Oleh: Echa Ayunda (SMPN 1 Lubukbesar)
Alya gadis berumur 15 tahun, ia tinggal di Jakarta bersama kedua orang tuanya. la adalah anak yang baik, ramah, dan sopan. Ia juga memiliki sahabat luar daerah yang bernama Feli, yang berumur 14 tahun, lebih muda satu tahun darinya. Mereka sangat lah dekat, setiap pulang sekolah mereka akan berkomunikasi.
Saat di sekolah teman Alya bertanya. “Kamu memiliki sahabat luar daerah, bagaimana cara kamu memahami bahasanya?” tanya teman Alya.
“Kita bisa menggunakan Bahasa Indonesia supaya mengerti apa yang dia bicarakan,” jelasnya.
Setelah menjelaskan, bel pulang berbunyi. Di luar kelas siswa-siswa berhamburan menunggu jemputan.
Saat tiba dirumah, ia langsung mengganti seragam dan menaruh tempat bekalnya di dapur. Lalu, ia mengambil gawainya untuk memberi kabar kepada sahabatnya.
“Halo Feli, bagaimana kabarmu hari ini?” Tanya Alya.
“Baik.” Jawabnya dengan nada datar.
“Apa kamu marah dengan aku?” Tanya Alya dengan heran.
“Aku tidak marah kepadamu.”
“Ayolah ceritakan apa yang terjadi di sekolah!” Paksanya.
“Tadi saat di sekolah aku ingin salat, lalu aku meletakan sepatuku di samping pot bunga. Saat aku selesai salat, aku mau mengambil sepatuku. Tapi aku tidak bisa menemukannya, saat dicari oleh guru, sepatuku ditemukan di dalam selokan.” Jelasnya.
Ia hanya menceritakan itu kepada Alya sebab kedua orang tuanya sibuk bekerja sehingga jarang mengobrol dengannya.
Tetapi, semua kebahagian itu sirna. Feli sudah tidak ada kabar selama 1 tahun ini, ia sangat sedih. Untuk menghilangkan rasa sedihnya, ia memutuskan untuk membaca buku di bawah pohon mangga.
Tak lama kemudian terdengar suara notifikasi dari gawainya, pesan itu bertuliskan “Assalamualaikum, bagaimana kabarmu di sana, Alya?”
Tanpa berlama-lama, ia langsung membalas pesan itu, lalu menceritakan semua kesedihannya.
“Alya ayo bangun!” Panggil ibunya dari dapur.
la sangat sedih, ternyata semua itu hanyalah mimpi. Ia langsung pulang ke rumah untuk mandi dan makan malam. Tak lama, ia teridur karena kelelahan.
Lagi-lagi ia bermimpi tentang sahabatnya. Namun, kali ini seperti ada yang aneh, kenapa? Sebab di dalam mimpi itu Feli berpamitan dan meminta maaf.
“Alya ayo cepat-cepat!” panggil ibunya. la segera bangun dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Setibanya ia di sekolah, mukanya selalu murung tak ada senyuman di wajah manisnya.
Setelah ia belajar di sekolah, bel pulang pun berbunyi. la langsung pulang dengan berjalan kaki, kepalanya tertunduk menatap ke bawah. Saat ia ingin menyeberang jalan, dari ujung matanya ia melihat gadis dengan kulit sawo matang, rambut di kepang dua, matanya yang indah, dan bulu mata yang lentik.
“Feliiii….” panggilnya. Tetapi nihil, gadis itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Karena penasaran ia pun langsung berlari mengejar gadis tersebut. Tetapi gadis itu terlalu cepat hingga menghilang di tengah-tengah kerumunan.
Dengan perasaan putus asa, akhirnya ia pulang ke rumah. Setibanya di rumah, ia langsung terduduk di lantai. Tak sadar, air mata telah membasahi pipinya.
“Jika bukan Feli, lalu siapa gadis itu?” Ocehnya sambil menangis.
la langsung bangkit, mengganti pakaian lalu tertidur di kamarnya. Saat ia terbangun, ia berjalan menuju ke jendela. Saat jendela di buka cahaya matahari yang hangat langsung menyinari wajahnya.
la memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di taman. la duduk di bangku yang bersebelahan dengan air mancur. la melihat-lihat ke sekitar, bunga-bunga cantik yang mulai bermekaran, baunya harum sekali. Saat sedang bersantai, ada seorang anak kecil yang ingin menghampirinya.
Anak kecil itu cantik sekali. Rambutnya ikal, kulitnya putih, matanya indah dengan pupil mata yang berwarna coklat. la bermain bersamanya sejenak, lalu ia mendengar samar-samar ada suara wanita yang memanggil anaknya.
Wanita itu menghampirinya, lalu menggambil anaknya untuk dibawa pulang. Saat anak kecil itu pulang, ia akhirnya memutuskan untuk pulang juga. Setibanya di rumah, ia melihat ibunya berbicara kepada tetangga barunya.
Ia teringat, ibunya pernah mengatakan bahwa tetangga kami memiliki satu anak perempuan yang umurnya 15 tahun. Setelah ia selesai mandi, sekitar pukul 13.12 WIB, ia pergi kerumah tetangganya.
“Tok..tok..tok…” pintu diketuk pelan. Setelah menunggu beberapa saat, ia melihat seorang gadis berdiri di depan pintu. “Alyaaa….” Gadis itu langsung memeluknya dengan erat. la masih tidak percaya bahwa gadis yang memeluknya saat ini adalah sahabatnya.
Mulai hari itu mereka sering bermain bersama. Mereka bermain di bawah pohon mangga. Di sana mereka ingin membuat sebuah rumah pohon. Tetapi, kebahagian itu sirna sebab sahabatnya terkena penyakit. la terbaring lemah di rumah sakit. Akhirnya Alya bermain sendirian lagi.
Tak sadar senja pun telah tiba. Burung-burung berkicau merdu sekali. Hari sudah hampir malam, ia pun pulang ke rumah untuk mandi dan makan malam. Setelah makan malam ia duduk di kasurnya sambil menatap ke arah jendela. “Huftttt…..” la membuang nafas panjang.
Dalam lamunannya, sebuah ide terlintas. la mempunyai ide untuk memberi kejutan untuk sahabatnya. Setelah mendapatkan ide ia pun langsung bersiap-siap untuk tidur. Keesokan harinya, ia terbangun karena ada suara sirine ambulan. la penasaran, siapa orang yang berada di dalam ambulan itu.
Saat pagi tiba ia langsung mendatangi rumah tersebut, di sana sangat ramai. Lalu saat ia melihat ke ruang tamu, hatinya langsung hancur, sehancur-hancurnya. Air mata mengalir deras hingga membasahi pipinya. Kenapa? Sebab di sana terbaring tubuh seorang gadis yang ditutup dengan kain jarik.
Suara isak tangis memecah kesunyian, orang-rang membaca yasin dengan air mata yang terus mengalir. Akhirnya gadis itu pun di makamkan, sepanjang perjalanan kepalanya hanya tertunduk.
Saat pemakaman selesai, orang-orang segera pulang menuju rumah masing-masing. Di sana hanya tersisa Alya seorang. Arwah gadis itu memanggil-manggil dan meminta tolong agar tidak di tinggalkan sendiri.
Tetapi usahanya sia-sia, akhirnya Alya pulang dengan perasaan yang sedih. Tetapi, ia selalu berusaha untuk melupakan sahabatnya. Karena bosan, akhirnya ia memutuskan untuk bermain ke pohon mangga di belakang rumahnya. la terdiam sejenak, karena melihat di sana sudah ada rumah pohon. Ia sangat bahagia walaupun di satu sisi ia juga merasa sedih. Setiap hari ia bermain di rumah pohon itu.
Sudah 1 tahun lebih atas kepergian sahabatnya, tetapi sekarang ia sudah ikhlas atas kepergiannya. Ia sudah tidak berlarut-larut dalam kesedihannya. Terkadang ia menatap ke atas langgit, “kamu pasti bahagia ya, di sana!” ucapnya dengan suara yang bergetar karena menahan untuk tidak menangis. (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025.












