desa yang subur dan tentram itu jauh dari dunia luar. Bahasa daerah yang kental dan kurangnya akses ke dunia luar membuat mereka kesulitan belajar bahasa asing yang mungkin akan membantu mengangkat ekonomi mereka. Jangan kau tanya kemana para penguasa itu pergi.
Hamparan sawah sesegera mungkin tergantikan oleh hutan hujan yang lembab. Helen berjalan di depan Umar dan Ali. Jalan itu sempit. Cukup sulit membawa gerobak keluar dari sana. Namun, hanya itu akses terdekat yang mereka miliki. Keheningan dipecah oleh Ali. “Aku tiba-tiba terpikirkan oleh sesuatu.” Umar yang mendengar itu menatapnya heran. “Kau meninggalkan barang?” Ali menggeleng. “Tidak.” Umar berpikir sejenak. “Kau melupakan sapu tanganmu?” Umar kembali bertanya dan kembali dibalas tidak oleh Ali. “Sapu tangan tak begitu penting.”
“Oh ya? lalu apa yang sedang kau pikirkan?” Ali terdiam sejenak mendengar pertanyaan itu sebelum kembali angkat suara. “Hanya merasa sedikit resah. Bagaimana jika kita gagal? Kita akan kembali ke kampung halaman tanpa uang dan sawah?” Ali menelan ludah. Penyesalan mulai menyelimuti. “Kita bahkan belum mulai berdagang dan kau sudah lebih dulu mencemaskan hal itu.” Umar tetap tenang. Ia bukan seseorang yang mudah menyerah demi mencapai mimpinya. Rasa pesimis mulai menyelimuti Ali. “Justru itu yang ku khawatirkan. Bagaimana jika kita gagal secepat mungkin? Katakanlah sekarang kita gagal membawa gerobak ini sampai ke kota itu. Kau yakin kau mau pulang dengan malu yang luar biasa?”
“Maksudmu?” Umar mengernyitkan dahi, menatap tingkah aneh Ali. “Yaampun! Kau benar-benar tidak mengerti? Di luar sana, kita akan menghadapi orang-orang yang memiliki pengalaman yang lebih banyak. Sekarang lihat kita. Pengalaman apa yang kita punya? Bermain biji karet?” Ali mengusap wajah sementara Umar hanya terkekeh. “Aku tidak terlalu peduli bahwa kita tak terlalu berpengalaman. Kau tahu? Justru ini adalah awal yang baik untuk mencari pengalaman itu. Belajar dari kesalahan, juga belajar mengambil keputusan. Tidak ada guru yang lebih baik dibandingkan pengalaman itu sendiri.”
Kalimat terakhir Umar membuat suasana hening kembali. Umar benar mengenai pengalaman yang akan menuntunmu lebih baik. Satu pertanyaan besar di benak Ali, bagaimana cara menghindar dari kegagalan yang tak dapat diprediksi itu? “Terimakasih, Umar. Kau tak menjawab pertanyaan terbesarku. Namun ku rasa itu cukup untuk membuatku batal pulang ke rumah.”
“Tidak masalah. Lain kali jika ada sesuatu di benakmu, katakan padaku.” Ali mengangguk. Suara aliran sungai terdengar samar, ujung hutan itu terlihat. Tugu dengan corak tulip tampak di hadapan mereka. Bunga teratai tersusun rapih di tengah danau. Hamparan tanah kosong itu tak memberikan kesan apapun. Tulip di desa itu telah habis diserang hama sebulan yang lalu. “Desa ini telah gagal. Bagaimana jika nasib kita pun sama dengan para tulip itu?”
“Sudah cukup, Ali. Lebih baik kita coba beristirahat di desa ini.” Umar memotong ucapan Ali sebelum ia kembali berbicara. Gerobak ditarik ke tengah desa Tulip. Tampak warga mulai berkerumun dan melihat-lihat barang dagangan mereka. Pedagang mulai jarang datang setelah desa itu kehilangan daya tariknya. Penduduk ramai membeli dengan antusias. Namun beberapa berhasil memanfaatkan kesempatan itu untuk mencuri. Beberapa mengantongi barang tanpa disadari oleh mereka. Warga yang sadar pun tak cukup berani untuk melapor.
Dua jam berlalu. Gerobak kembali ditarik. Umar menghitung pendapatan dan selisih barang yang telah mereka jual. “Apa ini? Kita rugi hampir sepuluh koin perak!” Helen yang mendengar hal itu menoleh dan menghela napas. “Para pencuri itu lagi. Manusia di desa itu benar-benar memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Ali yang asyik menarik gerobak menghela napas setelah mendengar kabar itu. Mungkin ini adalah pelajaran pertama untuk mereka: waspada.
***
Lima desa terlewati. Perjalanan ditempuh dari tengah pulau hingga bukit yang terletak tak jauh di pesisir barat. Hamparan laut oranye mulai terlihat. Garis horizon dengan sabar melahap sang surya yang tampak indah laksana surga dunia. Laut yang semulanya biru itu memancarkan warna oranye cerah yang kontras dengan airnya yang biru gelap. Kawanan burung berterbangan di atas langit menuju tempat pulang. Gerobak mulai ditarik menuruni bukit. Pegal di tubuh dengan cepat terhempas sesaat setelah pemandangan itu tampak. Lampu jalanan dinyalakan oleh petugas dengan menyalakan sumbunya. Kota itu sungguh mengesankan. Toko perhiasan zamrud berhamburan di segala tempat. Kapal-kapal nelayan dan pedagang tersusun di wilayah lain kota. Susunan kota yang indah itu menjelaskan mengapa ia begitu dicintai turis asing.
Saat gerobak ditarik memasuki kota. Orang-orang berpakaian tradisional mengepung. Pedang dihunuskan ke arah mereka. Pria bertubuh perkasa dengan kain kulit macan yang terlilit di pinggangnya mendekat. Umar menatap panik. Ada apa ini? Tiba-tiba sekali. Pria itu berbicara dengan bahasa yang begitu asing. Ia berteriak dnegan lantang lalu menunjuk-nunjuk gerobak mereka. Helen menatap sejenak sebelum berbicara dengan pria itu sesaat. Berusaha meluruskan semuanya. “Ayo, kita boleh masuk sekarang.” Ali sungguh kebingungan. Sedari tadi kakinya gemetar berpikir bahwa dia akan dimusnahkan saat itu juga.
“Apa yang pria itu katakan barusan?” Umar bertanya. Ali mengangguk. “Nadanya kasar sekali! Aku mengira aku akan kehilangan nyawaku.” Helen terkekeh. “Kalian benar-benar kosong. Dia hanya bertanya isi gerobak yang kita bawa. Aku mengatakan padanya kita datang dari desa jauh untuk berdagang. Lalu ia mengiyakan.” Umar mendengus. “Oh ya? kalau begitu kau begitu pintar, Helen.” Yang disindir mengangguk bangga. “Aku menerimanya sebagai pujian.” Gerobak mereka terhenti di pusat kota. Gerobak pedagang lain tampak dimana-mana. Turis asing asyik berbelanja bersama orang tersayang.
Ali menoleh ke gerobak lain saat ia mendengar dialek asing yang begitu kental hingga ia tak dapat mengenali darimana asalnya. Umar berusaha tetap tenang sembari mempersiapkan gerobaknya. Helen turun tangan, mulai berbicara mempromosikan dagangan mereka. Bibirnya membentuk kurva terbuka ke bawah saat ia menyadari bahwa bahasa yang mereka gunakan adalah salah satu bahasa yang tak terlalu ia kuasai. Peluh keraguan mulai membasahi pipinya selagi ia mencoba mengingat dan berbicara. Pembeli mulai berdatangan satu persatu. Masalah baru muncul. Helen kerap kali keliru saat menerjemahkan. Bahasa yang terdengar tidak sopan mulai menyulut amarah pembeli. Umar dan Ali bahkan tak tahu-menahu akan hal itu. Mereka hanya sibuk menyiapkan pesanan. Helen menggigit bibir bawahnya, ia tidak mau menampakkan kelemahannya begitu saja. Bagaimana jika upahnya dikurangi karena hal itu. Tidak boleh.
Ia pura-pura tersenyum seolah tak ada masalah. Mentari telah terbenam. Kota itu masih juga ramai oleh pengunjung seolah tak kenal lelah. Pencurian mulai rentan terjadi. Kota nirwana itu mulai menunjukkan bentuk aslinya. Bau pesing tercium di sudut gelap kota. Pemabuk senang berkeliaran saat malam. Begitupun toko perhiasan yang sekarang menjadi pusat judi. Suasana begitu ribut dan sibuk sampai sekelompok orang yang mendatangi mereka siang tadi datang dan para pedagang mulai berbaris memberikan dagangan mereka. Umar dan Ali menatap bingung peristiwa itu. Helen mengernyitkan dahi. Dialek yang terpecah belah tak beraturan itu membuat pusing kepala. Lagi-lagi pria bertubuh perkasa itu menghampiri.
Ia kembali menunjuk gerobak dagang mereka. Helen menjawab dengan menjelaskan bahwa itu gerobak dagang. Namun, pria itu tampak tak senang dan mengulang perkataannya. Ia begitu marah hingga kali ini dengan kasar berteriak. Anak buahnya yang sedari tadi memantau dengan segera mengobrak-abrik gerobak mereka. Umar dan Ali ditahan, sementara Helen berusaha menghalangi. “Hei! Hei! Mau kau apakan barang daganganku?” Ali membentak dan memberontak. Ia begitu takut sesuatu yang buruk akan terjadi. Umar hanya menatap dalam hening. Sekelompok pria bersenjatakan tombak itu pergi setelah mengambil sedikit dari barang dagangan mereka lantas pergi.
Kekecewaan menyelimuti hati malam itu. Umar menatap gerobak mereka yang berantakan dengan kecewa. “Helen, bukankah kau mengerti betul apa kata pria itu? Namun mengapa yang tak berbuat sesuatu?” Ali mengeluh. Ditatapnya secarik ketas perjanjian yang lusuh terinjak-injak di tanah. Wajah Helen pucat. Ia tidak terlalu mengerti bahasa dialek kota ini. Mana mungkin ia menjelaskan yang sebenarnya sekarang? Helen hanya diam sebelum angkat suara. “Pria barusan adalah penjahat. Ia berkata: mengapa kau tidak memberikan barang daganganmu? Berikan sekarang atau mati! Aku berusaha menawar namun ia tidak mendengarkan.
Umar dan Ali saling tatap. Amarah mulai timbul dalam hati kecil mereka. Apakah orang-orang di kota ini setianya sejahat itu? Ia menggeram dan merapikan gerobaknya. “Cukup untuk hari ini. Baiknya kita lanjutkan di esok hari.”
***
Tiga hari berlalu. Mempelajari bahasa yang benar-benar asing tidak semudah itu apalagi sembari bekerja. Mereka butuh adaptasi. Tiga hari ini mereka baru lancar menyebutkan angka. Helen terus membual, membuat orang lain di kota ini terlihat jahat. Awan mulai berkumpul di langit hampa. Suasana gelap tercipta dan membuat bumi terasa dingin. Hembusan angin terasa lebih kencang dari biasanya. Ini aneh sekali. Baru saja beberapa menit yang lalu cuaca terik dan panas. “Ah, yang ini harganya lima belas koin perunggu.”
“Tidak bisa ditawar?” Belum sempat pertanyaan itu dijawab oleh Ali, tanah bergetar dahsyat. Menggemparkan seisi kota. Gempa bumi terjadi secara tiba-tiba. Kekuatannya yang cukup besar itu merobohkan gedung tua yang rapuh dalam sepersekian detik. Teriakan ketakutan terdengar. Warga meminta tolong saat gemuruh petir menggelegar di udara. Angin berhembus semakin kencang. Gempa susulan datang. Warga mulai ketakutan dan berhamburan ke segala arah. Badai topan mulai terbentuk di area sekitar tambang zamrud yang letaknya tak begitu jauh dari pesisir. Tiupan terompet terdengar di seluruh penjuru kota. Penduduk mulai berlarian menuju sumber suara. Dengan cepat menyisakan Uma, Ali, dan Helen. “Ada apa ini? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?” Helen menelan ludahnya. Ia tak tahu persis makna terompet yang ditiup. “Sepertinya hal buruk akan terjadi. Kita harus kemana?”
Kebingungan melanda. Salah satu penduduk berteriak kepada mereka, menunjuk-nunjuk dengan kasar. “Pria itu sedang memarahi kita?” Ali bertanya, Helen mengangguk. “Kurasa iya.” Pria itu berlari mendekat dan terus menunjuk-nunjuk. Umar hanya diam sebelum ditarik dan diseret paksa oleh pria itu. Ali dan Helen yang terkejut ikut menyusul. “HEI! BERHENTI DISANA! MAU KEMANA KAU?” Ali berteriak, pria itu berlari cepat sekali. Badai topan itu terus mengejar saat mereka mulai memasuki kawasan hutan. Hujan mulai turun membasahi bumi. Napas sesak terhalang air. Nyawa di ujung tanduk saat gempa susulan kembali terjadi. Mereka berlari sejauh mungkin, menaiki bukit dengan sekuat mngkin. Paru-paru terasa hampir sobek karenanya. Air laut sudah sedari tadi surut setelah gempa susulan terjadi. “BERHENTI- HAH! LEPASKAN DIA!” Pria itu mengabaikan mereka dan terus berlari. Semakin tinggi bukit yang mereka naiki. Pria itu melempar umar tepat di atas bukit sebelum meringkuk di bawah pohon dengan memeluk batangnya. Helen tersandung batu saat Air laut mulai kembali dengan kecepatan tinggi. Ali dengan terengah-engah berusaha menariknya dengan sisa tenaga yang ada. Tidak boleh ada yang mati sekarang. Sisa detik-detik terakhir sebelum arus tsunami menghempas mereka dengan kecepatan tinggi. Ali berusaha berpegangan pada kayu sekuat mungkin. Bangunan kota rata dengan tanah. Pria aneh itu telah menyelamatkan hidup mereka dari bencana yang terasa seperti kiamat ini.
***
Beberapa jam berlalu setelahnya. Mereka selamat berkat pria yang mereka kira berkata kurang ajar pada mereka. Ali dan Umar menatap sendu gerobak mereka yang tak ada lagi wujudnya itu. “Helen, katakan pada kami sekarang. Kau yakin pria itu penjahat?” Helen tampak ragu mendengar pertanyaan itu. Napasnya tercekat. Tubuhnya kaku. Lidahnya kelu. “Iya-“
“Jangan berbohong.” Umar menyela. Helen menarik napas panjang sebelum menarik kata-katanya. “Iya, aku berbohong. Aku tak begitu mengerti bahasa campuran yang ada di kota ini. Sayangnya begitu. Aku bersedia jika kau memilih menuntutku ke pengadilan.” Helen menunduk, tak sanggup menatap. Umar dan Ali menatapnya lega. Benar ia berbohong. “Kau tak seharusnya begitu. Kau tau? Jika saja pria itu tak membantu. Mungkin kita sudah lama mati.”
Ali mengangguk. “Dan kami tak sudi mati bersamamu.” Helen menelan ludahnya. “Kalian akan menuntutku?” Umar berpikir sejenak. “Tidak ada bukti. Surat perjanjian itu hancur diseret arus tsunami.” Helen bernapas lega, menggigit lidahnya dengan perasaan bersalah. “Kau beruntung, kawan. Senang bekerja sama denganmu.” Umar mengulurkan tangannya. Ia bersedia menerima apa yang telah terjadi. Helen dengan ragu menjawab uluran tangan itu. “Ya, senang bekerja sama denganmu.” (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025.












