Rahasia di Balik Daun Pintu 

Oleh: Siti Nur Hidayah (Siswa SMPN 1 Lubukbesar)

 

Hari oni cuaca mendung udara dingin menyelimuti. Dua sahabat; Satria dan Sekar berjalan beriringan menuju sekolah seperti biasa. Mereka bertukar cerita tentang tugas, teman, juga sesekali membahas tentang hal aneh yang muncul di mimpi Sekar akhir-akhir ini. Mimpi itu berisikan tentang sebuah rak buku besar di perpustakaan tua yang menyimpan sebuah rahasia.

“Satria, gimana kalau kita ke perpustakaan dulu? Aku pengin pinjam buku,” ucap Sekar yang langsung memutar tubuhnya ke arah gedung tua yang tak jauh itu.

Satria mengangkat alisnya, “Sekarang? Ya, udah deh, sekalian mau cari referensi untuk tugas seni,” balas Satria.

Mereka pun berjalan menyusuri lorong menuju perpustakaan yang sepi. Bangunan tua itu berdiri anggun di pojok sekolah dengan aroma buku lama dan kayu yang menua.

“Satria, lihat, ini seperti pintu rahasia,” jemari lentik Sekar menunjuk rak besar di depannya.

Satria menghampiri Sekar, dan seketika sorot matanya berbinar menatap rak buku besar dengan buku-buku berdebu yang di bagian samping dan atasnya terdapat ukiran-ukiran abstrak dengan detail-detail kecil yang memikat.

Sekar yang melihat tingkah Satria hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan. Memang begitulah Satria, selalu saja tertarik dengan hal-hal yang berbau seni.

“Ayo kita masuk ke sini, Satria!” ajak Sekar dengan antusias yang membuat Satria langsung menatapnya dengan ekspresi bingung.

“Apa kau serius? Ini terlalu berbahaya untuk kita, Sekar. Jangan gegabah saat mengambil keputusan!” ujar Satria mengingatkan.

Mendengar itu bola mata Indah Sekar seketika memerah tanda tak senang mendengar peringatan Satria.

Sekar dapat melihat ekspresi Satria kini berubah 360°. Dari yang awalnya senang kini tampak bingung dan gelisah. Tangannya beralih memegang pundak Satria untuk meyakinkan sahabatnya itu. Satria menatap dan akhirnya mengangguk.

Mereka bingung bagaimana cara masuk ke dalam sana? Mereka pun menatap ke sekeliling berusaha mencari petunjuk. Tanpa sengaja Sekar melihat satu buku besar berdebu yang tidak tertutup rapat. la pun meraih buku itu dan membersihkan debunya. Saat Sekar membukanya, ia melihat ada mantra-mantra asing di sana. Sekar pun memanggil Satria.

“Sepertinya itu adalah mantra untuk membuka pintu rahasia ini. Apakah kamu ingin mencobanya?” tanya Satria ragu.

Sekar menatapnya selama beberapa detik. Tanpa pikir panjang ia pun langsung mengangguk mantap. Sekar langsung menarik tangan Satria, mengajaknya untuk duduk di salah satu meja di perpustakaan itu.

Obscurum orium, secretum revela,” ucap mereka tiga kali secara bersamaan sesuai petunjuk di buku itu. Beberapa menit berlalu, tetapi tidak terjadi apapun.

“Ah, mungkin itu bukan mantranya. Sudahlah, ayo kita ke kelas saja!” Satria langsung beranjak dari duduknya. Namun siapa sangka, yang terjadi selanjutnya membuat mereka berdua sangat terkejut.

Satria langsung memejamkan matanya saat merasakan tubuhnya seperti tersengat listrik, juga muncul cahaya putih seperti kilat secara tiba-tiba.

Suara dengungan memenuhi ruangan. Satria kini berada di ruangan yang sempit, buku misterius di atasnya dan beberapa obor di sudut ruangan. Tak ada pintu, tak ada jendela ataupun ventilasi udara. Satria sangat ketakutan.

“Eh, Satria, kau baru bangun? Aku sedang mencari petunjuk untuk keluar dari ruangan aneh Ini. Ternyata tidak ada apa-apa di balik pintu rahasia itu.” Ujar Sekar yang kini tampak tak antusias seperti tadi.

“Andai saja telingamu sehat tadi, lebih baik kita tidak usah masuk ke sini,” balas Satria dengan nada kesal.

Sekar dan Satria pun menyusuri ruangan ‘aneh’ itu. Lagi-lagi Satria terpana dengan lukisan-lukisan abstrak di dinding ruangan itu. Setelah beberapa lama mencari, mereka berdua tetap tidak menemukan hal yang masuk akal untuk bisa membantu mereka keluar dari sana.

Akhirnya mereka pun duduk di depan meja kecil itu merasa pasrah dan hampir saja putus asa. Sekar meraih buku yang ada di meja kecil itu dan membukanya. Di sana terdapat mantra-mantra asing lagi. Mereka saling pandang, seolah sama-sama mengerti, Sekar dan Satria langsung merapalkan mantra itu

Tiba-tiba muncul sebuah pintu berukuran sedang di depan meja kecil itu. Mereka pikir itu adalah pintu ke perpustakaan. Satria dan Sekar langsung berlari ke arah pintu, jemari Sekar langsung memegang gagang pintu dan membukanya secara hati-hati.

Saat masuk ke dalam sana, ternyata bukan perpustakaan yang mereka dapati, melainkan dunia yang berbeda dari dunia mereka sebelumnya. Matahari bersinar terik yang membuat mereka kepanasan. Sekar yang menyadari kini tubuh mereka sudah berubah menjadi seperti peri langsung bersorak senang. Tetapi tidak dengan Satria, ia panik bukan main sebab tidak bisa mengendalikan dirinya karena tumbuh sayap transparan di punggung mereka.

Di hadapan mereka terbentang luas padang bunga dengan berbagai warna cerah yang memanjakan mata. Rumah-rumah peri berjejer rapi, tiba-tiba muncul dua peri berwarna merah menyala dan satu lagi berwarna ungu gelap.

“Selamat datang di Eldoria, para peri kecil,” ucap peri berwarna merah menyala.

“Perkenalkan namaku Vader, dan ini temanku Darth, kami ditugaskan untuk menyambut kedatangan kalian di Eldoria,” timpal peri berwarna ungu gelap itu juga memperkenalkan peri berwarna merah.

“Sebagai tanda penyambutan kami untuk kalian, kami akan mengabulkan permintaan kalian, masing-masing dapat tiga kesempatan,” ujar Darth dengan senyuman merekah.

Mendengar itu Satria langsung menyuarakan permintaannya. “Aku ingin badanku kembali seperti semula.” ucap Satria dengan suara lantang

“Aku jugal” timpal Sekar yang tak henti-hentinya tersenyum.

Beberapa saat setelah mengucapkan itu, badan mereka langsung berguncang hebat dan seketika mereka pun kembali ke ukuran normal. Peri-peri itu terlihat kecil dengan ukuran tubuh mereka sekarang.

“Kalian masih mempunyai dua kesempatan lagi,” kata Vader dengan senyuman yang terlihat licik.

Satria masih memikirkan apa permintaan yang akan ia ajukan selanjutnya. Tetapi tidak dengan Sekar, la langsung mengucapkan permintaan selanjutnya tanpa bersinergi.

“Aku ingin menguasai semua bahasa di dunia ini, agar aku bisa menjelajahi semua tempat di Eldoria!” Ucap Sekar sedikit memaksa.

Vader dan Darth saling bertatapan, “Baiklah.”

Setelah itu Sekar merasakan pikirannya di penuhi dengan suara-suara, bahasa, juga simbol-simbol dari seluruh penjuru dunia. Tanpa pikir panjang Sekar langsung mengucapkan permintaan selanjutnya.

“Aku ingin memiliki sihir terhebat di Eldoria”

Mendengar itu Vader dan Darth langsung menyunggingkan senyuman licik. Satria membelalakkan matanya dan langsung menarik tangan Sekar.

“Sekar, Bukankah kita harus menghemat permintaan kita? Siapa tahu nanti kita membutuhkannya saat ingin pulang,” ucap Satria dengan nada yang meninggi.

Sekar yang mendengar Satria berkata demikian langsung menjawab, “Kau ingin pulang? Ya, sudah gunakan saja kesempatanmu itu, biarkan aku di sini. Aku tak ingin pulang ke dunia kita dulu” ucap Sekar dengan nada yang meninggi pula.

Satria menggeram pelan, menjauhi Sekar dan peri-peri itu untuk meredam emosinya. Di kejauhan Satria melihat Sekar tertawa lepas memainkan sihir barunya di dampingi oleh Darth den Vader. Angin sepoi-sepoi menidurkan Satria di bawah pohon besar yang rindang.

Di saat ia tertidur, ia bermimpi didatangi dua peri berwarna pink dan biru lembut yang berkata bahwa ia harus berhati-hati dan waspada serta melindungi Sekar dari dua makhluk kegelapan yang memiliki niat buruk kepada mereka. Satria terbangun karena merasakan hawa dingin di sekitarnya. Rupanya hari sudah mulai malam.

Mimpinya tadi bagaikan cahaya di kegelapan. Satria berpikir ia memang harus berhati-hati dan waspada dengan Vader dan Darth juga melindungi Sekar dari mereka.

Malam itu Satria terjaga, sedangkan Sekar sudah tertidur di sampingnya. Tiba-tiba saja Sekar mengigau, tertawa lirih, lalu duduk dengan mata yang masih terpejam. Sekar berjalan ke arah padang bunga. Satria dengan cepat mengikutinya dari belakang, dan ia bersembunyi di balik pohon besar.

Terlihat Vader bersama dengan Darth sedang tertawa puas melihat Sekar kini bejalan tak tentu arah di tengah-tengah padang bunga.

“Dengarkan perkataanku Sekar, kau harus merapalkan mantra-mantra itu sekali lagi, maka kamu akan bisa menguasai gerbang antardunia. Jangan pikirkan Satria, dia hanya menjadi beban untukmu.” ujar Vader, berusaha memengaruhi Sekar.

Setelah itu mereka pergi dan menghilang di kegelapan malam. Sekar langsung terduduk lemas di tengah padang bunga. Satria berlari menghampiri Sekar, berniat menolongnya. Tetapi dengan cepat Sekar menepis tangan Satria.

“Jangan sentuh aku!” ucap Sekar dengan suara yang meninggi.

Pagi harinya Satria melihat Sekar yang sedang memegang buku mantra, bersiap ingin merapalkan mantra.

“Sekar, jangan lakukan itu! Kamu sedang dalam kendali sihir jahat. Aku mohon, Sekar, jangan!” Satria berusaha mencegah Sekar, namun semua ucapan Satria bagaikan angin lalu untuk Sekar.

Setelah Sekar mengucapkan mantra-mantra itu, langit berubah kelam, petir langsung menyambar tubuh Sekar dan Sekar langsung terperangkap di dalam bola kristal berwarna ungu gelap.

“Dasar manusia lugu, mau-maunya saja di jadikan sebagai alat. Inilah pembalasan untuk sikapmu yang serakah!” tawa Vader dan Darth membahana dan mereka berlalu pergi begitu saja.

Sekar tidak menyangka jika kekuatan yang diberikan justru menyedot semua energinya dan membuatnya perlahan berubah menjadi batu. Satria yang melihat itu langsung berlari ke arah Sekar yang sudah berubah menjadi batu.

Tiba-tiba muncullah dua peri berwarna pink dan biru lembut. Saat itu Satria sudah Ingin berkata kasar, namun dua peri itu tersenyum lembut yang membuat Satria terhipnotis.

“Perkenalkan, namaku Ley, dan ini temanku Cla. Kami adalah peri cahaya. Kami bisa membantumu jika memang kau benar-benar tulus. Tetapi ada konsekuensi yang harus kamu tanggung nantinya. Apakah kau mau?” ucap peri berwarna pink bernama Ley.

“Apa yang akan terjadi jika aku menolong sahabatku?” tanya Satria ragu.

“Kamu akan kehilangan semua ingatanmu tentang Sekar.” ujar Cla menanggapi.

Dengan mata yang berkaca-kaca Satria menatap dua peri itu, lalu berucap, “Baiklah, apapun itu agar sahabatku bisa kembali seperti semula.”

Akhirnya Satria merapalkan mantra pemulihan dibantu dengan Ley dan Cla. Satria mengucapkan mantra itu dengan suara yang bergetar menahan tangisan.

Setelah mereka merapalkan mantra, Satria memejamkan matanya dan merasa tubuhnya seperti tersedot ke dunia lain. Saat membuka mata ternyata Satria sudah ada di perpustakaan, dengan seorang gadis asing yang menatapnya dalam.

“Satria, maafkan aku. Seharusnya aku mendengarkan peringatan darimu!” ujar gadis Itu dengan suara tercekat.

“Kamu… siapa?” tanya Satria, berusaha mengingat apa yang terjadi sebenarnya.

Sekar yang mendengar itu lantas menangis dan memegang tangan Satria erat-erat. la juga menatap mata Satria, berusaha mengingatkan Satria dengan dirinya. Namun usaha itu sia-sia, Satria tetap saja tidak mengenali siapa dirinya.

Terdengar suara pintu yang tertutup dengan keras, Sekar yakin itu adalah suara pintu rahasia yang kembali terutup. Ternyata, perjalanannya bersama Satria tidak memberikan kesan yang menyenangkan, melainkan memberikan pelajaran yang berharga untuk Sekar. (BP/ KM)*

 

 

Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kabupaten Bangka Tengah Tahun 2025 cabang menulis cerpen. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *