Bekaespedia.com, Mentok,- Di balik gugusan pantai yang membentang di pesisir barat Pulau Bangka, di antara hutan, perbukitan dan jejak-jejak sejarah yang tersimpan dalam ingatan masyarakat, terdapat ribuan cerita yang hidup dari generasi ke generasi. Cerita-cerita itu tidak tertulis di batu, tidak terpahat dalam monumen, tetapi diwariskan melalui tutur kata para orang tua, para tetua kampung dan para penjaga tradisi.
Salah satu cerita itu kini berhasil menembus panggung nasional.
Melalui kisah rakyat “Ketawak di Gunung Penyabung”, Rusmanadi, S.Pd., guru SD Negeri 6 Mentok, berhasil meraih Juara I pada ajang Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026 kategori orang tua. Prestasi tersebut bukan hanya menghadirkan kebanggaan bagi dunia pendidikan, tetapi juga menjadi momentum penting bagi Bangka Barat untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada Indonesia.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Barat, Fachriasyah, menyebut keberhasilan tersebut sebagai bukti bahwa Bangka Barat memiliki modal budaya yang besar untuk mendukung pembangunan pariwisata berkelanjutan.
Menurutnya, selama ini masyarakat luar lebih banyak mengenal Bangka Barat melalui bentang alamnya yang memesona. Pantai-pantai berpasir putih, laut yang membiru, gugusan batu granit raksasa, serta kekayaan sejarah pertambangan menjadi wajah yang kerap ditampilkan dalam berbagai promosi wisata.
Namun di balik keindahan alam itu, tersimpan kekayaan lain yang tidak kalah berharga, yakni cerita rakyat, tradisi lisan, nilai-nilai budaya dan pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Bangka Barat dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak Rusmanadi. Beliau telah menunjukkan kepada Indonesia bahwa Bangka Barat bukan hanya memiliki destinasi wisata alam yang indah, tetapi juga memiliki kekayaan cerita dan budaya yang luar biasa,” kata Fachriasyah.
Bagi Disparbud Bangka Barat, kemenangan tersebut memiliki makna yang jauh melampaui sebuah kompetisi.
Prestasi Rusmanadi dipandang sebagai simbol hidupnya tradisi lisan di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat.
Saat teknologi digital menghadirkan jutaan informasi setiap hari, banyak cerita lokal perlahan tenggelam dalam arus budaya global. Anak-anak lebih mengenal tokoh dari luar negeri dibanding legenda yang lahir dari kampung halamannya sendiri. Banyak kisah yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kini hanya tersisa dalam ingatan generasi tua.
Di tengah situasi tersebut, keberhasilan Rusmanadi menghadirkan harapan baru.
Melalui panggung nasional, cerita rakyat Bangka Barat kembali mendapatkan ruang untuk didengar.
Yang menarik, cerita yang dibawakannya tidak hanya menghadirkan hiburan. Kisah “Ketawak di Gunung Penyabung” juga memperkenalkan lanskap budaya Bangka Barat kepada publik yang lebih luas.
Fachriasyah menjelaskan bahwa Gunung Penyabung bukan sekadar nama tempat dalam sebuah cerita.
Gunung itu merupakan bagian dari ruang hidup masyarakat yang menyimpan hubungan panjang antara manusia, alam dan budaya.
Dalam perspektif kebudayaan, lanskap seperti Gunung Penyabung menyimpan nilai historis, spiritual dan sosial yang membentuk identitas masyarakat setempat.
Karena itu, ketika cerita tentang Gunung Penyabung dikenal masyarakat nasional, sesungguhnya yang ikut diperkenalkan wajah Bangka Barat secara keseluruhan.
“Pariwisata masa kini tidak lagi hanya menjual pemandangan. Wisatawan ingin memahami cerita di balik suatu tempat. Mereka ingin mengetahui sejarahnya, mengenal masyarakatnya dan merasakan pengalaman budaya yang autentik. Di sinilah pentingnya cerita rakyat sebagai kekuatan pariwisata,” ujar Fachriasyah.
Pandangan tersebut sejalan dengan perkembangan konsep pariwisata berbasis narasi atau storynomics tourism, di mana cerita menjadi unsur penting dalam membangun daya tarik sebuah destinasi.
Sebuah pantai akan lebih bermakna ketika memiliki legenda yang hidup di tengah masyarakatnya.
Sebuah gunung akan lebih dikenang ketika menyimpan kisah yang diwariskan lintas generasi.
Sebuah daerah akan lebih mudah dikenal ketika mampu menghadirkan identitas yang berbeda dari daerah lainnya.
Menurut Fachriasyah, Bangka Barat memiliki modal besar untuk mengembangkan pendekatan tersebut.
Selain kekayaan alam yang selama ini menjadi daya tarik wisata utama, daerah ini juga memiliki tradisi budaya yang kuat. Berbagai ritual adat, kesenian tradisional, cerita rakyat, hingga sejarah masyarakat pesisir menjadi sumber narasi yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Karena itu, pihaknya memandang prestasi Rusmanadi sebagai momentum strategis untuk memperkuat posisi kebudayaan dalam pembangunan daerah.
Kemenangan tersebut menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar pelengkap pembangunan, melainkan fondasi yang dapat memberikan identitas sekaligus nilai tambah bagi pariwisata.
Lebih jauh, Fachriasyah menilai keberhasilan tersebut juga menjadi penghormatan bagi para pelaku budaya yang selama ini bekerja menjaga warisan daerah.
Banyak pegiat budaya yang selama bertahun-tahun mendokumentasikan cerita rakyat, melestarikan tradisi, mengajarkan seni kepada generasi muda dan menjaga berbagai warisan leluhur tanpa banyak sorotan.
Melalui prestasi Rusmanadi, kerja-kerja kebudayaan itu mendapatkan pengakuan yang lebih luas.
“Prestasi ini membuktikan bahwa pelaku budaya memiliki peran penting dalam memperkenalkan daerah. Mereka adalah penjaga identitas Bangka Barat. Apa yang diraih Bapak Rusmanadi hari ini menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Bangka Barat,” ujarnya.
Disparbud berharap keberhasilan tersebut dapat menginspirasi lebih banyak generasi muda untuk mengenal dan mencintai budaya daerahnya sendiri.
Sebab masa depan kebudayaan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada kemauan masyarakat untuk terus menjaga, mempelajari dan mewariskan identitas yang dimiliki.
Di tengah derasnya arus globalisasi, kemenangan Rusmanadi membawa pesan yang sederhana tetapi sangat kuat.
Bahwa cerita rakyat masih hidup.
Bahwa budaya lokal masih memiliki tempat yang terhormat.
Bahwa sebuah kisah yang lahir dari kaki Gunung Penyabung mampu menggema hingga panggung nasional.
Bahwa Bangka Barat tidak hanya menawarkan keindahan pantai, laut dan lanskap alam yang memikat, tetapi juga menawarkan sesuatu yang jauh lebih abadi dalam cerita, memori dan warisan budaya yang terus hidup dalam denyut kehidupan masyarakatnya.
Melalui prestasi Rusmanadi, Bangka Barat kembali memperkenalkan dirinya kepada Indonesia.
Bukan hanya sebagai destinasi wisata alam.
Tetapi sebagai tanah yang kaya akan cerita, budaya dan identitas yang layak diwariskan kepada dunia.












