Puisi  

Rindu yang Tak Bersuara

Karya: Yanto In Action

 

Di dada ini, rindu bersemayam sunyi,

tak riuh seperti angin, tak manis seperti madu.

 

Ia menekan napas, pelan tapi pasti,

bahasa batin yang kata-kata tak mampu terjemah.

 

Kau pernah utuhkan jiwa, kini hilang jejakmu,

rindu bicara, tapi telingamu jauh di ufuk sana.

 

Bukan pertemuan kutuntut, bukan milikmu kuinginkan,

hanya pengertian, agar luka ini sah di matamu.

 

Paradoks cinta: ingin kau rasakan menusuknya,

tapi tak rela lukamu lahir dari dadaku.

 

Empati atau racun? Jembatan atau jurang?

Rindu menguji, apakah kita dewasa menyayangi.

 

Hati kita tak simetris, kau langkah ringan,

aku terpuruk di bayangmu yang pudar.

 

Bukan salahmu ringan, bukan lebarku salah,

hanya ketimpangan, nasib hubungan manusiawi.

 

Rindu ini ingin dibagi, bukan dilukai lagi,

seperti air yang haus akan sungai sepadan.

 

Tapi kau mungkin tak lagi di ruang yang sama,

dan kritisnya: apakah ini cinta, atau luka tak sembuh?Ada rindu yang pulang dalam pelukmu dulu,

ada yang diam saja, jadi kenangan tenang.

 

Tak semua harus sampai, tak semua mesti paham,

penerimaan adalah romansa terdalam.

 

Kini kutanya jiwa: tuluskah rindu ini,

atau cermin luka yang belum kuobati sendiri?

Romantisnya, kau ajar aku mandiri berduka,

kritiknya, jangan biarkan rindu jadi beban abadi.

 

Di kesunyian dada, rindu berubah pelan,

dari tekanan jadi hembusan, dari luka jadi lagu.

 

Kau tetap indah di relung, walau tak kembali,

cinta sejati: melepaskan tanpa hilang arti.

 

Toboali, 18 Februari 2026

Exit mobile version