Puisi – Puisi MARHAEN WIJAYANTO

MARHAEN WIJAYANTO
Juni yang Getir

Sejenak kupejamkan mata
Ketika impian itu berlalu
Tentang sesuatu yang melintasi langit
atau pijar yang terbang di atas sana

Di Juni yang getir dengan ingin pilu
anak-anak itu memberi tahu
semua hanya panorama semu

Dan mereka sayup bernyanyi lagu lama
menyuarakan rerintihan di reruntuhan yang sama
Tapi yang mendengar hanyalah
setetes air di lautan tak berujung

Semua yang kita lakukan hilang
ambruk ke tanah
meskipun kita menolak untuk melihat

Mentok, 26 Juni 2025

 

MARHAEN WIJAYANTO
Debu dan Angin

Puisi ini
untuk anak-anak yang kehilangan
ayah, ibu, dan adiknya
Impian kita telah hilang
bersama debu terbawa angin

Sekarang kubertahan
Meski kutahu
tidak ada yang kekal
kecuali bumi dan langit

Bahagia dan senyum itu lenyap
dan uang tidak akan bisa
membeli pijar kecil itu
bahkan hanya sedetik pun

Kita semua hanyalah debu dan angin
Mimpi itu telah terbawa bersamanya
Semua terbang dipeluknya

Mentok, 25 Juni 2026

 

MARHAEN WIJAYANTO
Malam Kemuliaan
;anak-anak korban perang

Dunia semakin hilang
dan pernahkah kamu  berpikir
kita bisa menjadi begitu sejuk seperti udara

Aku menelusuri reruntuhan
mendengarkan angin perubahan
Suatu malam musim panas di bulan Juni

Tentara lewat
Berharap esok ada angin
berhembus membawa perubahan
Meski hanya isu dan harapan cemas

Masihkah ada harapan
Bawalah impiannya, untuk keajaiban

Di malam-malam penuh kemuliaan
Di mana anak-anak selalu bermimpi
berjalan menyusuri jalan, dan kenangan yang jauh
untuk anak, pasien rumah sakit yang terkena rudal

Mentok, 25 Juni 2025

 

Malam Kemerdekaan

untuk anak-anak
yang kehilangan impian karena perang
aku masih di jalanan
lalu bermain gitar di taman kota
mendendangkan lagu tentang kemerdekaan

bawalah mereka
untuk keajaiban momen di malam itu
kala anak-anak berbagi tentang masa depan

untuk keajaiban momen di hari yang membebaskan
dan bernyanyi lepas tentang masa depan,
bawa mereka menuju ke dunia terang

anak -anak yang menantikan keajaiban
momen di malam kemerdekaan
biarkan mereka bermimpi, masa itu ada

Mentok, 25 Juni 2025

 

MARHAEN WIJAYANTO

Lonceng Kebebasan
;anak-anak Gaza

Apakah bisa kau dengar bisik
bahwa aku menghindar dari jejaknya.
Untuk keajaiban di masa itu
saat anak-anak menyombongkan impiannya.

Lalu mereka bernyanyi di pagi hari
dan guru di kelas itu menjelaskan
Nak, angin perubahan berhembus
tepat di hadapan waktu

Lalu sang guru bernyanyi ceria
Berkata bahwa hari itu kita merdeka
Angin badai yang telah pergi
dan bel pulang sekolah
akan membunyikan lonceng kebebasan

Untuk ketenangan jiwa, biarkan belaianmu
menyanyikan apa yang gitarku ingin katakan
Bawalah mimpiku

Mentok, 25 Juni 2025

 

Biodata Penulis
Marhaen Wijayanto, penulis kelahiran Boyolali, Jawa Tengah. Menyelesaikan jenjang Pendidikan dasar di Boyolali dan strata satu di Universitas PGRI Semarang. Saat ini sedang menunaikan tugas sebagai Kepala SD Negeri 7 Simpang Teritip, Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung.
Karyanya berupa cerpen dan artikel telah terbit di media lokal di Bangka Belitung dan Nasional. Mencari Jejak sang Depati dan Roman Terlupakan merupakan dua novel persembahan untuk Pahlawan Depati Amir asal Bangka Belitung. Sedangkan buku Kumpulan Puisi Hujan di Awal Desember terbit pada 2021. Karya terbarunya Kumpulan Cerpen Buku Tanpa Aksara terbit Bulan Juli 2025. Marhaen adalah salah satu peserta kegiatan Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia III 2020 dan Kongres Bahasa Indonesia XII 2023. Untuk berkomunikasi dengan penulis bisa melalui wijayantomarhaen9@gmail.com atau nomor WA 085728500192

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *