RITUAL EKONOMI HITAM, OMBAK YANG MENANGIS DI CUPAT

 

Oleh : Belva dan Tim

Di sebuah pulau yang dipeluk ombak, di mana matahari menggantung seperti koin tembaga di ujung cakrawala, ada sebuah kisah yang bukan sekadar berita, melainkan luka yang menulis dirinya sendiri di pasir sejarah.

 

Sebuah cerita tentang empat ponton yang ditarik ke dermaga Mantung seperti kambing hitam menuju altar pengorbanan, empat rakit besi yang dahulu bernyanyi dengan deru mesin kini bisu di bawah tatapan tajam seragam cokelat.

 

Dan di antara asap gerinda yang menari seperti dupa di altar gelap kekuasaan, suara besi yang dipotong terdengar seperti ratapan doa orang miskin yang disembelih oleh janji-janji yang tak pernah lahir, sementara di langit, camar terbang rendah, seakan hendak menyaksikan bagaimana hukum dikemas menjadi pertunjukan untuk kamera.

 

Berita di layar kaca berubah menjadi mantra penenang yang disisipkan kata-kata “penertiban,” “komitmen,” dan “demi kelestarian,” padahal di bawah meja, tangan-tangan yang sama menandatangani kontrak gelap dengan tinta yang terbuat dari darah pasir timah.

 

Sebuah darah yang mengalir dari sungai yang dahulu suci menjadi kali keruh, dari laut yang dahulu menghidupi menjadi rahim yang digugurkan paksa oleh mesin-mesin rakus.

 

Dan di sanalah, di Cupat yang jauh dari mercusuar hukum, lahir ritual yang tak pernah dicatat dalam kitab undang-undang. Sebuah ritual ekonomi hitam yang dimulai dengan suara pantun, pantun yang diubah menjadi jampi,

 

“Kalau hanyut kayu di laut, jangan tersangkut di akar nibung, kalau hidup tak tahu maut, janganlah makan hasil ilegal mining,”

 

Namun siapa yang mendengar pantun itu ketika gemuruh mesin lebih merdu dari nasihat leluhur, ketika bau solar lebih harum dari keringat sawah, ketika koin-koin yang dijatuhkan di meja warung kopi lebih sakral dari ayat yang dibaca di surau.

 

Empat rakit dibongkar

 

Empat rakit yang dibongkar seperti jenazah yang dikerat, bukan untuk dimakamkan, tetapi untuk ditonton, dijadikan foto, dijadikan berita, dijadikan alibi bahwa hukum hidup.

 

Padahal hukum hanya menegakkan tubuhnya di kamera, sementara jiwanya tidur di ranjang kekuasaan.

 

Dan di sinilah satire menemukan panggungnya, ketika Kapolres yang gagah berdiri dengan kalimat tegas,

 

“Kami tidak kompromi dengan ilegal,”

 

Seakan kalimat itu bisa menghentikan perahu-perahu kecil yang masih menari di teluk, seakan kata-kata itu mampu menutup lubang-lubang pengawasan yang bocor seperti jala robek.

 

Padahal di kafe malam, ada gelas-gelas kopi yang beradu pelan, ada tawa rendah yang menyebut angka, ada mata yang saling mengerti bahwa ilegal hanyalah kata yang bisa dicuci seperti pasir timah yang dicuci di pinggir pantai.

 

Dan ritual ekonomi hitam pun berlangsung, tanpa lilin, tanpa altar, hanya dengan deru mesin, bau oli, dan tangan-tangan yang bekerja tanpa nama.

 

Sementara di kampung, seorang ibu menanak nasi dengan beras yang dibeli dari uang pasir, sementara seorang ayah mengajarkan anaknya bahwa sekolah adalah mimpi yang bisa dibayar dengan butiran logam yang diambil dari dasar laut.

 

Dan di situlah ironi menjadi doa, doa yang tak sampai, karena langit sudah dipenuhi oleh asap pembakaran pipa besi, oleh suara hukum yang lebih suka menjadi gong upacara daripada pedang keadilan.

 

Dan ketika malam turun, di antara warung-warung kopi yang menggigil dihembus angin laut, terdengar lagi pantun lama, kini berubah jadi sindiran,

 

“Kalau padi jangan dipijak, kalau kayu jangan dipatah, kalau janji jangan disepak, kalau hukum jangan dijual murah,”

 

Tetapi siapa yang peduli pantun ketika angka royalti bisa disulap, ketika izin bisa dibeli seperti membeli rokok, ketika nama adat hanya dipajang di baliho sementara tanahnya disedot hingga jadi rawa.

 

Pasir yang memanggil darah

 

Pasir yang memanggil darah, bukan darah perang, tetapi darah keserakahan, darah yang keluar pelan-pelan dari nadi hutan bakau yang ditebang untuk jalan ponton, dari tubuh karang yang retak karena jangkar rakit, dari jiwa ikan yang mati karena limbah lumpur.

 

Dan setiap tetes darah itu berubah menjadi mata uang yang mengalir ke rekening entah siapa, ke saku entah siapa, bukan hanya mereka yang basah oleh lumpur di pinggang, tetapi juga mereka yang kering di kursi empuk.

 

Ruang yang dipenuhi asap rokok, suara gelas kopi yang beradu, di tengahnya ada meja panjang, di atas meja ada peta laut yang dilipat seperti kitab rahasia, ada angka-angka yang ditulis di sobekan kertas seperti doa syaitan, dan di ujung meja ada sosok yang tertawa, tertawa seperti bunyi besi beradu.

 

Sementara di luar jendela, hujan turun, membawa bau laut, membawa suara ombak yang seakan ingin berkata, “Aku bukan ladangmu,” tetapi siapa yang mendengar ombak ketika telinga sudah disumbat oleh gemerincing koin.

 

Pemburuan di laut gelap

 

Malam ketika empat ponton diburu seperti rusa, ketika cahaya lampu sorot menari di atas gelombang, ketika suara mesin berhenti, digantikan suara dayung yang panik, suara napas yang tercekat, suara laut yang tiba-tiba terasa seperti mulut naga.

 

Dan di sanalah rasa takut berubah jadi mantra, mantra yang tak memanggil dewa, tapi memanggil selamat dari borgol, selamat dari kamera, selamat dari berita.

 

Dan ketika mereka tertangkap, dibawa ke darat, ke ruang yang dingin, nama mereka berubah menjadi angka di laporan, menjadi huruf di berita, menjadi contoh di rapat, tetapi tidak pernah menjadi pelajaran.

 

Karena pelajaran hanyalah untuk mereka yang kalah, bukan untuk mereka yang punya kursi.

 

Pantun terasa berdarah

 

“Kalau laut sudah jadi rawa, kalau gunung maras sudah jadi kubur, kalau hukum hanya untuk bertahta, jangan bicara lugas bila sudah hancur,”

 

Cerita ini bukan sekadar kisah empat ponton yang dibongkar, tetapi sebuah doa yang patah di tengah jalan, doa yang berubah menjadi satire, satire yang berubah menjadi pedang kata.

 

Kata yang kami ukir agar mereka tahu, bahwa ritual ekonomi hitam bukan terjadi di malam berkabut, bukan terjadi di gua rahasia, tetapi terjadi di ruang terang, di antara kata “komitmen” dan “penertiban,” di antara janji yang diucapkan seperti pantun di podium, tetapi dilumat seperti ikan asin di meja makan.

 

Tulisan ini akan terus bernafas selama ombak masih memukul karang, selama pasir masih dipanggil oleh suara mesin, selama ada manusia yang percaya bahwa kekayaan alam adalah altar untuk menebus lapar tanpa peduli bahwa di balik setiap butir timah, ada doa yang terkubur, ada pantun yang menangis, ada pulau yang pelan-pelan karam di bawah kaki sendiri.

Exit mobile version