Dari taman surga yang dibuka pertama kali,
Adam dan Hawa mengajarkan hakikat awal:
Cinta adalah ikatan yang diikat Allah,
Awal mula kebersamaan, fitrah yang sempurna nyata.
Muhammad dan Khadijah menjadi bukti nyata,
Bahwa jarak, waktu, dan ujian takkan memisahkan rasa;
Cinta yang setia meski terpisah rupa,
Tetap abadi terpatri di dalam jiwa.
Ayub yang sabar di tengah ujian berat,
Menunjukkan landasan yang kokoh dan nyata:
Kejujuran hati yang tak pernah luntur,
Menjadi pondasi cinta yang teguh dan terhormat.
Yusuf yang berdiri tegak di tengah godaan,
Mengajarkan modal terbesar menyatukan insan:
Kesetiaan yang tak tergoyahkan oleh keadaan,
Menjaga kehormatan dan keteguhan iman.
Ibrahim dan Hajar melangkah di padang tandus,
Menunjukkan cinta yang tertuju pada Sang Pencipta;
Saat hati terisi rindu kepada-Nya yang agung,
Nafsu pada rupa dunia perlahan sirna.
Ali dan Fatimah dalam kesederhanaan hidup,
Membuktikan cinta yang penuh berkah ilahi;
Tak ada balasan yang lebih indah dan memuai,
Selain kabar baik setelah lelah menunggu dengan ikhlas hati.
Inilah kebenaran yang terpahat jelas:
Cinta sejati bukan sekadar perasaan yang melayang,
Melainkan bangunan yang kokoh berlandaskan iman,
Terbina dari kejujuran, kesabaran, dan pengabdian,
Yang tumbuh, bertahan, dan diberkahi sepanjang zaman.
Toboali, Juni 2026












