Petualangan Dimensi Kartha

Oleh: Regina Kasyifa (Siswa SMPN 2 Lubukbesar)

 

Sebuah perpustakaan yang bernama Hyokto berada di Kota Ferusia, terkenal dengan ciri khas bukunya yang selalu memikat dan penuh misteri. Jolina adalah seorang anak perempuan yang gemar membaca buku di perpustakaan tersebut. Setiap hari ia selalu meminjam buku dengan sampul yang sangat menarik perhatiannya.

Suatu hari, Jolina ingin meminjam buku di perpustakaan tersebut. la melihat buku dengan sampul yang sangat menarik dan belum pernah ia lihat sebelumnya.

“Wah buku apa ini? Aku belum pernah melihat sampul yang sangat menarik seperti ini!” Ucap Jolina.

Tanpa menunggu waktu yang lama, ia langsung meminjam buku tersebut kepada seorang pustakawan yang berada di sana. Jolina pun bergegas pulang ke rumah untuk membaca buku tersebut.

Sesampainya Jolina di rumah, ia segera pergi ke kamar untuk membaca buku yang ia pinjam dari perpustakaan. Lagi-lagi ia sungguh terpesona melihat sampul buku tersebut.

“Wah, sampul ini sungguh menarik. Aku sudah membayangkan cerita yang ada di dalamnya, “Dimensi Kartha!”

Jolina pun mulai membaca buku tersebut. Dua halaman telah ia selesaikan, saat ingin melihat ke halaman yang ketiga. Alangkah kagetnya ia melihat halaman tersebut kosong, hanya ada sebuah tulisan dengan berbahasa asing.

Bara no ka dimento karatha? Ini mantra atau memang halaman ini tidak memiliki cerita?” Ucap Jolina dengan penuh tanya.

Namun, ia tidak mengetahui kalau kata yang baru ia ucapkan adalah sebuah mantra yang akan membawanya ke dimensi lain, yaitu Dimensi Kartha. Tanpa ia sadari ia telah berada di tempat yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Di balik rasa panik yang melanda, ia malah kagum dengan pemandangan desa yang indah dan sebuah kerajaan yang amat megah.

“Baaa!” kaget seorang kakek yang entah kapan munculnya.

“Aduh, kakek ini sungguh mengagetkanku!”

“Hehe, maafkan kakek. Perkenalkan, nama kakek adalah Yusep. Kakek adalah penjaga kerajaan Katunggala di Desa Bungewosmo,” kenal Kakek Yusep.

“Em, baiklah tidak apa-apa. Perkenalkan juga, nama saya Jolina!” Jawab Jolina.

“Oh ya, kamu telah ditunggu sang ratu untuk menghadapnya di kerajaan. Ayo cepat, Kakek antar,” ajak kakek.

“Baiklah, Kek, dengan senang hati.”

Sesampainya Jolina menghadap sang ratu, ia sangat kagum melihat parasnya yang cantik dan anggun.

“Oh, telah sampai rupanya, perkenalkan nama saya adalah Kharisma pemimpin Kerajaan Katunggala dan Desa Bungewosmo,” kenal sang ratu.

“Saya yang telah memanggilmu ke sini untuk membantu memecahkan permasalahan yang melanda desa sejak setengah abad lamanya,” jelas Ratu Kharisma.

Tanpa menunggu waktu yang lama, Ratu Kharisma langsung menjelaskan permasalahan yang mereka alami. Yaitu, hilangnya buku pedoman tentang kata baku yang mereka gunakan sejak zaman nenek moyang. Kata baku tersebut terkenal dengan pengucapannya yang sangat sukar untuk dipelajari.

“Jadi begitu rupanya, baiklah saya siap membatu,” kata Jolina dengan penuh percaya diri.

“Baiklah, saya akan mengantar dua orang untuk membantu perjalananmu nanti,” bantu sang ratu.

Jolina pun segera mencari solusi dengan dua orang yang telah ditugaskan oleh Ratu Kharisma, Anna dan Herry.

“Pertama-tama, kita harus mencari di mana tempat terakhir kali buku itu berada!” Kata Jolina.

“Aku tahu, terakhir kali buku itu berada di gudang Kerajaan Katunggala. Kuncinya ada dengan Kakek Yusep!” Jawab Anna atas pengetahuannya.

Mereka bertiga pun bergegas pergi menemui Kakek Yusep untuk mengambil kunci tersebut. Namun, mereka harus menunggu dalam kurun waktu yang cukup panjang, yaitu sekitar dua hari lamanya.

“Nah, ini kuncinya. Maafkan Kakek, karena kalian harus menunggu cukup lama. Kemarin kakek lupa yang mana kunci gudang kerajaan, soalnya gudang kerajaan cukup banyak,” Jelas Kakek Yusep.

“Ah, tidak apa-apa, Kek. Kalau begitu kami berangkat dulu ya, Kek!” Izin Herry.

Mereka bertiga bergegas pergi menuju gudang kerajaan. Sepanjang jalan, Jolina sangat kebingungan dengan kata yang Kakek Yusep ucapkan, yaitu gudang kerajaan cukup banyak.

“Emm, perasaan gudang kerajaan hanya satu deh. Yaitu terletak di Bukit Ghun,” gumam Jolina dalam hatinya.

“Ah sudahlah, mungkin itu hanya kebetulan saja.” Kata Jolina sembari berfikir optimis.

Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Jolina dan kedua temannya sampai di gudang kerajaan. Walaupun dengan baju yang sudah sangat kotor akibat melewati lumpur yang sangat dalam.

“Haduh, lelah sekali ya. Tetapi, setahuku perjalanan menuju gudang ini tidak pernah ada lumpur ataupun sampah sekalipun.” Kata Anna.

“Mungkin karena sudah lama tidak dikunjungi setelah 20 tahun yang lalu.” Jawab Herry.

“Ya sudah, ayo cepat kita masuk. Dan selesaikan permasalahan yang terjadi!” seru Jolina.

Mereka bertiga pun membuka pintu gudang yang terkunci itu dan mencari barang bukti yang ada di dalamnya. Setelah lama mencari, akhirnya mereka menemukan tiga barang yang mungkin berkaitan dengan permasalahan yang terjadi.

Yang pertama, ada sarung tangan berwarna hitam yang terletak di atas meja nakas.

Yang kedua, ada topi berwarna merah yang terletak di dalam lemari tempat di mana buku pedoman itu berada sebelumnya. Dan yang terakhir, ada sepatu berwarna kuning yang terletak di bawah meja kerajaan yang lama. Merasa bahwa barang yang mereka temukan telah cukup, mereka bertiga segera membawa barang tersebut menghadap sang ratu.

“Yang mulia ratu, kami telah menemukan barang yang mungkin berkaitan atas permasalahan yang terjadi, kami menemukan barang ini di dalam gudang kerajaan,” jelas Jolina.

“Barang-barang ini, sepertinya aku mengenalinya! Pengawal, panggil penjaga kerajaan untuk menghadap saya!” Perintah sang ratu.

“Ada apa yang mulia? Apakah ada hal penting yang terjadi?” Tanya Kakek Yusep dengan rasa penasaran yang cukup tinggi.

“Ini semua adalah barang-barang yang sering engkau gunakan setengah abad yang lalu kan?” Tanya Ratu Kharisma.

“I-iya, itu memang barang-barang saya,” jawab Kakek Yusep dengan terbata-bata.

“Mengapa engkau melakukan semua ini? Engkau telah mengkhianati kepercayaanku!” Ucap ratu dengan nada yang tegas.

“Ternyata anak-anak itu telah menemukannya. Ya saya yang telah menghilangkan jejak keberadaan buku yang selalu disanjung-sanjungkan itu. Aku melakukan hal ini karena perbuatan ayahmu yang sok menjadi pahlawan itu!” Jelas Kakek Yusep.

Ternyata orang yang telah kita percayai selama bertahun-tahun adalah dalang dari semua masalah yang melanda desa, yaitu Kakek Yusep. la melakukan semua itu karena perbuatan keji ayah sang ratu terhadap keluarga Kakek Yusep sebelum menjadi pemimpin dahulu kala.

Pecah tangis dan kekecewaan melanda seisi kerajaan atas perbuatan sang kakek.

Setelah semua yang terjadi, Kakek Yusep menjelaskan yang sebenarnya terjadi dan di mana keberadaan buku itu berada. Kakek Yusep pun telah menerima hukuman atas perbuatan yang ia lakukan.

Setelah semuanya terbongkar, keadaaan desa perlahan mulai membaik. Sekarang penduduk desa dapat mempelajari pedoman kata baku di desa mereka setelah sekian lama.

Donale taremono, Jolina. Atas bantuanmu terhadap desa dan kerajaan kami!” ucap Ratu Kharisma.

“Hehe, yang tadi itu artinya terima kasih. Itu adalah bahasa yang kami gunakan di sini!” Jelas Anna.

Semua orang di sana tertawa melihat wajah Jolina yang sangat kebingungan. Lalu Ratu Kharisma memberi mantra untuk Jolina pulang ke tempat asalnya.

“Ini, bacalah lalu kamu akan kembali ke tempat asalmu. Tidak baik terlalu lama di daerah yang tidak kamu kenali sebelumnya.”

Jolina pun membaca mantra dari Ratu Kharisma dan pulang ke tempat asalnya. Akhirnya berakhir sudah petualangan Jolina di Dimensi Kartha. Halaman yang kosong pun telah terpecahkan misterinya. Desa Bungewosmo hidup dengan damai dan tanpa gangguan, Jolina pun menjalani hudup seperti biasanya selalu meminjam buku dengan sampul yang menarik dan penuh misteri. (BP/ KM)*

 

 

Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *