Petualangan Ke Dunia Teknologi Yang Seru

Oleh: Clarissa Chia (SD Dian Harapan, Bangka)

 

Pada suatu hari, hiduplah seorang gadis berumur 12 tahun bernama Fiona. Ia selalu sibuk dengan kesehariannya yang penuh dengan warna, sebab ia selalu membantu ibunya yang mengasuhnya seorang diri, Rin dalam pekerjaan rumah dan menjual baju serta keseharian sekolahnya sebagai anak kelas SMP 1. Sehingga, ia hampir tidak pernah menyentuh handphone yang baru-baru ini dibelikan oleh ibunya kecuali untuk mengirim pesan dan menelpon teman. Sejak kecil, Fiona tidak pernah menyentuh teknologi masa sekarang, ia tidak pernah menonton TV maupun main ipad. Karena ia berpikir teknologi itu tidak penting dalam kehidupannya yang selalu penuh kesibukan ini.

“Ibu, Fiona pamit, mau pergi ke sekolah ya,” panggil Fiona.

“Iya, hati-hati di jalan ya, Nak!” balas Rin, sang ibu.

Sesampainya di sekolah, Catherine, teman Fiona yang selalu antusias, langsung menyapa Fiona dengan ceria, “Hai Fiona, how are you girl? Eh-eh, tahu tidak, aku punya hadiah untuk kamu lho, sepulang sekolah nanti,” panggil Catherine.

“Kabarku baik, hadiah apa sih? Yang bikin kamu ribut sekali di pagi hari?” balas Fiona dengan bingung.

“Rahasia deh, pokoknya kamu harus janji untuk memakainya,” kata Catherine dengan antusiasnya.

“Okelah, tapi kalo aneh-aneh nanti aku tidak terima lho,” Fiona peringatkan temannya dengan serius.

“Haha…Sip deh! Hadiahnya tidak aneh kok, jahat sekali kamu bilang begitu kepada temanmu,” kata Catherine sambil berpura-pura cemberut.

“Iya deh, iya sori ya, sudah-sudah, mari kita bergegas ke kelas, sebentar lagi bel sekolah berbunyi tuh!” sahut Fiona sambil tersenyum.

“Oh iya, hehe aku hampir lupa kita berada di sekolah,” balas Catherine.

Sesudah itu, mereka bergegas ke kelas 7-B, kelas mereka. Tidak disangka, jam belajar berakhir dengan cukup cepat, jam istirahat untuk makan siang sudah tiba. Sehingga siswa-siswi bergegas keluar dari kelas.

“Eh-eh Catherine, hari ini kamu mau main ke rumahku tidak?” tanya Fiona.

“Mhm, ahu mahu (aku mau)!” jawab Catherine yang sedang sibuk memakan bekalnya.

“Oke, nanti sepulang sekolah kamu sekalian membawa hadiahnya saja ya,” kata Fiona.

“Ohe, nanhti ahu bawa (Oke, nanti aku bawa),” balas Catherine lagi.

Sepulang sekolah, Fiona dan Catherine mengganti sepatu sekolah mereka dan segera berangkat ke rumah Fiona dengan mobil Catherine. Sesampainya di pintu depan rumah Fiona, Catherine berkata, “Fi, aku udah suruh orang membawa hadiah itu ke sini, harusnya sebentar lagi sampai kok!”

“Ibu, aku pulang, aku membawa Catherine untuk bertamu ke sini lho, bu!” panggil Fiona.

“Hei, kamu mendengarkan aku gak sih? Ah, sudahlah,” Catherine berkata.

Sang ibu pun membalas, “Iya Nak, bawa Catherine masuk ya, jangan lupa cuci tangan dan kaki serta mengganti bajumu ya!”

“Halo tante, izin masuk ya!” panggil Catherine.

“Ah iya nak, jangan bersikap terlalu sopan, kita sudah sering bertemu,” sahut sang ibu. “Oke, Cath, ayo kita ke kamarku untuk bersih-bersih!” ajak Fiona.

Catherine pun setuju dan mereka naik ke lantai 2 untuk ke kamar Fiona. Selesai bersih-bersih, Catherine memanggil Fiona kemari.

“Fi, sini Fi, buka hadiah kamu nih!”

“Iya-iya Cath, kamu takut banget ya, aku tidak buka seumur hidupku?” tanya Fiona sambil tertawa.

“Iihh, jangan ngeledek aku! Buka hadiahnya lah.” Fiona membuka hadiah yang diberikan oleh temannya. Hadiah yang diberikan oleh temannya ternyata, sebuah Virtual Reality Glasses.

“Tadaa, aku sudah menyambungkannya ke handphonemu, ayo kita main!” kata Catherine.

“Ehm, oke deh, terserah kamu,” sahut Fiona.

Saat Fiona memakai hadiah temannya itu, muncul sebuah tulisan : Hello, Welcome to our Game ! Please, choose a language. Di bawah tulisan itu, ada pilihan berbagai macam bahasa. Sebagai orang Indonesia, Fiona pun memilih Bahasa Indonesia. Setelah ia selesai membuat akunnya dengan nama samaran, RedScarlett, ia bertemu dengan temannya, “Fiona, kamu sudah selesai, kan? Ayo, aku jelaskan peraturannya!” panggil Catherine.

“Eh-eh, ehmm..okee,” sahut Fiona dengan ragu.

“Oke, jadi ini adalah gim Virtual Reality catur, di mana ada secret mission, untuk mendapat skin limited edition papan catur, event, di mana kamu bisa mendapatkan skin bidak caturnya biasanya diadakan sebulan sekali, Guild, perkumpulan atau kelompok diskusi tentang teknik bermain catur, tournament yang membuat kita sekali setiap 6 bulan mampu berhubungan koneksi atau server, yang setiap negara pasti punya, dengan pemain internasional lainnya, apa yang mereka katakan di kolom chat, akan diartikan menjadi bahasa kita,” jelas Catherine dengan rinci.

“Lalu kita tidak boleh menyebut nama asli di dalam gim,” sahut Catherine lagi. “Ehmm, okee, jadi aku panggil kamu apa dong?” tanya Fiona.

“Panggil aku Violet, dan kamu akan kupanggil Scarlett setuju?” tanya Catherine.

“Oke,” balas Fiona.

“Saat ini, aku berada di Woman Candidate Master, julukan terbawah dikalangan julukan master lainnya,” jelas Catherine, “Untuk mencapai tingkat ini, kamu harus minimal mempunyai 1800 elo, semacam exp untuk level up itu lho,” kata Catherine lagi.

“Oh oke deh, berarti aku harus melawan pemain lain untuk menaikan elo aku?” tanya Fiona.

“Tepat. Namun kamu harus menang lho ya,” jawab Catherine.

“3 bulan lagi, akan ada sebuah tournament, jadi, cobalah meraih gelar Candidate Master selama 3 bulan ini!” jawab sebuah suara.

“Tepat! Eh, tapi itu mustahil, terus, kamu siapa?” tanya Catherine tiba-tiba.

“Oh, aku Max, pemain baru yang sudah meraih gelar FIDE Master,” sahut Max. “Nanti, di tournament itu, yang akan menjadi sorotan mata para pemain adalah aku, seorang pendatang baru yang mampu meraih sebuah gelar dalam waktu 2 bulan, Cakra, pemain top global number 1 di server Indonesia, dan Alicia, Wanita pendiri guild terbesar di server Indonesia, gelar mereka adalah International Master,” jelas Max.

“Hah! Mereka ikut! Aduh, aku harus cepat-cepat naik gelar ke FIDE Master,” kata Catherine dengan raut wajah khawatir. “Baiklah, aku akan berusaha naik ke gelar master,” kata Fiona yang dari tadi hanya terdiam mendengar percakapan mereka.

3 bulan kemudian, Fiona berhasil menjadi seorang International Master. Saat tournament dimulai, Catherine sangat terkejut melihat Fiona berdiri digolongan International Master.

“Lh-lho, Scarlett, kamu sudah menjadi seorang Master? Terlebih lagi, International Master?” tanya Catherine.

“Ah,Violet, maaf-maaf aku lupa memberitahu kamu,” kata Fiona dengan hati-hati.

“Nggak-nggak, ini luar biasa! Aku saja masih di FIDE Master walaupun sudah main 3 tahun lho,” balas Catherine sambil terkagum-kagum dengan temannya. Tournament pun dimulai, Max dan Fiona dengan cepat mengakhiri setiap permainan dengan gaya bebas. Saat-saat yang ditunggu pun sudah dimulai, Max dan Fiona pun bertanding dengan serius, dimulai dari c4, e5 dan diteruskan dengan b2 dan lain-lain, dan yang menang pun adalah Fiona. Lalu ia berlawanan dengan Alicia dan Cakra dan bertarung dengan sangat sengit. Lalu, ternyata yang menang adalah Fiona sebagai Juara 1, Cakra, sebagai Juara 2, dan Alicia, sebagai Juara 3, Max, sebagai Juara 4 dan Catherine, sebagai Juara 8. Masing-masing dari mereka berhasil bertahan di TOP 10 lewat pertarungan-pertarungan yang sengit. Tanpa disadari, 1 bulan setelah kejadian itu sudah lewat, dan tibalah semester baru. “Ciee, si Juara 1 ni yee,” sapa Catherine. “Aih, biasa saja, kamu kan, juga sudah berjuang, Cath,” balas Fiona dengan sebuah senyuman.

“Oh iya, katanya kan PR akhir semester kan, membuat sebuah presentasi tentang hiburan teknologi, ya?” tanya Catherine tiba-tiba saat mereka sedang berjalan ke kelas mereka, 7-B.

“Oh, itu aku udah memutuskan, aku akan mempresentasikan tentang dampak baik dan buruk dalam memakai hiburan teknologi,” sahut Fiona.

“Kumpulnya minggu depan lho ya,” kata Catherine lagi.

“Iya-iya tahu kok,” jawab Fiona dengan malas.

Pada hari presentasi, Fiona menjelaskan tentang mengapa tidak boleh memakai hiburan teknologi secara berlebihan dan dampak baik dan buruknya.

“Jadi teman-teman, kita tidak boleh memakai teknologi secara berlebihan karena itu bisa membuat kita terlalu bergantung kepada teknologi itu, membuat mata kita rusak, membuat kita tidak bersosialisasi dengan dunia luar lagi, membuat kita tidak produktif lagi dan berbagai macam masalah lainnya. Dampak baiknya, tentu saja adalah kita bisa memakai beberapa hiburan teknologi untuk belajar, bersosialisasi dengan teman jarak jauh dengan lebih mudah, mempermudah mencari sumber informasi dan lain-lain,” jelas Fiona kepada teman-temannya. Sang guru pun bertanya, “Baiklah kalau begitu, apa solusi dari dampak yang tidak baik tadi?”

“Kita bisa mencoba hobi baru, seperti menyulam, memasak, membaca dan lain-lain, bergaul dengan teman yang ada di dekat kita, membantu pekerjaan rumah, memainkan board game untuk meningkatkan waktu family time atau cukup meditasi atau olahraga ringan untuk menggerakan tubuh saja,” jawab Fiona dengan cepat.

“Jadi apakah teknologi tidak baik untuk kita?” tanya sang guru lagi.

“Tidak bu, teknologi itu sangat bermanfaat untuk kita jika kita pakai untuk hal-hal yang positif seperti yang Fiona sebutkan tadi, kita hanya perlu belajar untuk mengatur waktu kita dan memastikan kita tetap disiplin dalam memakai device kita, kita bisa meminta tolong kepada anggota keluarga kita untuk memperingati kita, atau memberikan hukuman jika kita tidak disiplin melakukan pengaturan waktu kita,” jawab Fiona lagi.

“Bagus ! Jawaban Fiona sangat memuaskan dan saling melengkapi, kamu ibu berikan nilai 100!” balas sang ibu guru. “Yeyy, makasih bu,” balas Fiona dengan sangat bahagianya. Fiona pun terus melanjutkan kesehariannya yang sibuk itu, namun kali ini, dengan didampingi keseruan teknologi dan pengetahuan yang lebih dalam tentang catur. Selama 3 bulan yang ia pakai untuk menjadi  International Master, ia berpetualang ke dunia catur dan bertemu berbagai macam pemain unik. Ia mempelajari beberapa teknik bermain catur dan jadi mengetahui, bahwa tidak ada salahnya bermain dengan teknologi masa ini dan membiarkan dirinya menikmati serunya catur.

 

 

Tulisan ini merupakan karya peserta Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Tahun 2025 tingkat Kecamatan Pangkalanbaru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *