Petualangan Di Malam Tujuh Likur

Oleh : Wardatul Adiba (Siswa SDN 6 Mendobarat)

 

Pagi hari di bulan Ramadan, Raihan pergi ke sekolah pukul 06.30 WIB. Raihan bersekolah di SD Negeri 6 Payak dan duduk di kelas lima. Raihan bersahabat dengan Dimas dan Pasha. Saat tiba di sekolah, Raihan melihat kursi Dimas dan Pasha masih tampak kosong.

“Mengapa Dimas dan Pasha belum datang? padahal biasanya tidak telat.” tanya Raihan dalam hati.

Bel sekolah pun berbunyi, menandakan pelajaran dimulai. Pelajaran dibuka dengan pembacaan doa.

“Assalamualaikum,” sapa Ibu Guru kelas lima.

“Anak-anak, kalian tahukan. Hari ini kegiatan pesantren kilat akan berakhir, tapi kita masih melaksanakan kegiatan terakhir yaitu hafalan surah pendek At-Takasur dan praktik salat. Apakah anak-anak sudah hafal hafalannya?” tanya Ibu Guru.

“Sudah, Bu,” jawab mereka serempak.

“Baguslah kalau begitu. Oh iya, siapa yang tidak hadir hari ini?” Ibu Guru bertanya.

“Dimas dan Pasha, Bu.” seru Audel. Salah seorang murid kelas lima.

“Ke mana Dimas dan Pasha pergi?” tanya Ibu Guru lagi.

“Tidak tahu, Bu!” Seru Farhan yang duduknya tak jauh dari kursi Dimas dan Pasha.

“Baiklah kalau begitu, kita mulai saja kegiatannya. Anak anak bacakan surah At-Takasur bersama, lalu satu persatu!” ujar Ibu Guru.

Tak lama membaca surah At-Takasur, terdengar dua orang siswa mengetuk pintu. Mereka adalah Dimas dan Pasha. Ibu Guru mempersilakan Dimas dan Pasha duduk, lalu membacakan surah At-Takasur seperti temannya yang lain. Ternyata Dimas dan Pasha belum hafal. Agar konsentrasi, Ibu Guru memerintahkan Dimas dan Pasha untuk menghafal di luar.

Tak lama kemudian, Dimas dan Pasha kembali diuji hafalannya. Mereka bisa, lalu melanjutkan kegiatan kedua yaitu praktik salat. Semua murid kelas lima dapat mempraktikkan dengan benar. Sertifikatpun diterima semua peserta dan menandakan pesantren kilat hari itu berakhir. Raihan mendapat hadiah karena menjadi peserta terbaik tahun ini.

“Han… kau mendapat hadiah ya? apa isinya?” tanya Dimas penasaran.

“Entahlah, akan aku buka saat tiba di rumah,” jawab Raihan.

“Kau memang yang terbaik untuk mendapat hadiah, tadi hafalan surah pendek dan praktik salat, suaramu juga merdu!” ujar Pasha kagum.

“Terima kasih Pasha, kalian juga harus membaca surah pendek yang banyak, agar lain kali bisa juara pesantren kilat!” ujar Raihan memotivasi temannya.

Semua siswa pun pulang ke rumahnya masing-masing. Saat tiba di rumah, Raihan membuka hadiah yang didapatkannya. Isinya seperangkat alat salat. Raihan sangat senang dengan hadiah yang ia dapatkan. Tak lama kemudian, Dimas dan Pasha datang ke rumah Raihan. Mereka berdua berencana untuk membuat meriam yang terbuat dari bambu yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama sedabel. Meriam ini biasanya dimainkan anak-anak sesudah salat tarawih atau sesudah sahur.

“Ayo kita berangkat!” teriak Dimas.

Meriam bambu dibuat dengan tujuan mengejutkan para peserta pawai malam tujuh likur. Raihan tidak sependapat dengan tujuan Dimas dan Pasha.

“Maaf teman-teman, sepertinya aku tidak jadi pergi,” ujar Raihan menolak.

“Mengapa, Han? Kita kan cuma mencari bambu saja!” ujar Dimas berpura-pura.

“Sepertinya aku juga tidak jadi pergi, karena aku takut dimarahi ibuku dan aku takut sekarang kan bulan Ramadan, lebih baik kita salat tarawih!” ujar Pasha membuat usul.

“Mengapa sih kalian jadi penakut gini, kita kan cuma mencari bambu saja!” ujar Dimas.

Pasha dan Raihan hanya termenung. Mereka bingung, apakah mereka ikut rencana Dimas atau tetap diam di rumah.

“Baiklah kalau begitu aku ikut kamu saja ya, Dimas,” ujar Pasha dengan yakin.

“Kalau kamu, Raihan?” tanya Pasha.

“Entahlah” jawab Raihan singkat.

“Ayolah Raihan kita mencari bambu bersama. Siapa lagi yang bisa mencari bambu yang tepat kecuali kamu!” ujar Dimas dan Pasha kembali membujuk.

“Baiklah kalau kalian memaksa.” ujar Raihan pasrah.

Sambil membawa parang, mereka pergi ke hutan untuk mencari bambu. Terik matahari menyengat, tak terasa haus walaupun sedang berpuasa. Saat sampai di hutan, mereka mencari bambu yang tepat untuk membuat meriam bambu.

“Teman-teman, tidak baik loh kalau kita mengganggu orang yang sedang pawai malam tujuh likur, itu bisa mendapat dosa serta celaka!” ujar Raihan menasihati.

“Sudahlah Raihan, lebih baik kamu cari saja bambunya, biar malam ini kita bisa main meriam bambunya!” ujar Dimas.

Tak lama kemudian, mereka sudah menemukan bambu yang tepat. Saat di perjalanan pulang, mereka kebingungan mencari tempat untuk membuat meriam bambu.

“Dimas, di mana kita membuat meriam bambunya?” tanya Raihan.

“Jangan di rumahku, karena nanti rumahku kotor dan ibuku marah!” ujar Pasha memberi alasan.

“Di rumahku saja,” jawab Raihan.

Mereka pergi ke rumah Raihan. Saat tiba di rumah Raihan, dengan cepat mereka memotong ruas bambu dan memberinya lubang, agar nanti disulut dengan api. Azan magrib pun tiba, artinya waktu berbuka puasa telah tiba. Dimas dan Pasha pulang ke rumah masing-masing, sedangkan Raihan berbuka puasa dengan air minum dan kue yang sudah disediakan di meja. Setelah berbuka puasa, dengan cepat Raihan mengayuh sepedanya. Bergegas pergi ke masjid. Di masjid, Raihan bertemu dengan Dimas dan Pasha. Mereka rajin salat tarawih walaupun kadang sambil bermain dan bercanda. Setelah salat tarawih, semua orang yang mengikuti pawai malam tujuh likur berkumpul di lapangan bola. Setelah bendera start dikibarkan, semua orang berbaris rapi di belakang sambil memegang obor yang terbuat dari bambu. Pawai ini dilakukan dengan sukacita oleh masyarakat Melayu Bangka. Sebagian rumah menyalakan obor sebanyak tujuh titik. Kampung Petaling dimeriahkan oleh pawai malam tujuh likur. Pawai ini biasanya dilakukan pada malam ke-27 di bulan Ramadan. Malam tujuh likur, biasanya disebut juga dengan malam istimewa atau malam lailatul qadar.

Meriam bambu sudah disembunyikan di semak-semak. Mereka menggunakan minyak karbit sebagai bahan bakar. Mereka hendak mengejutkan peserta pawai urut pertama.

“Poorrr poorrr……..” suara meriam bambu.

“Copot eh copot,” dasar kamu Dimas, nakal sekali kalian ini. Untung saja jantungku tidak copot,” ujar Zahra teman sekelas mereka.

“Hahaha, ternyata kamu ya, Ra. Kamu berhasil kami kejutkan.” ujar Dimas dan Pasha sambil tertawa. Dimas dan Pasha tertawa karena berhasil mengejutkan peseta pawai pertama. Sedangkan Raihan hanya terdiam, dia takut bila mengganggu orang yang sedang pawai malam tujuh likur.

Dimas dan Pasha mau mengejutkan peserta pawai kedua, yaitu kakak remaja masjid. Tiba tiba.

“Poorrr…..”suara meriam bambu terpecah dan mengenai tangan Dimas hingga berdarah dan robek. Dengan cepat Dimas dibawa ke rumah sakit oleh kakak remaja masjid.

Pasha dan Raihan pergi menjenguk Dimas di rumah sakit. Saat tiba di rumah sakit, Pasha dan Raihan melihat Dimas yang sedang terbaring lemah. Mereka pun pergi menghampirinya.

“Dimas, masih sakit ya, tanganmu?” tanya Pasha sambil memegang tangan Dimas yang sedang diperban.

“Aduh sakit sekali!” jawab Dimas kesakitan.

“Itulah akibatnya, kan sudah aku larang sebelumnya, untuk tidak mengganggu orang yang sedang pawai malam tujuh likur, tapi kalian masih saja memaksa,” ujar Raihan.

“Mengganggu orang itu tidak baik, apalagi mengganggu orang yang sedang pawai malam tujuh likur. Itu bisa mendapat dosa serta celaka.” ujar kakak remaja masjid menasihati.

Dimas dan Pasha pun berjanji untuk tidak mengganggu orang lagi setelah kejadian yang dialami Dimas.

Kakak remaja masjid pun berpesan sebaiknya Raihan, Dimas dan Pasha mengikuti pawai obor malam tujuh likur ini sebagai sarana bagi anak-anak atau generasi muda, agar terus merawat dan menjaga tradisi budaya setempat tetap lestari.

 

Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Mendobarat Tahun 2026.

Exit mobile version