Laporan : Mr. Murar
Bekaespedia.com, Pangkalpinang,- DMI Babel kembali menggelar program Sajadah Fajar (Safar) yang menjadi ikon organisasi ini. Setelah libur satu pekan saat Lebaran Idul Fitri, program ini kembali dilaksanakan di Masjid Haji Bakri Pangkalpinang pada Ahad (6/4/2025)
Kegiatan ini menghadirkan Ust. Prof. DR. Rusydi Sulaiman, M. Ag, Dewan Majelis Mustasyar DMI Babel.
Dalam tausiyahnya, Prof. Rusydi menyampaikan tentang sejarah dakwah di Bangka, salah satunya mengapa banyak masjid dan tempat belajar dibangun dekat aliran air atau tumbek.
“Tumbek dalam bahasa Bangka dikenal sebagai sarang atau rumah jin atau roh halus yang sudah turun temurun tinggal di situ, hal itu dilakukan untuk mengusir roh-roh jahat dan jin-jin yang memang sudah turun temurun tinggal di sana”, jelasnya
Menurut Prof. Rusydi, hal ini dilakukan pada masa-masa dulu,
“Termasuk di Pangkalpinang ini ada dibangun dekat sekolah Setia Utama Jalan Kampung Melintang yang belakangan dikenal dengan nama Al Ittihadiyyah Al Islamiyyah (AIAI) yang juga berdiri dan berkembang AIAI ini di Sungai Selan hingga sekarang tetap eksis dan bertambah maju,” tambah Prof. Rusydi.

Menurut prof. Rusydi, guru-guru pada masa itu seperti tuan guru Ghozali idris (berteman akrab di Jogya dengan KH.Munawir Syazali mantan menteri Agama), Guru Kiyai Kisa’i, Guru Addari yang lama menetap menggali ilmu di Mekkah, guru H.Musa yang terkenal dengan kaya dan sangat Dermawan. Guru H.Hormen yang selalu mengajak para kiyai dan Asatidz yang sejak awal-awal selalu mengajak berdakwah keliling Bangka Dari masjid kemasjid mengajak umat memakmurkan masjid, meramaikan masjid dengan memasang pengeras suara (toa) di mobil atau kendaraan yang mereka jadikan sebagai media Dakwah,
“Jadi Gerakan Memakmurkan Masjid di pulau Bangka ini dulunya sudah di lakukan oleh guru-guru kita yang sangat mumpuni dan sangat ‘alim. Ada juga Masjid tertua di pangkalpinang yakni Masjid Al Badar yang lebih tua dari masjid Jami’ yakni lokasinya berhadapan dengan kuburan kherkhoff ,ada juga sekolah Darussalam di jalan Baru dekat POM bensin dan juga di bukit merapin”, jelasnya
Prof. Rusydi juga menjelaskan tentang bagaimana perkuburan Kherkhoff atau Pendam Belanda pada zaman itu memiliki peran penting.
Lokasi itu dijadikan kuburan karena memang dekat kantor pedudukan Belanda di Bioskop Surya atau tepatnya Apotik Bangka.
Ketua DMI yang diwakili Sekwil Rusdianto dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat silaturahmi dan saling berdiskusi agar masjid tambah makmur.
“Sekarang banyak masjid besar dan bagus tapi jamaahnya sedikit. Kebanyakan kegiatan masjid baru terbatas di mimbar-mimbar saja,” ujar Rusdi.
Menurut Rusdianto, seharusnya masjid itu dapat memberikan manfaat lain untuk masyarakat sehingga keberadaannya dinantikan. Apalagi kondisi ekonomi masyarakat yang menghimpit saat ini.












