Terima kasih, Aksara…
Setelah mengenalimu,
getar dan guruh di dadaku menjadi reda…
menuju redam.
Atas jasamu,
kuberhasil lewati petir yang menyambar nyawa.
Ku-ronce engkau dengan penuh hikmat;
ku-rangkai dirimu dengan warna paling memikat.
Kupuisikan luka dan prahara,
menjadi hiasan dinding kehidupan.
Kuyakin ia ‘kan semakin kokoh,
tak kenal kata roboh.
Untaian kata megah
membuatku kuat gagah:
berenang di lautan pilu,
tegap menantang hunusan sembilu.
Terima kasih, Aksara.
Usah kau bosan ku-usik,
jangan pernah jemu tuk ku-ramu.
Aku mengukirmu,
kau menjagaku…
dari kosong hati,
hampa, dan hambarnya rasa.
Gelap dan pekatmu adalah obat.
Untukmu, tak usah kau segan;
setiap waktu suka dan haru,
bangunkan nalar lurusku.
Terima kasih, Aksara.
Toboali 24 Juni 2026
Sang Peramu Aksara
Agus Bachtiar K












