Oleh : Adibatul Aqila Atmarini (Siswa SDN 1 Mendobarat)
Ceblak – Ceblak suang, uang ini uang itu mutatang mutating gelembung mungkep ikan gembung kena tangkep, cak a’em, cak a’em, cak a’em.
Nyanyian itulah semacam mantra yang diucapkan anak-anak Petaling pada tahun 1980-an yang sering bermain ceblak-ceblak suang, nyanyian itu sering bercampur dengan suara ibu-ibu yang sedang berkumpul bercerita. Sesekali ibu-ibu marah karena terganggu oleh suara keras anak-anak yang sedang bermain ceblak-ceblak suang, permainan ini semacam permainan cabut undian, jika benar tebakan maka yang menjadi kacung beralih bermain, jika salah tebakan maka harus siap menerima hukuman dari teman-temannya. Permainan ceblak-ceblak suang ini terdiri dari 5 orang yang bermain, 1 orang menjadi kacung yang bertugas bersujud menghadap ke lantai serta memejamkan mata, sedangkan 4 orang lainnya bermain. Di antara 4 orang yang bermain salah satu mereka memegang 1 butir batu digenggam dan sambil bernyanyi ceblak- ceblak suang. Jika salah menjawab maka secumpuk tahi yang disebut, batasan sampai 3 kali tebakan.
Pagi yang cerah, suara riuh kicauan burung dan kokok ayam seakan menyanyikan lagu untuk alam. Gemericik air sungai yang jernih berpadu dengan sahutan penghuni hutan menambah kesejukan suasana di Desa Petaling, Kecamatan Mendobarat, Kabupaten Bangka, Provinsi kepulauan Bangka Belitung.
Suatu desa yang dikenal dengan Desa Petaling, di daerah itu yang sangat terkenal dengan rumah angker. Sering masyarakat setempat menyebutnya Rumah Asap yaitu bangunan zaman Belanda yang masih berdiri kokoh yang dipenuhi akar batang pohon kiara dan berbagai jenis pohon lainnya yang sudah menyatu dengan dinding rumah tersebut. Selain tempat itu juga sering anak-anak bermain ceblak-ceblak suang karena tempat strategis untuk menghukum teman yang kalah bermain seperti sembunyi gong atau bahasa trennya petak umpet atau mencari uang yang ditanam ke dalam tanah yang telah disembunyikan oleh pemenang main ceblak-ceblak suang. Sering warga seputaran Petaling bercerita tentang angkernya rumah asap tersebut bahkan seputaran warga yang tak jauh dari rumah asap tersebut sering melihat hantu yang menampakkan diri seperti hantu mencadin, mawang beleh muka dan hantu kuyang.
Di desa itu tinggal seorang janda yang bernama Wak Cun, kehidupannya serba kekurangan. Kesehariannya bekerja sebagai pencari upah di perkebunan orang seperti menugal dan menyiangi rumput. la hidup bersama kedua anaknya yang bernama Kicong dan Mieh. Kicong adalah anak sulung sedangkan Mieh anak bungsu.
Sejak suaminya meninggal karena kecelakaan, Wak Cun bekerja keras setiap hari membanting tulang untuk memenuhi kebutuhannya dan menghidupi kedua anaknya. Kebetulan saat itu musim panen sahang seperti biasanya Wak Cun setiap hari pergi mengambil upah di perkebunan orang untuk menyiangi rumput dan memanen sahang.
Hari itu Wak Cun dan kedua anaknya pergi ke kebun untuk memanen sahang yang telah siap dipanen bersama warga sekitar yang mencari upah bersamanya. Di sana terdapat sebuah pondok kecil sederhana untuk beristirahat, atapnya terbuat dari daun rumbia, dindingnya terbuat dari susunan bambu yang telah dibelah kecil-kecil menjadi bilah bambu yang lebar.
Setibanya di pondok kebun, Wak Cun mengajak kedua anaknya untuk membantunya memanen sahang agar mendapatkan panen yang banyak mengingat pengambilan upah itu tergantung hasil pendapatan yang dipetik. Jika banyak hasil yang dipanen maka besar juga upah yang diterima, pengambilan gaji yang diterima itu 1 minggu sekali.
Keesokan harinya seperti biasa Wak Cun pergi mengambil upah, sebelum berangkat Wak Cun selalu menyiapkan sarapan untuk Kicong dan Mieh. Pagi itu Wak Cun bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan untuk Kicong dan Mieh. Karena beras sudah habis, Wak Cun memutuskan untuk memasak ubi rebus dengan terasi yang pedas. Aroma ubi rebus dan terasi yang pedas mulai menyebar di dapur, membuat Kicong dan Mieh bangun dari tidurnya. Wajah Kicong dan Mieh tidak suka ketika melihat ubi rebus dengan terasi di atas meja. Mereka sudah bosan makan ubi rebus setiap hari. Wak Cun menyadari reaksi Kicong dan Mieh. Ia merasa frustrasi karena tidak bisa menyediakan makanan yang lebih baik. Kicong dan Mieh menolak makan ubi rebus dan memilih untuk pergi langsung ke sekolah dengan perut kosong. Wak Cun merasa sedih dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia berharap sepulang mengambil upah langsung mendapatkan uang agar bisa membeli beras dan menyediakan makanan yang lebih lezat untuk Kicong dan Mieh. Karena menolak makanan ubi rebus dengan terasi, Wak Cun berpesan agar mereka mencicipi ubi rebus dengan terasi meskipun hanya sedikit, kalau tidak nanti kepunen.
“Apa itu kepun Mak?” tanya Mieh penasaran.
“Kepun adalah pantangan dalam masyarakat Bangka Belitung. Jika kita menolak makanan atau minuman yang sudah disajikan, katanya bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atau tertimpa musibah.”
“Ah, itu hanya akal-akalan orang saja, Mak!” jawab Mieh kasar.
Mendengar perkataan Mieh, Wak Cun tak memaksanya. Tapi dalam hati orang tua itu menggerutu. Kemudian ia berpesan agar Kicong dan Mieh selalu berhati-hati. Tanpa berpikir panjang Kicong dan Mieh langsung berangkat ke sekolah tanpa mempedulikan nasihat ibunya.
Setiba di sekolah seperti biasanya Kicong dan Mieh belajar dengan semangat meskipun perut mereka kosong. Ketika jam istirahat, Kicong mengajak teman-temannya yaitu Abdul, Uung, Jilan, Konita dan adiknya Mieh untuk bermain ceblak-ceblak suang di rumah asap ketika sepulang sekolah. Setibanya pulang sekolah Kicong, Mieh dan teman-temannya langsung pergi ke rumah asap untuk bermain ceblak-ceblak suang. Kicong yang jadi kacung sedangkan teman-temannya bermain sambil menyanyikan lagu ceblak-ceblak suang, uang ini uang itu mutatang mutating gelembung mungkep ikan gembung kena tangkep, cak a’em cak a’em, cak a’em. Setelah tiga kali Kicong menebak salah, teman-temannya menghukum Kicong bermain sembunyi gong. Lagi dan lagi Kicong sebagai kacung yang harus mencari teman-temannya yang bersembunyi.
Kicong mulai menghitung, “Satu, dua, tiga..sepuluh.” Kicong membuka mata dan mulai mencari teman-temannya. Kicong mencari di balik pohon kiara, di semak-semak dan di balik dinding, tapi tidak ada yang terlihat. Tiba-tiba Kicong mendengar suara bisikan di telinganya, “Ceblak-ceblak suang uang ini uang itu mutatang mutating gelembung mungkep ikan gembung kena tangkep di sini.” Suara itu lembut dan menyeramkan. Kicong mencoba mencari sumber suara itu, tapi tidak ada yang terlihat. Kicong terus mencari dan kemudian Kicong menemukan Abdul dan Uung yang bersembunyi di atas pohon kiara. Kicong berlari ke arah belakang dinding dan akhirnya Kicong bertemu Jilan dan Konita.
Waktu pun semakin sore, Kicong mencari Mieh berkeliling di seputaran rumah asap belum juga ketemu, lalu Kicong meminta bantuan temen-temannya. Mereka terus berusaha mencari Mieh dan memanggil Mieh berkali-kali tetapi tidak ada sahutan. Akhirnya Kicong langsung pulang memberi tahu ibunya bahwa Mieh hilang di rumah asap. Wak Cun mendengarkan Mieh hilang langsung terkejut dan tidak percaya apa yang dikatakan Kicong. Berita pun menyebar luas atas kejadian hilangnya Mieh. Wak Cun bersama warga pun mencari Mieh dan hasilnya pun sia-sia.
Setelah 2 hari pencarian ada satu warga menyarankan berikhtiar meminta bantuan kepada Atok Usen yang dikenal sebagai pemimpin adat atau dukun yang terkenal di kalangan warga Petaling. Setelah meminta bantuan kepada Atok Usen, Atok Usen langsung membaca mantra dan menerawang. Setelah itu Atok Usen berkata bahwa anak Wak Cun sedang bermain sembunyi gong sambil bergurau di rumah asap di siang hari. Tanpa sengaja, anak Wak Cun mengambil satu batu yang dilarang diambil, sehingga membuat makhluk setempat merasa terganggu dan marah. Akibatnya, makluk itu menyembunyikan anak Wak Cun, membuatnya tidak bisa dilihat dengan kasat mata. Sayangnya anak Wak Cun pingsan dan tak sadarkan diri. Atok Usen menggelengkan kepala, merasa sedih atas kejadian itu.
“Kita harus berhati-hati, Wak Cun. Makhluk-makhluk itu tidak suka jika kita mengganggu mereka!” katanya.
Wak Cun hanya bisa menangis, tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mencari anaknya. Dia berharap ada cara untuk mengembalikan anaknya. Lalu Atok Usen menyarankan minta pertolongan kepada Allah SWT dan berdoa membaca Ayat Kursi, Surah Al-Iklas, Al-Falaq dan An-Nas, insya Allah dengan sendirinya akan muncul di balik pohon kiara. Sepulang dari rumah Atok Usen, Wak Cun langsung balik ke rumah asap untuk melakukan ritual apa yang sudah disampaikan Atok Usen. Tak lama kemudian Mieh muncul di balik pohon kiara dengan kondisi pucat dan tak sadarkan diri. Wak Cun pun menangis histeris melihat anaknya yang tak sadarkan diri. Warga pun membawa Mieh pulang ke rumah Wak Cun dan mengobatinya. Selang beberapa malam dari kejadian Mieh, pada malam ketiga Wak Cun bermimpi bertemu dengan Akek Kuyang. Dalam mimpi, Akek Kuyang memberi pesan.
“Anak Wak Cun selalu bergurau, mengganggu dan mengambil hak yang bukan miliknya. Jadikan ini pembelajaran untuk manusia. Hidup ini adalah tentang berdampingan, meskipun kalian manusia tidak bisa melihat kami dengan kasat mata. Jangan asal bergurau dan mengambil hak yang bukan milik kita!”
Setelah terbangun dari tidurnya, wak Cun langsung bersedih, merenungi kesalahannya karena kurang perhatian menjaga anaknya. Akhirnya Wak Cun menceritakan mimpinya kepada Kicong dan warga sekitarnya. Warga sekitar mendengarkan dengan saksama dan mereka semua sepakat untuk menjadikan kejadian ini sebagai pembelajaran.
“kita harus lebih berhati-hati dan menghormati lingkungan sekitar, tidak hanya manusia, tapi juga makhluk lainnya tidak bisa kita lihat,” kata salah satu warga.
Wak Cun menangis merasa menyesali kesalahannya.
“Aku tidak akan lupa pelajaran ini dan aku akan pastikan anak-anak lainnya tidak melakukan kesalahan yang sama,” katanya dengan tekad.
Dari kejadian itu warga sekitar lebih sadar akan pentingnya hidup berdampingan dengan mahluk lain dan menghormati hak-hak mereka.
Semenjak kejadian itu, anak-anak di Desa Petaling lebih berhati-hati dalam memainkan permainan tradisional ceblak-ceblak suang. Mereka masih ingin melestarikan permainan ini tapi dengan lebih banyak kesadaran dan rasa hormat terhadap tradisi dan lingkungan sekitar. Untuk Itu, mereka memutuskan untuk membuat acara Hari Ceblak-Ceblak Suang di Desa Petaling, yang bertujuan untuk mempromosikan dan melestarikan permainan tradisional ini. Termasuk Mieh, untuk berbagi pengalaman dan cerita tentang permainan ini. Acara ini menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk belajar tentang pentingnya melestarikan budaya dan tradisi, serta menghormati lingkungan sekitar. Mereka juga dapat menikmati permainan ceblak-ceblak suang dengan lebih aman dan menyenangkan, karena ada pengawasan dari orang dewasa. Dengan demikian, permainan ceblak-ceblak suang dapat hidup dan berkembang, serta menjadi bagian dari identitas budaya Desa Petaling sampai saat ini. (BP/ KM)*
Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Mendobarat Tahun 2026.












