Karya: Yanto In Action
Bekaespedia.com, Mata memandang depan, mimpi megah menari,
Hayal istana, tahta, harta tak terkira.
Tapi kematian datang, bisu di ujung jalan,
Mengapa kita lupa, ia pasti menyapa kita?
Orang lain pergi, jasad dingin terkubur,
Kita bertanya: “Bagaimana akhirku nanti?”
Namun hari esok kita anggap milik abadi,
Padahal fana dunia, hanya fatamorgana semu.
Hidup bagai embun, lenyap di fajar pagi,
Kita sibuk kejar nafsu, lupa hisab akhir.
Mati pasti tiba, baik atau celaka jiwamu,
Mengapa pura-pura, seolah selamanya di sini?
Bayang kubur gelap, cacing merayap pelan,
Harta tinggal sia-sia, derajat pun sirna.
Bekal amal shaleh, itulah harta sejati,
Bangunlah kini, sebelum penyesalan menjerit.
Kita rencanakan pesta, liburan panjang umur,
Lupakan azab neraka, surga pun terlupakan.
Maut tak pandang tua-muda, kaya-miskin derajat,
Hanya taqwa yang selamatkan, di yaqin yang hakiki.
Petisi jiwa: tobatlah sebelum terlambat,
Ibadah padatkan, dosa buang ke lautan.
Dunia ini penjara bagai burung terkurung,
Akhirat kebebasan, jika hati sudah petani.
Lihat saudara pergi, pelajaran tak tergali,
Kita tetap sombong, mengejar ilusi gemilang.
Mati itu pintu, ke surga atau neraka abadi,
Pilih bekal kebaikan, agar pulang penuh cahaya.
Ya Rabb, ampuni kami yang lalai ingat mati,
Jadikan kami hamba yang siap berpulang husnul khatimah.
Petisi ini jerit hati, bangun sebelum waktu habis,
Ke akhirat yang nyata, dengan iman yang teguh.
Toboali, 7 Ramadhan 1447 H/ 2026
