Sahabat dari Luar Daerah

Karya: Nafilla (Siswa SMP Taruna Sains Muhammadiyah, Koba)

 

Namaku Ana. Aku berasal dari Bangka Tengah, daerah yang penuh kenangan dan kehangatan, saat kelas 4 SD. Aku mempunyai sahabat dari luar daerah yang bernama Vita. la anak yang baik hati, ramah, dan suka menolong. Saat pertemuan pertama, kami seperti sudah lama saling mengenal.

Hari-hari kami dipenuhi tawa. Kami saling bertukar cerita, berbagi pengalaman tentang banyak hal. Saat kami bermain bersama, waktu terasa berjalan begitu cepat. Terkadang kami hampir tak ingat waktu saat bermain.

Namun, sikap Vita mulai berubah saat kelas 6 SD. Vita yang dulu ku kenal selalu ceria, selalu ingin bermain bersama sepulang sekolah. Tetapi sekarang ia tidak lagi seperti Vita yang dulu ku kenal.

Hari-hariku mulai terasa sunyi, kami sudah tidak seperti dulu lagi. Saat aku mencoba menghubungi Vita lewat telepon, ia langsung mengangkat telpon tersebut. Tak terasa kami berbicara sudah cukup lama. Akhirnya kami memutuskan untuk bertemu di taman bermain dekat rumahnya.

Keesokan harinya, kami bertemu dan duduk di ayunan taman. Vita datang dengan wajah yang tak lagi semangat seperti dulu. la mulai menceritakan masalah yang ia hadapi sekarang.

“Ana, nilai raporku menurun. Sepertinya aku tidak bisa meraih mimpiku untuk bersekolah di sekolah impian.” Ana tak ingin melihat sahabatnya putus asa. Ana langsung menawarkan Vita untuk belajar bersama.

“Vita, kamu tidak boleh putus asa, ayo kita belajar dan berjuang bersama!”

Vita yang awalnya tidak ceria, perlahan mulai tersenyum kecil karena dari dulu ia sangat ingin diajari oleh Ana. Ia sangat salut atas perjuangan Ana karena selalu mempertahankan rangking 1 di kelas. la sangat bersemangat untuk belajar bersama dengan Ana. Ana mulai menanyakan Vita pelajaran apa yang ia kurang mengerti. Vita menjawab, “pelajaran matematika.”

Ana yang mahir di pelajaran matematika, tanpa ragu, ia menjawab dan mengajarinya. Vita mendengar jawaban Ana. Seketika ia langsung kembali ceria seperti dulu.

Keesokan harinya, mereka belajar di tempat biasanya mereka bertemu. Ana membuka buku dan mulai mengajari Vita tentang rumus matematika, perlahan Ana mulai mengerti tentang rumus-rumus yang ia tidak mengerti sebelumnya.

Hari sudah menjelang sore, tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Ana mengajak Vita untuk melanjutkan kembali esok hari, Vita segera merapikan buku-buku yang ia bawa dari rumah. Lalu Vita berterima kasih kepada Ana, karena telah mengajari Vita banyak rumus yang ada di matematika.

Hari-hari telah berlalu. Mereka mulai bermain bersama seperti dulu. Saat pulang sekolah mereka bertemu di tempat biasanya. Vita bercerita kepada Ana bahwa nilai rapornya perlahan sudah mulai naik, Ana membalas dengan senyuman. Tetapi mereka tidak lupa untuk selalu belajar.

Tak terasa hari kelulusan telah tiba. Vita memeluk Ana sambil menahan air mata, ia sangat berterima kasih kepada Ana karena telah mengajarinya banyak hal.

Sore hari, Vita menghampiri Ana dengan membawa kendaraan berisi banyak peralatan. Vita memeluk Ana sambil menahan air mata. Ia berbisik kepada Ana bahwa ia akan pergi ke kampung halamannya, dan melanjutkan SMP di sekolah impiannya.

Ana menahan tangisan dan berkata, “aku tidak akan melupakan persahabatan kita.” Vita menjawab dengan suara lembut, “aku juga tidak akan melupakannya.”

Mobil Vita telah berjalan jauh, dan perlahan menghilang dari pandangan Ana. Ana berkata, “walaupun kita tidak melanjutkan sekolah yang sama, tetapi persahabatan kita tetap hidup dalam kenangan.” (BP/ KM)*

 

 

Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *