Oleh : Ghaaziyatunnisa (Siswa SDN 2 Namang)
Matahari baru saja mengintip di ufuk timur saat Hanif menari nafas dalam-dalam. Udara di desa sangat berbeda dengan udara di kota tempat ia tinggal. Di sini, udaranya terasa manis, sejuk, dan membawa aroma tanah basah.
“Ayo, Hanif pakai sepatumu. Kita berangkat ke kelekak sekarang!” seru kakek sambil memanggul keranjang bambu di punggungnya.
Hanif segera berlari mengikuti kakek. Mereka berjalan menyelusuri jalan setapak yang kanan kirinya di penuhi pepohonan rimbun. Kelekak adalah hutan yang ditanam oleh nenek moyang mereka. Bukan sekadar hutan biasa, kelekak berisi pohon-pohon buah dan kayu berharga yang di wariskan turun temurun.
“Kek, kenapa hutan ini namanya kelekak?” tanya Hanif penasaran sambil melompati akar pohon yang melintang.
Kakek berhenti sejenak, mengelus batang pohon durian yang sangat besar. “Kelekak itu artinya kelak kek ikak, nanti untuk kalian. Dulu, kakek buyutmu menanam pohon-pohon ini agar bisa ditinggalkan sebagai warisan untuk anak cucu. Supaya kalian tidak kelaparan, supaya kalian ada kayu untuk membangun rumah, dan supaya air di tanah kita tetap terjaga.”
Hanif melihat sekeliling. Di sana, ada pohon manggis yang sedang berbuah, pohon cempedak yang aromanya mulai tercium, hingga pohon karet dan gaharu yang menjulang tinggi.
“Ini seperti supermarket raksasa ya, Kek,” celoteh Hanif.
Kakek tertawa renyah. “Lebih dari itu, Hanif. Ini adalah tabungan masa depan. Selama kita menjaga kelekak, kelekak akan menjaga kita.
Suasana ceria itu terusik ketika mereka sampai di batas hutan yang berbatasan dengan lahan kosong. Hanif melihat di sana beberapa orang sedang mengukur tanah dengan alat-alat besi. Beberapa batang pohon di pinggir hutan sudah ditandai dengan cat merah.
“Mereka mau apa, Kek?” tanya Hanif cemas.
Wajah kakek berubah serius.
“Ada perusahaan yang ingin membeli lahan ini untuk dijadikan perkebunan monokultur dan tambang. Mereka bilang, kelekak ini kuno dan tidak dapat menghasilkan uang cepat.”
“Tapi kalau ditebang, buah-buahnya bagaimana? burung-burung dan tupainya tinggal di mana?” Hanif mulai merasa sedih. la teringat rasa manis durian tembaga yang baru ia cicipi tadi pagi.
Sore harinya, Hanif duduk di beranda rumah kayu kakek. la melihat kakeknya tampak termenung melihat surat-surat penawaran lahan. Hanif tidak ingin warisan ini hilang. la mendapat sebuah ide.
Hanif mengambil kamera sakunya dan mulai berkeliling kelekak. Hanif memotret bunga-bunga hutan yang cantik, tupai yang melompat lincah, dan video kakek sedang bercerita tentang sejarah pohon tertua di sana.
Malamnya, dengan bantuan sinyal internet yang terbatas, Hanif mengunggah foto dan cerita itu ke media sosialnya. Ia memberi judul: “Kelekak: Hutan Cinta dari Kakek Untukku.”
Tak disangka, unggahannya menjadi viral. Banyak temannya dari kota bahkan orang-orang luar negeri kagum dengan konsep hutan keluarga yang berkelanjutan. Mereka belajar bahwa menjaga kelekak artinya menjaga pasokan air dan mencegah banjir.
Beberapa minggu kemudian berkat dukungan banyak orang dan keteguhan hati kakek beserta warga desa lainnya pengalihan lahan itu dibatalkan.
Kakek memegang bahu Hanif dengan bangga.
“Kamu sudah jadi penjaga hutan yang hebat, Nif. Kamu menggunakan caramu sendiri untuk melindungi warisan keluarga kita.”
Hanif tersenyum lebar. la tahu, kelak ketika ia sudah dewasa ia akan membawa anak cucunya ke sini. la akan menunjuk pohon durian yang sama dan berkata. “Ini adalah warisan yang harus kita jaga selamanya.”
Angin sore berembus pelan, menggoyahkan dedaunan batang pohon durian tua yang kini tampak lebih gagah, setelah badai ancaman itu berlalu. Hanif menarik nafas panjang, kali ini bukan karena cemas melainkan karena rasa syukur yang membuncah. Hanif melihat kakek sedang sibuk menyemai bibit pohon baru di teras rumah.
“Kek, apa yang kakek tanam itu?” tanya Hanif sambil menghampiri.
Kakek menoleh dengan binar mata yang kembali hidup.
“Ini beberapa bibit pohon ulin dan beberapa bibit pohon buah langka, Nif. Kemarin orang-orang dari kota yang membaca ceritamu mengirimkan benih ini. Mereka ingin membantu memperkaya kelekak kita.”
Hanif berlutut di samping kakek, menyentuh tanah hitam yang gembur dengan jemarinya. Ia menyadari sesuatu yang besar hari itu bahwa teknologi di tangannya dan tradisi di tangan kakek adalah perpaduan yang tak terkalahkan. Media sosial bukan sekadar tempat pamer melainkan pengeras suara bagi alam yang selama ini hanya bisa berbisik.
“Nanti kalau aku sudah jadi mahasiswa aku ingin belajar lebih banyak tentang konservasi, Kek, aku ingin kelekak tidak hanya ada di desa kita tapi konsepnya tersebar ke seluruh penjuru negeri,” ujar Hanif mantap.
Kakek mengangguk perlahan, menyerahkan sekop kecil kepada cucunya. “Tanamlah satu, Nif biar pohon ini tumbuh bersama cita-citamu.”
Saat matahari mulai terbenam, menyisakan semburat jingga di balik siluet pepohonan, Hanif menanam bibit pertamanya. Di balik langit yang tenang, Hanif berjanji pada diri sendiri selama jantungnya masih berdetak, nafas kelekak tidak akan pernah berhenti. Hutan ini adalah surat yang ditulis dengan akar dan daun, dan Hanif adalah penjaga hutan yang akan memastikan surat itu terbaca oleh generasi-generasi setelahnya. Hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan nafas kehidupan dan bukti cinta nenek moyang kita. Menjaganya adalah cara kita menghargai masa lalu dan menjamin masa depan. (BP / KM)*
Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Namang Tahun 2026.












