Oleh: Hesti Elsaria (SMPN 3 Satu Atap Sungaiselan)
Hari ini, langit terlihat cerah seolah ingin menyambut hal yang baru. Tepat di depan halaman sekolah, suasana tampak riuh oleh bisik-bisik penasaran. Semua siswa menunggu kedatangan anak didik baru.
“Anak-anak kita kedatangan teman baru. Perkenalkan ini Rani, dia berasal dari Yogyakarta,” kata wali kelas.
Semua orang langsung melihat gadis berambut hitam panjang dengan senyum lembut yang datang dari kota Yogyakarta. “Halo semuanya aku Rani, semoga kita bisa berteman dengan baik!” logat bicaranya terdengar berbeda, namun justru memberi warna baru di tengah-tengah keseharian kami yang biasa-biasa saja. “Silakan kamu duduk di samping Nadia, ya!” kata wali kelas sambil menunjuk ke arahku. “Baik bu,” jawab Rani.
Aku Nadia, hanya melihatnya. Entah mengapa, ada rasa ingin mengenalnya lebih dekat. Saat jam istirahat tiba, aku pergi ke kantin dan melihat Rani duduk sendirian. Aku memberanikan diri untuk menyapa, “Hai, apa aku boleh duduk di sampingmu?” tanyaku. la tersenyum, lalu menjawab pelan, “Boleh, aku juga belum punya teman kok!”
Sejak hari itu kami mulai sering berbicara. Rani ternyata sangat pandai menggambar, aku selalu terpukau saat melihatnya menggambar. “Wah, cantik sekali pemandangannya, kamu sangat pandai menggambar ya!” ucapku. “Terima kasih, ini gambar pemandangan kampung halamanku,” jawab Rani.
Rani sering menceritakan tentang kampung halamannya, tentang hamparan sawah yang hijau, udaranya yang sejuk, serta budayanya yang begitu terjaga. Setiap kali Rani menceritakan tentang kampung halamannya matanya selalu berbinar penuh rindu. Aku selalu terpesona saat mendengarnya bercerita.
Namun, tidak semua teman sekelas menyambutnya dengan senang hati. Beberapa menertawakan logat bicaranya yang berbeda. Rani hanya diam, menunduk, dan menahan perasaannya. Aku tahu hatinya terluka, hingga pada suatu hari aku berdiri dan berkata lantang, “Berhenti mengejek Rani. Cara bicara semua orang itu unik, bukankah perbedaan justru membuat kita indah!” kataku.
Sejak saat itu suasana kelas berubah. Mereka mulai menerima Rani dengan hangat. Rani pun perlahan mulai menjadi lebih percaya diri. Aku dan Rani sering belajar, menulis, bermain, bahkan memenangkan lomba di tingkat sekolah bersama – sama. Kami sering bermain di bawah pohon rambutan dekat sekolah. Terkadang kami juga sering pergi ke pohon tersebut sambil membawa jajanan untuk kami makan sambil bercerita. Kami sering bertukar cerita, aku sering menceritakan tentang kampung halaman nenekku, sedangkan Rani bercerita tentang Kampung halamannya. Kami sering bercanda ketika suka maupun duka.
Pada suatu hari kami diminta walau kelas untuk membuat gambar pemandangan pegunungan secara berkelompok. Aku satu kelompok dengan Rani dan Veli, mereka senang sekali mendapatkan kelompok yang berbakat.
Kami berencana membuat gambar pemandangan pegunungan dengan air mancur yang mengalir deras, kami juga sepakat akan mengerjakannya di rumahku saat akhir pekan. Kami membagi membawa peralatan yang akan digunakan untuk membuat hiasan kelas. Rani membawa karton dan gunting. Veli membawa pensil warna, pensil dan krayon, aku bagian spidol, kardus, dan kertas origami untuk membuat bingkai.
Saat akhir pekan Rani dan Veli datang ke rumahku untuk mengerjakan tugas kelompok kami. Aku langsung menyambut mereka dan menyuruh mereka untuk duduk dulu di ruang tamu, “Kalian duduk disini dulu ya, aku mau minta tolong mamaku untuk buatkan makanan dan minuman dulu!” ucapku. “Tidak apa-apa kok!” jawab Rani dan Veli.
Aku pergi ke dapur sambil minta tolong mamaku untuk membuatkan makanan dan minuman. “Ma, ada teman-temanku namanya Rani dan Veli. Mereka datang untuk mengerjakan tugas kelompok denganku, tolong buatkan makanan dan minuman untuk mereka, ya!” pintaku.
“lya nak, sambil menunggu kalian kerjakan dulu ya tugas kelompoknya!” kata mama. “Iya ma, oh iya kalau sudah selesai tolong antarkan ke kamarku ya!” ucapku.
“Iya nak, sudah, sana kerjakan tugas kelompokmu!” kata mama.
“lya ma,” jawabku.
Setelah itu, aku pun mengajak Rani dan Veli ke kamarku. “Maaf ya kamarku agak berantakan,” ucapku.
“Tidak apa-apa kok, kamarku juga agak berantakan,” jawab Veli.
“Iya tidak apa apa kok, mau kami bantu rapikan?” lanjut Rani.
“Terima kasih ya,” jawabku.
Setelah itu, kami pun mengerjakan tugas kelompok bersama-sama. Rani bertugas menggambarnya, aku dan Veli bertugas mewarnai gambarnya. Tak lama kemudian mama datang sambil membawakan makanan ringan dan minuman untuk kami. “Silakan dinikmati, ya! kata mama.
“Iya, terima kasih ya, tante,” jawab Rani dan Veli.
“Terima kasih, ma!” jawabku.
Mama menjawab pelan, “lya sama-sama, silakan dimakan, tante tinggal ke dapur dulu ya!” jawab mama.
Setelah makan dan minum kami melanjutkan menyelesaikan kerja kelompok kami bersama. “Akhirnya selesai juga,” ujar Veli.
“Iya, akhirnya selesai juga,” jawab Rani. “Besok tinggal dikumpulkan deh,” ucapku. “Iya, besok kita kumpulkan bersama-sama ya!” ucap Rani.
“Siap!” jawabku dan Rani.
Tak terasa ulangan semester akhir sudah dekat, aku dan Rani berencana belajar bersama di rumah Rani. Aku disambut hangat di rumah Rani. Sebelum belajar ibu Rani memberikan camilan dan minuman untuk kami. Kami pun memakan dan meminum camilan dan minuman yang di hidangkan ibu Rani. “Ini enak sekali, aku baru pertama kali memakannya,” ucapku. “Ini namanya Yangko dan es dawet ayu, ini makanan khas kampung halamanku!” jelas Rani. Setelah makan dan minum kami pun belajar bersama.
Kami belajar sambil bercanda, tapi tak lama kemudian Rani bilang kepadaku bahwa dia akan pindah lagi ke Yogyakarta. Aku heran dan bertanya, “Rani kenapa kamu mau pindah lagi ke Yogyakarta?” tanyaku.
“Ayahku bilang bahwa pekerjaannya di sini sudah selesai, jadi setelah semester akhir berakhir aku akan segera pindah ke Yogyakarta,” jawab Rani.
Aku meneteskan air mata. “Kamu jangan sedih aku akan selalu menghubungimu kok, jadi jangan sedih ya!” ucap Rani sambil menenangkanku.
Tak terasa waktu telah berlalu begitu cepat. Saat tahun ajaran berakhir Rani harus pindah ke Yogyakarta. Sebelum Rani pergi aku memeluknya erat, “kamu baik-baik ya di sana!” ujarku.
“Iya,” jawab Rani.
Semua teman di kelas meneteskan air mata membuat pipi mereka basah. Setelah itu wali kelas menyuruh kami berbaris di depan gerbang sekolah. Kami bersama mengucapkan salam perpisahan kepada Rani. Dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipi, seolah tak ingin berpisah.
Sebelum pergi Rani memberikan boneka dengan wajah yang mirip dengan aku dan Rani, “Boneka ini aku sendiri yang membuatnya, dijaga baik-baik ya!” kata Rani.
“Iya aku akan menjaga boneka ini baik-baik,” jawabku.
Rani pun tersenyum sambil melangkah pergi.
Sebelum pergi Rani melambaikan tangannya kepada kami sambil berkata, “Aku tak akan melupakanmu, Nadia!” ucap Rani lirih.
“Aku juga Rani, mungkin jarak memisahkan kita tapi persahabatan tidak mengenal batas,” balasku.
Kini, kami hanya bertukar kabar lewat headphone atau pesan singkat. Rani bercerita kepadaku bahwa dia diterima di sekolah barunya, teman-teman barunya juga menerimanya dengan senang hati. Rani sering mengirimiku barang-barang dan makanan khas Yogyakarta. Rani juga sering mengirimiku surat.
Namun, setiap kali aku membaca tulisannya aku merasa, seolah aku bisa mendengar kembali suaranya. Logat lembut khas Yogyakarta yang telah mempertemukanku dengan Rani sahabat dari luar daerah yang kini menjadi bagian dari kenangan yang abadi dalam hidupku.
Pesan yang kita dapatkan dari cerita Rani, Sahabatku
Persahabatan tak mengenal perbedaan, dari cerita tersebut kita belajar bahwa perbedaan latar belakang, budaya, atau cara bicara bukanlah penghalang untuk menjalin persahabatan. Justru dari situlah kita bisa belajar dan tumbuh bersama. Dan saling menghargai dan menerima sesama, seperti Rani sempat diejek karena cara bicaranya yang berbeda, namun Nadia menunjukkan bahwa pentingnya saling menghargai sesama dan menerima orang lain dengan apa adanya. Dan dalam mengerjakan tugas kelompok, kerjasama antara Nadia, Rani dan Veli menjadi lebih mudah karena pembagian tugas yang baik dan semangat kerjasama, sehingga hasil yang didapatkan sangat yang baik akan selalu ada di dalam hati, memuaskan.
Kesimpulannya, persahabatan yang indah dan tulus akan selalu terjalin dengan cara apa pun dan akan selalu abadi dalam kenangan dan di dalam hati kita. (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025.












