Rudi dan Rahasia Bukit Besi

Oleh: Carolita Cordela (Siswa SDN 9 Pangkalanbaru)

 

Di sebuah desa bernama Desa Sinau, pagi selalu diawali dengan hembusan angin segar dari Sungai Kuran, desa kecil itu dikelilingi dengan perbukitan timah yang hijau, tapi belakangan ini, hijau itu mulai pudar. Rudi, 10 tahun berbadan kurus rambut ikal, bangun pagi-pagi sekali di rumah panggungnya, ia melirik jendela bambu, asap tipis dari bekas penggalian liar.

“Lagi-lagi mereka nakal!” gumam Rudi sambil mengikat sepatu sekolahnya yang sudah bolong-bolong,

Rudi, bocah kelas 5 SD di desa tersebut. Sejak kecil, ia suka mendengar cerita Kakeknya tentang ”Ibu Pertiwi”, roh penjaga bumi yang marah kalau manusia serakah. Kakeknya, mantan penambang timah, sering bilang, “Timah itu hadiah dari Bunda Bumi, tapi kalau digali sembarangan Bunda Bumi bisa marah!” Rudi percaya banget. Setiap hari, ia bermain ke sungai yang dulu bening seperti kaca, kini keruh seperti bubur lumpur merah.

Hari itu, Rudi bersepeda ke sekolah, sepeda kecilnya rusak. Di pinggir jalan setapak, ia bertemu Iksan, sahabatnya yang berumur 9 tahun dan gembul seperti adonan kue. Iksan bawa jaring kecil untuk nangkap ikan, “Rud, Sungai kita kayak es krim coklat yang kebanyakan bubuknya, ikan pada kabur!”

Belum sempat jawab, Alif muncul dari balik pohon kelapa. Alif, berumur 10 tahun si pintar kelas dengan kacamata besar, suka menggambar peta dibuku tulisnya.

“Aku ukur pakai penggaris: tambang liar bertambah 10 senti setiap hari, sungai bisa mati!” Alif suka pakai HP pinjaman Kakaknya untuk melihat peta satelit.

Tak lama, Putri dan Intan datang, lari dari arah warung. Putri, berumur 9 tahun gadis tomboy, hobi main bola. Intan, 10 tahun lembut tapi pemberani, sering bawa pensil warna untuk menggambar alam.

“Kalian, kemarin aku liat truk gede lewat malam-malam, buang air kotor!” seru Putri. Intan menunjukkan sketsanya.

”Ini peta rahasianya, di belakang bukit besi!”

Kelima sahabat kecil itu duduk di bawah pohon waru dengan markas mainannya dari kotak kardus. Rudi menyusun rencana di tanah pakai ranting, “kita jadi pahlawan, selidiki tambang liar dulu!”

Mereka bertepuk tangan: Operasi Penjaga Bumi dimulai.

Sorenya, setelah pulang sekolah mereka berpetualangan dengan sepeda roda 3 dan kaki. Jalan setapak licin dan udara bau besi.  ”Jangan jatuh, ya!” bisik Alif sambil memegang kompas mainan. Setelah setengah jam bermain lari-larian, mereka tiba di tepi lubang besar, lubangnya seperti kolam raksasa, di kelilingi dengan gunung tanah merah. Air kotor mengalir.

”Wah, serem!” Iksan sambil tutup hidung. Di dekat situ, ada dua bapak-bapak tambang yang sedang gali dengan cangkul. Putri foto dengan kamera mainannya yang bisa cetak stiker. ”Bukti nih!” Intan gambar cepat : lubang besar, pipa kotor, pohon layu,

Tiba-tiba, ranting patah. “Anak-anak! Pulang sana, bahaya!” mereka lari ketawa ketakutan, Rudi jatuh dan lututnya lecet, Iksan bantu angkat, ”Kita menang ronde pertama!”

Malamnya, mereka rapat di rumah Rudi dengan lentera.

”Air kotor itu ada racun, bisa bikin kita sakit perut!” jelas Arif.

Putri usul, ”Lapor Bu Guru?”

Rudi geleng kepala, ”besok kita tanam pohon aja, ajak teman-teman SD.”

Besoknya, mereka main lari-larian bersama anak-anak SD yang lain. Rudi pidato: “Sungai Kuran sahabat kita, dulu kita berenang, tangkap udang, sekarang kotor, bantu rawat Yuk!” anak-anak bertepuk tangan, ternyata mereka setuju. Bu Guru dan Pak Lurah datang : ”Bagus anak-anak, ayo tanam pohon!”

Operasi Pohon Hijau dimulai. Mereka ambil bibit dari kebun sekolah. Jambu, pisang, pepaya. Iksan bawa ember tanah. Alif ukur: “50 pohon cukup untuk menutup lubang!”

Putri bagi-bagi stiker: “Jadi Penjaga Bumi Yuk!”

Sorenya, mereka heboh ke lokasi, Rudi gali lubang kecil, Rudi tanam bibit pertama. ”Buat Kakek!” Iksan nyanyi lagu Bangka. Intan mencatat nama teman-teman yang relawan. Alif memotong pita sebagai tanda larangan dari kertas warna.

Tapi, om-om tambang balik lagi, lima orang dengan cangkul.

“Ini tempat kami! Kalian anak-anak apa!” Marahan terbesar, Rudi maju tangan bergetar tapi suara lantang. “Ini Sungai desa kami, kalian buat kotor. Pergi atau kami panggil polisi!”

Om-om tambang tertawa. “HAHAHAHHA”, tapi anak-anak sudah maju semua. Pak Lurah datang dengan surat dari kantor desa. “Pengawas sudah datang, kalian pergi sekarang!” om-om tambang mundur, tapi bisik, “Nanti malam kami balas!”

Malamnya hujan deras, Rudi bangun karena mimpi buruk. Sungai kering, desa gelap. Tiba-tiba ada jeritan, “Api di tambang!” Rudi lari keluar, teman-temannya sudah menunggu. Api menyala di dalam lubang. Mereka pakai ember berisi air hujan, daun pisang basah, tapi api nakal.

“Gunakan selang taman!” teriak Alif. Dengan jeritan semangat mereka padamkan api.

Beberapa bulan kemudian, sungai ceria kembali. Rudi berdiri di tepi sungai bersama Iksan, Alif, Putri, dan Intan. ”kita pahlawan bumi!” ucap Rudi sambil melempar batu kecil.

Iksan cekikikan, ”Tapi jangan lari lagi ya, capek!”

”Sungai sehat 70 %, berkat kita!” Tambah Alif. Putri memeluk Intan, ”Kita Pahlawan Bumi!”

Mereka duduk di bawah pohon waru, Rudi tatap langit. ”Pasti Ibu Pertiwi senang, besok kita bersih pantai!”

Mereka siap akan memulai petualangan baru. Desa senang punya Penjaga Bumi kecil tapi besar hatinya. (BP/ KM)*

 

 

Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Pangkalanbaru Tahun 2026 Cabang Menulis Cerita. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *