Oleh: M. Isa Az Zikri (Siswa SMPN 2 Lubukbesar)
Bel berbunyi menandakan bahwa murid-murid harus segera berkumpul di lapangan. Di kelas VIII A ada seorang murid yang sangat nakal, dia sering bolos upacara, bolos pelajaran, dan tidak mau piket. Hal inilah yang membuat dia disebut sebagai murid nakal. Nama siswa tersebut adalah Aldi. Sekretaris yang mengabsen Aldi pun ingin langsung membuat absensinya bolos, tapi ia menengok sekeliling dan ternyata Aldi mengikuti upacara. Terdengar guru yang memanggil seluruh siswa untuk berkumpul menggunakan pelantang suara.
“Anak-anak segera berkumpul di lapangan!” Teriak guru piket.
Anak-anak pun segera berkumpul mereka tahu betul jika mereka terlambat maka mereka akan dihukum.
“Eh Rin, tumben banget tu anak ikut upacara?” Heran sekretaris yang bernama Caca.
“Siapa Ca?” Tanya Rini heran.
“Itu loh si Aldi!” Jawab Caca.
“Iya-ya biasanya bolos dia.” Rini ikut heran.
“Alah palingan cuma hari ini saja, kita liat ke depannya.” Jawab Caca.
Minggu depan pun berlalu dan rupanya Aldi tetap ikut melaksanakan upacara. Tidak hanya itu ia juga rajin piket kelas, mengerjakan tugas. Tingkahnya berubah 180 derajat.
“Eh Rin liat deh, Aldi ikut upacara lagi?” Tanya Caca heran.
“Wah kesambet apa tuh anak!” Jawab Rini ikut heran.
Rini dan Caca tidak percaya bahwa Aldi si anak nakal begitu rajin upacara dan mengerjakan tugas, tugas yang sudah lama tidak ia kerjakan pun diselesaikannya. Sampai-sampai nilai Aldi yang kosong jadi ada. Tidak hanya Caca dan Rini yang heran wali kelas dan anak-anak lainya yang sudah terbiasa dengan sikap Aldi ikut heran, mereka tak menyangka bahwa anak nakal itu bisa berubah. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa sikap Aldi berubah? Disaat semua bertanya-tanya. Ternyata pada hari terakhir upacara, ada kejadian yang membuat sikap Aldi begitu berubah.
“Aduh upacara lagi, bolos asik nih sambil tiduran di pondok.” Gumam Aldi.
Aldi pun segera menyandang tasnya dan bergegas berlari melewati semak-semak dan memanjat pagar belakang sekolah. Setibanya di pondok, terlihat Aldi mengeluarkan satu bungkus rokok dan membukanya. Aldi mengambil satu batang dan menyalakannya.
“Fuihh….. Nikmatnya.” Senang Aldi.
“Apa kabar ya teman-temanku yang kepanasan karena upacara?” Gumam Aldi.
Tiba-tiba langit menjadi gelap, gerimis hujan mulai turun. Dan terdengar langkah kaki kuda, Aldi tidak begitu peduli, dalam hatinya mana mungkin ada orang yang berkuda di hutan ini, terlebih lagi di zaman sekarang. Tapi itu benar-benar ada. Suara itu berhenti tidak jauh dari pondok. Aldi pun mengintip dari sela-sela pondok, ternyata itu adalah segerombolan tentara belanda. Aldi tak menyangka mengapa masih ada tentara Belanda.
“Apa aku tidak salah lihat, bukannya mereka sudah lama pergi, ya? Kenapa masih ada?” Heran Aldi.
Salah satu Jendral itu berteriak.
“Keluar kau wahai anak buah Depati Amir!” Teriak sang jenderal, kesal.
Ternyata ada seorang yang mengintai camp tentara Belanda. Dia adalah mata-mata yang disuruh untuk menyelidiki kemana saja tujuan para tentara belanda. Terdengar suara kayu patah yang tak sengaja terduduki oleh Aldi. Aldi pun takut bukan main, karena dia pernah membaca diinternet, bahwa para tentara Belanda itu kejam. Banyak rakyat yang disuruh keja paksa bahkan ada yang sampai meninggal karena tidak makan. Aldi ingin segera meninggalkan tempat tersebut, tetapi ia tak tahu bagaimana caranya. Tiba-tiba terdengar suara orang berbisik dari arah jendela pondok.
“Hei anak muda, cepat kemari.” Bisik sosok misterius itu.
“Si-siapa kamu? Apa yang kau mau dariku?” Tanya Aldi takut.
“Tidak apa-apa, ayo cepat ikuti aku, kita kabur dari tentara Belanda!” Jawab sosok itu menyakinkan.
Tanpa pikir panjang Aldi langsung mengikuti sosok itu. Ternyata sosok misterius itu adalah Bujang Singkip, anak buah Depati Amir. Depati Amir diincar Pemerintah Belanda karena ia menentang monopoli timah di Pulau Bangka. Depati Amir tahu betul akal licik para petinggi Belanda.
“Ayo segera kita kabur dari sini!” Tegas Bujang Singkip.
Sesampainya di markas persembunyian, ternyata Depati Amir sedang melakukan pidato untuk berupaya menyatukan rakyat Melayu dan Tionghoa.
“Awak semua, mari kita bersatu menumpas askar Belanda!!” Seru Depati Amir.
Para rakyat Tionghoa pun agak mengerti apa yang dibicarakan Depati Amir. Mereka lalu menyetujui, bersatu demi mempertahankan tanah nenek moyang mereka. Terlihat rakyat berseru menyetujui permintaan Depati Amir tersebut. Depati Amir tidak sendiri, di sampingnya anak seorang pria yang ternyata adalah anaknya yang bernama T.J.N Cing. Bujang Singkip pun memerintahkan Aldi untuk ikut berperang.
“Ape bang! Ku ikut perang?” Tanya Aldi terkejut.
“Aok mulai bisok ka ikot Bang Cing masang ranjau.” Tegas Bujang Singkip.
Aldi pun membayangkan memasang ranjau seperti ia bermain game online seperti bermain call of duty. Aldi melihat bahwa banyak anak seumuranya mau ikut berperang, bahkan ada yang lebih muda darinya.
Pagi hari pun tiba, Terlihat Bujang Singkip yang sedang membangunkan Aldi.
“Woy dek bangun ka pokok harus ikot ke bang Cing.” Bujang Singkip membangunkan.
“Hmmm pagi uge bang, agik ngantuk ku ne semalem dak acak tidok banyak nyamuk sege.” Malas Aldi.
Bujang Singkip pun segera mengangkat Aldi dan mengusap muka Aldi dengan tangannya yang sudah dibasuh dengan air. Aldi pun bangun dan segera membantu Cing mengangkat kotak ranjau yang akan dipakai.
“Dari mane ikak dapet ranjau ne bang?” Tanya Aldi heran.
“Oh pasukan kite menguasai pos terlemah Belanda, dan mengambil persediaan.” Jawab Cing.
“Yoh langsung bai kite ketempat pemasangan e, ka bawek Kutak yang tu.” Kata Cing sambil menunjuk kotak yang satu lagi.
“Aok bang, siap.” Jawab Aldi dengan semangat.
Aldi dan Cing pun sampai di tempat tujuannya.
“Ay ka banyek nyamuk sine bang, abis tanganku bentol-bentol digigit e.” Kata Aldi sambil mengeluh.
“Name ge hutan dek, banyek nyamuk sek.” Jawab Cing.
“Bang? Abang dak sekulah ok?” Tanya Aldi.
“Sekulah? Ka agik idup bai sekarang ge Alhamdullilah. Lah, dak usah banyak tanya bantuku ne masang ranjau ne!” Tegas Cing.
Cing dan Aldi memasang ranjau tidak jauh dari camp tentara belanda, maka mereka harus berhati-hati agar tidak ketahuan. Disaat-saat sedang memasang ranjau ada salah satu tentara yang melihat mereka dan langsung menyuruh pasukan lain mengejar.
“Gawat! Kita ketahuan, lari!” Panik.
Aldi yang tak sempat beraksi pun segera di tarik oleh Cing.
“Apapun yang terjadi jangan menoleh ke belakang!” Kata Cing.
“Iya bang.” Jawab Aldi.
Terdengar suara ledakan, tapi itu tak cukup untuk membuat tentara Belanda berhenti mengejar. Aldi pun sontak menangis karena sebelumya ia tak pernah menyangka bahwa perjuangan para pahlawan begitu susah.
“Berhenti menangis, cepatkan langkah kakimu!” Teriak Cing
Tiba-tiba Aldi tersandung, Cing langsung berbalik dan mengangkatnya tapi ternyata kaki Aldi tersangkut di akar pohon.
“Kau pergi lah dulu bang, jangan khawatirkan aku!” Kata Aldi sambil menangis.
“Berhenti lah mengoceh!” Tegas Cing
Tiba-tiba peluru tertembus di dada Cing, darah mengalir, Cing lemas.
“A-aku akan mati dek, pergilah, jangan sampai perjuangan kita sia-sia!” Kata Cing.
Para pasukan sudah dekat dan berkata kepada Aldi yang sedang menangis.
“Hei kau, Nak ikut cepat bersama kami!” Tegas salah satu pasukan tersebut.
“Tidak!” Kata Aldi sambil menangis
Aldi pun diseret dan dinaikan ke atas kuda. Tiba-tiba awan mulai gelap hujan mulai turun. Dan petir menyambar dengan kuat. Aldi pun terbangun dari mimpi.
“Oh jadi begitu ceritanya, makanya kamu jadi rajin upacara.” Kata Bu Eli selaku wali kelas.
“lya bu aku gak mau ikut perang, lebih baik aku upacara, aku akan lebih menghargai jasa para pahlawan.” Jawab Aldi diiringi air mata. (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025.












