Oleh: Yanto M,Pd( Guru, Motivator & Da’wah Indonesia)
Bekaespedia.com,- 4 Syawwal 1447 H menjadi momen yang tepat bagi umat Islam untuk melaksanakan puasa Syawal, amalan sunnah yang sangat dianjurkan setelah selesai menjalankan ibadah puasa Ramadan. Namun, di balik keutamaan amalan ini, terdapat sebuah adab mulia yang dicontohkan oleh para salaf dan ulama, yaitu menyembunyikan pelaksanaannya. Hal ini berbeda dengan amalan wajib yang memang ditetapkan untuk ditampakkan agar menjadi pedoman dan contoh bagi sesama.
Para pendahulu umat memiliki cara yang sangat unik dan bijaksana dalam menjaga keikhlasan. Ibrohim bin Ad-ham, misalnya, ketika sedang berpuasa namun diajak makan, beliau akan ikut makan tanpa memberitahukan bahwa dirinya sedang berpuasa. Tujuannya sederhana: agar amalan sunnah yang dilakukan semata-mata karena Allah tidak tercampur dengan unsur pamer atau riya’.
Bahkan, sebagian salaf tidak ragu untuk berhias agar kondisi fisiknya tidak menunjukkan tanda-tanda sedang berpuasa. Mereka menyisir rambut dan memakai minyak wangi atau minyak pelumas agar tetap terlihat segar dan tidak lemas. Ibnu ‘Abbas r.a. pernah menekankan hal ini dengan sabarnya: “Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka hendaklah ia memakai minyak-minyakan dan menyisir rambutnya.” (Riwayat Al-Bukhari secara mu’allaq). Upaya ini bukan sekadar gaya hidup, melainkan strategi spiritual untuk menjaga agar pahala tetap murni hanya milik Allah.
Kisah Daud bin Abi Hindi menjadi bukti nyata kesungguhan dalam hal ini. Selama 40 tahun beliau berpuasa, namun tidak seorang pun—bahkan anggota keluarganya sendiri—yang mengetahuinya. Sebagai pedagang sutera, setiap pagi beliau membawa bekal sarapan ke pasar, namun di tengah jalan bekal itu disedekahkan. Orang-orang di pasar mengira beliau sudah sarapan di rumah, sedangkan keluarga di rumah mengira beliau makan di pasar. Begitu indah cara beliau menjaga rahasia amal di hadapan manusia, namun senantiasa tampak nyata di hadapan Allah.
Apa yang memotivasi mereka? Jawabannya tertuang dalam sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Sa’ad bin Abi Waqqash: “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri.” (HR. Muslim no. 2965). “Mengasingkan diri” di sini bermakna menjauhkan amalan dari pandangan manusia agar murni karena Allah.
Namun, perlu dipahami bahwa menyembunyikan amalan bukan berarti meninggalkan kewajiban atau menyesuaikan ibadah hanya karena pandangan orang lain. Al Fudhail bin ‘Iyadh mengingatkan: “Meninggalkan amalan karena manusia termasuk riya’ dan beramal karena manusia termasuk syirik.” Intinya, niat dan pelaksanaan harus tetap berpusat pada Allah semata.
Imam Al-Iz bin ‘Abdus Salam membagi ketaatan menjadi tiga kategori untuk memperjelas hukum ini:
1. Amalan yang wajib ditampakkan: Seperti adzan, shalat berjamaah, khutbah, amar ma’ruf nahi mungkar, hingga mengantar jenazah. Amalan ini memiliki manfaat sosial dan menjadi syariat yang harus terlihat. Jika takut riya’, maka tugas kita adalah memperbaiki niat, bukan meninggalkan amalan.
2. Amalan yang lebih utama disembunyikan: Seperti membaca Al-Qur’an atau berdzikir dengan suara perlahan pada waktu dan tempat yang ditentukan. Keheningan di sini justru mendekatkan hati kepada Sang Pencipta.
3. Amalan yang bisa disesuaikan kondisi: Contohnya sedekah. Jika menampakkan bisa memicu riya’, maka menyembunyikannya lebih baik, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 271: “Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.”
Puasa Syawal adalah kesempatan emas untuk melatih keikhlasan. Mari kita ikuti jejak para salaf: beramal dengan sungguh-sungguh, namun menjaganya agar tetap tersimpan rapi di antara diri kita dan Allah SWT. Semoga setiap tetes keringat dan rasa lapar yang kita rasakan dicatat sebagai amal yang ikhlas, dan semoga kita termasuk hamba yang dicintai-Nya.












