Karya: Yanto In Action
Empat belas Februari, embun jatuh di Tebuireng,
Lahir sang Syaikh, cahaya dari rahim hikmah.
Hasyim Asy’ari, bukan sekadar nama di batu nisan,
Tapi denyut jantung NU, napas bangsa yang haus damai.
Pesantren bergema, ilmu bagai sungai deras mengalir,
Bukan pedang, tapi pena fatwa yang meredam api.
Rais Akbar berdiri, sorban putih menari angin Jawa,
Merangkul mazhab, tasamuh jadi perisai abadi.
Pendiri bangsa, bukan dari mimbar perang suci,
Tapi dari mimbar adab, jihad pena melawan zalim.
Resolusi ’45, suara tegas usir penjajah ganas,
Bukan amarah buta, tapi rahmat untuk generasi.Ila hadlroti ruhi, jiwa kita bersujud pilu,
Alfatihah terbang, menyapa ruh di alam mulia.
Warisanmu hidup, di pesantren, di jalan desa,
Islam Nusantara: tawazun, bukan teror gelap.Kini dunia ribut, sorbanmu bisik pelajaran,
Dakwah tanpa kekerasan, dialog dengan hati terbuka.
Hasyim Asy’ari, rahasiamu: agama yang merangkul,
Bukan memecah, tapi menyatukan darah dan budaya.Empat belas lagi, kita ziarah bukan sekadar doa,
Tapi janji: lanjutkan api ilmu, padamkan provokasi.
Bangsa ini butuhmu, Syaikh, di saat badai datang,
Sorbanmu pelindung, rahasia damai yang abadi.
Toboali, 14 Februari 2026
