Bekaespedia.com_Di antara ladang dan hutan nan rimbun yang diselimuti kabut pagi, berjalanlah seorang pedagang kain keliling bernama Buk Rud, namun lebih masyhur dikenal sebagai Datuk Penutur, ia seorang kakek yang amat lihai menyematkan kisah-kisah disetiap perjalanannya.
Tubuhnya telah bongkok dimakan usia, bagai pohon jati tua yang tahan oleh guncangan angin, rambutnya telah memutih dan janggutnya terurai seperti sutera halus, mengikuti langkahnya yang perlahan namun pasti.
Di pundaknya, tersandanglah bakul dari anyaman rotan, sarat dengan kain-kain yang bercorak indah bagai pelangi di musim penghujan, kain songket berbenang emas, cual yang berliku-liku warnanya, dan telekung yang putih berseri.
Tiada hari tanpa mengembara, bagai sungai yang mencari muara. Dari pemukiman yang diselimuti kabut, hingga ke pemukiman di tepian pantai yang dihempas oleh buih ombak, jejak kakinya menjadi saksi keluasan Tanah Bangka.
Uniknya! Setiap kali Datuk Penutur berhenti di suatu pemukiman, seakan-akan angin juga ikut membisikkan berita kedatangannya. Maka, berduyun-duyunlah para warga, ibu-ibu, bapak-bapak yang sedang menumbuk padi, hingga para pemuda yang baru pulang dari sawah, bahkan anak-anak yang riang bermain, berkerumun laksana lebah menghampiri bunga.
Mereka duduk bersila di atas tikar pandan, mata mereka terpaku pada sang kakek, bak purnama menanti fajar.
Lalu, dengan suara yang dalam nan syahdu, bergema seperti gendang di kala senja, Buk Rud pun membuka lembaran kisah. “Wahai adinda-adinda sekalian!” serunya, sambil tangannya mengeluarkan sehelai kain cual, bagai mengeluarkan hikmah dari lipatan zaman.
“Dengarlah olehmu, suatu riwayat pada zaman dahulu kala…” Buk Rud memulakan dengan kisah percintaan yang pahit manis, hingga ditutup dengan kisah yang terkenal di Bangka.
“Akek Antak… Urang kulot jaman barek. Gawe ngehunjem angen, ngepak tulang ngepak payang. Behingkep ken batu, tudung e batu, guling e batu, kura-kura e batu, hampai kapal tebalek, layar rebak, jadi Bukit Batu…!”
Seketika itu juga, meledaklah tawa kerumunan warga. Suara mereka mengguncang rumpun-rumpun padi darat di tepian ladang. Ada yang terpingkal-pingkal memegang perut, ada yang tergolek di atas tikar mengkuang, hingga air mata meleleh membasahi pelupuk mata.
“Alahai, Buuuk Rud! Akek Antak tu bijak tapi kesepian, bantal gulingnya pun dari batu!” seru seorang warga sambil tertawa terbahak-bahak.
Di kala itu juga, setiap kata yang terlantun dari Buk Rud, menyihir pendengar sehingga terbuai, lupa akan lelah mereka. Kesedihan dan keriangan, semuanya mengalun dalam tuturnya yang indah, bagai aliran air sungai yang tak pernah kering membasuh hati yang hadir dengan titisan hikmah dan kebahagiaan.
Ketika mentari mulai menyebam diri menyambut sore, para warga pun bubar perlahan-lahan. Ada yang berlenggang membawa bungkusan kain cual, ada yang berjalan berpasangan sambil tersenyum-senyum kecil dan berbisik “Wai, si Akek Antak tu… kasihannya!” Gelak tawa yang tadinya bergemuruh kini tinggal gema manis yang menggantung di udara, bercampur bau asap kayu bakar dan dedaunan layu.
Namun, di tepi ladang yang mulai sepi, seorang pemuda duduk bersandar pada batang kelapa tua. Raut wajahnya muram bak langit hendak hujan, matanya memandang jauh ke pematang sawah yang mulai kelam.
Tangannya memilin sehelai rambut hingga hancur, seolah-olah jiwanya ikut tersayat-sayat. Pakaiannya yang sederhana berdebu, rambutnya awut-awutan diterpa angin petang.
Buk Rud, yang sedang membereskan bakul rotannya, tertarik pada bayangan kesedihan itu. Langkahnya yang berat diayunkan pelan mendekati sang pemuda. Suara bakulnya berderit-derit lembut, bagaikan ratap bumi di kala sore.
“Wahai anak muda,” suara Buk Rud mengalun lembut, “Mengapa dudukmu sepi bagai burung patah sayap? Hari ini kerumunan riuh oleh tawa, tapi matamu basah oleh duka yang tak terjawab.”
Pemuda itu terkejut, lalu menunduk dalam-dalam. “Maafkan diriku, Tuan… Tiada apa. Hanya fikiran yang berkarau-karau.”
Buk Rud duduk di sampingnya, tubuhnya yang bongkok itu membentuk siluet sabar menjelang senja kelabu. Tangannya yang keriput menyentuh bahu pemuda itu perlahan.
“Fikiran berkarau-karau itu bagai benang kusut di tenunan, kalau tak dileraikan ikat demi ikat, nanti kain pun jadi cacat. Berceritalah… Angin sore ini akan menyimpan rahasiamu.” Ujarnya dengan bijak.
Pemuda itu menarik napas dalam, matanya berkaca-kaca diterpa biru sore yang hampir menjadi jingga senja.
“Tuanku yang arif.. Diriku bagaikan burung merpati yang patah sayap di tengah pesta layang-layang. Ada sebongkah berlian tak jauh dari pemukiman ini, seorang gadis yang menawan. Sejak kecil kami bermain di sawah bersama, menangkap capung di bendungan, berjalan ke surau di kala maghrib. Namun kini.. Hatiku berguncang bagai daun di tiup angin ribut, tatkala melihat senyumnya yang lebih terang dari purnama.”
Suaranya bergetar halus bak dawai rebab tersentuh embun.
“Ia ibarat kijang di tengah padang ilalang, lincah, elok dan menjadi buruan ramai pemuda menabur janji, menghadiahkan sirih pinang berlapis emas. Diriku… Diriku hanya seorang sahabat karibnya. Tiap kali mulut ini hendak terbuka, lidah menjadi kelu bagai tertindih seribu batu. Apalagi… Teman sepermainan kami pun ikut menaruh asa yang sama. Andai diriku melangkah, dikhawatirkan ikatan persahabatan yang bertahun ini retak bagai tempayan jatuh.”
Kepalanya semakin menunduk, suaranya parau penuh nestapa.
“Diriku terperangkap dalam sarang lebah sendiri. Dekat, namun tak berani menyentuh. Jauh, hati meronta-ronta. Setiap kali melihatnya tersenyum pada pemuda lain, dada ini terasa dihimpit batu giling. Tidur tak nyenyak, makan tak enak, bak hidup dalam bayang-bayang kegelisahan.”
Mendengar keluh kesah pemuda itu, Buk Rud terdiam sejenak. Matanya yang bijak itu tiba-tiba berkabut bagai telaga diselimuti pagi, seakan-akan menyelam ke dasar kenangan yang berdebu.
“Wahai, anak muda. Dengarlah baik-baik. Rintihanmu ini bagai gema dari masa silamku sendiri.” Suara Buk Rud berat bak batu giling bergerak.
Ia menarik napas dalam, dadanya naik turun bagai ombak mengenang badai.
“Dahulu kala, ketika rambutku masih hitam legam bagai malam tanpa bintang, ada sebentuk kasturi di kampung sebelah. Matanya seperti bintang kejora, senyumnya manis dari tebu masak. Kami selalu berjumpa di tepian sungai waktu mengambil air, hingga di kebun ketika mencari kayu api. Hatiku mekar bagai bunga di musim hujan, tapi lidahku kering dan kaku bagai tanah di kemarau yang panjang.”
Tangannya menggenggam erat sehelai kain telekung usang dari bakulnya, seolah mencari kekuatan untuk bercerita.
“Sama sepertimu, sahabat karibku juga menaruh harap padanya. Aku diam, hanya memandang dari jauh, merelakan tanpa pernah tahu apakah hatinya juga pernah berdetak sama. Hingga suatu hari, dia dinikahkan dengan anak saudagar yang tak tahu asalnya dari mana. Aku hanya bisa berdiri di tepi jalan, melihat iring-iringan pengantin lewat… Jiwa remuk bagai tempayan dihempas batu.”
Suara Buk Rud semakin terpecah bagai serpihan kaca.
“Sampai hari ini, aku masih terpanggang oleh satu tanya yang tak terjawab. Adakah ia pernah merasakan debar yang sama? Apakah dia pernah menunggu kata-kata yang tak pernah kuucapkan? Aku tak tahu. Yang ku lakukan hanyalah mendoakan kebahagiaannya dari jauh sambil menahan duri dalam daging seumur hidup.”
Buk Rud memandang tajam ke mata pemuda itu, sorotnya menusuk kalbu.
“Memang benar, mencintai dengan mendoakan itu mulia. Tapi… Lebih mulia lagi kejujuran yang berani menanggung pedihnya jawaban. Dengarlah nasihat si tua ini. ‘Malu mengungkap isi hati hanyalah sakit sementara. Tapi menyesal karena diam itu luka yang akan terus menganga, bagai parit tak bertepi!”
Buk Rud menepuk bahu pemuda itu, sentuhannya bagai besi panas yang membakar keraguan.
“Pilihlah… Menyimpan api dalam sekam hingga kau jadi debu, atau menghadang gelombang malu sesaat, tapi lega walau jawabannya ‘tidak’? Bertanyalah padamu sendiri, apakah kau sanggup menjadi si tua renta ini, yang masih memandang bulan sambil berbisik, bagaimana andai…?”
Mendengar nasihatnya, pemuda itu bagai tersiram embun pagi. Wajahnya yang tadi muram, kini bersinar seperti air disepuh cahaya mentari. Ia bangkit, lalu membungkuk rendah, serumpun padi dihembus angin timur.
“Ribuan terima kasih, Tuanku yang arif! Sungguh, kata-katamu lebih tajam dari parang pandai besi, membelah kabut dalam sanubariku. Namaku Udak, warga disini memanggilku Si Udak.”
Matanya berbinar penuh kekaguman.
“Tuan ibarat pohon beringin tempat kami berteduh ilmu. Andai kelak diriku bisa bertutur seindah Tuan, separuh pun jadilah!”
Lalu, dengan hati berdebar, Udak pun bertanya.
“Permisi, aku ingin bertanya, Tuan… nama kasturi yang tersimpan dalam peti kenangan Tuan? Jika diizinkan tahu, siapa namanya? Apakah namanya memang semerbak kasturi dalam ingatan Tuan?”
Buk Rud tersenyum getir, senyum yang menguak luka lama.
“Umai… namanya Umai. Bagaikan rumpun padi yang menguning sendirian di tengah sawah, jarang, dan penuh rahasia alam.”
Udak terdiam. Hatinya berdesir aneh.
“Umai? Bukankah nama nenekku juga Umai…” gumam Udak sambil mengangguk pelan, membiarkan kesunyian menelan keheranannya.
“Tuanku,” bisiknya kemudian, suaranya bergetar penuh semangat, “Ajarkan diriku merangkai kata seindah Tuan! Agar kelak, aku pun bisa menjadi penglipur lara bagi pemukiman yang sunyi!”
Buk Rud mengeluarkan suara parau yang hangat, bak gerinang di tengah hutan.
“Boleh saja, tapi ingat pesan tua. ‘Cerita itu bagai pisau emas’. Kalau salah genggam, bisa melukai. Kalau salah sasaran, bisa memalukan!”
Dia menatap Udak dengan bijak, matanya berkelip-kelip bagai kunang-kunang bernasihat.
“Kau ceritakan kisah Si Kijang Emas menipu Buaya pada anak-anak, mereka tertawa riang. Tapi andai kau sampaikan pada datuk-datuk di balai adat? Kau akan dijuluki Kelakar Pak Udak!” ujar Buk Rud sambil tertawa.
Udak pun bangkit, membersihkan celananya.
“Baiklah. Aku hendak pulang dahulu, Tuan Guru. Esok, Aku akan temui gadis itu, dengan hati yang sudah berani menghadang gelombang!”
Buk Rud mengangguk, tangannya yang keriput melambai.
“Pergilah… jaga benih keberanian dalam dadamu. Dan ingat, cerita terbaik bukan yang diwariskan mulut, tapi yang diukir oleh pengalaman sendiri.”
Udak melangkah pergi. Bayangannya memanjang di tanah diterangi mentari senja, bagai jejak baru yang penuh harapan. Buk Rud memandanginya sampai jauh, senyumnya merekah seperti purnama yang tahu, sebentar lagi fajar akan lahir.
Sesampainya Udak di rumah gubuk tepi sawah, Nenek Umai atau sering dipanggil Nek Mai sedang duduk di kursi kayu, matanya menatap jalan setapak yang mulai disapu cahaya senja. “Sore sekali engkau pulang, cucuku,” ujarnya, suaranya bergetar khawatir.
Udak pun duduk bersimpuh di kaki sang nenek, wajahnya masih bersinar oleh keajaiban sore itu.
“Maafkan cucumu, Nek. Tadi aku bertemu seorang kakek penutur kisah, bijak bagai cendikiawan kesultanan, gagah meski tubuhnya sudah bongkok dimakan zaman. Ia dipanggil Buk Rud…”
Nenek Umai tersentak. Jarum yang sedang menusuk kain terhenti di jemarinya.
Udak melanjutkan, suaranya bergetar penuh haru.
“Datuk itu bercerita tentang satu luka tua di hatinya, seorang dara serupa nama dengan nenek, tak sempat ia ungkapkan isi hatinya. Hingga kini diujung usia, Datuk masih memendam tanya, adakah sang kasturi dulu itu pernah merasakan debar yang sama? Sungguh pilu, Nek!
Seketika itu juga, warna wajah Nek Mai berubah pucat bagai lilin. Jarumnya terjatuh, tangannya gemetar seperti daun pisang terkena angin ribut.
“Umai? Rud!” bisiknya, suara serak bagai ranting patah. “Cucuku… Ulangi namanya! Rud…?
“Iya Nek. Rambutnya perbak kapas, sorban putih..! jawab Udak.
Nek Mai bangkit tiba-tiba. Tubuhnya yang ringkih tiba-tiba dipenuhi oleh tenaga dari masa muda yang terpendam.
“Tuntun nenek sekarang! Cepat! Sebelum ia pergi jauh!”
Udak terkejut sambil bergumam, “Jangan-jangan…”
Nek Mai menggenggam tangan cucunya dengan kuat.
“Nenek ingin melihat wajahnya kembali! Sudah puluhan tahun nenek terkurung di rumah ini sejak kakekmu berpulang. Tapi hari ini… Hati ini berdegup kencang, nenek ingin keluar!”
Air mata tiba-tiba membasahi wajahnya yang keriput bagai peta usang. Sementara Buk Rud sedang berjalan pelan melewati pematang menuju jalan utama menuju pemukiman sebelah.
Takdir pun sedang menjalin rangkaiannya di lorong waktu senja. Di kejauhan udak sudah kelihatan berkelip-kelip mendekat, membawa jiwa yang terpisah bertahun-tahun lamanya, menuju satu titik di bawah cahaya jingga senja.
“Buk Ruuud…!” seru Udak, suaranya tegas memecah kesunyian senja.
Nek Mai melepaskan pegangan cucunya. Langkahnya gontai namun pasti, bak perahu tua yang mengenal arus. Matanya yang kabur itu menyipit, menerawang tubuh yang pernah melekat di ingatan mudanya.
“Ru… Rud?” bisiknya, suara serupa daun kering.
Buk Rud menoleh perlahan. Tangannya menggenggam erat tongkat kayu, bibirnya bergetar.
“Umai? Umai? Ini mimpi… Atau bayang-bayang senja yang menipu mataku?”
Nek Mai menghampiri, air matanya sudah membasahi keriput wajahnya yang dalam.
“Aku dengar ceritamu dari cucuku, Udak. Kenapa dulu kau… “
Buk Rud mengangkat tangan, memotong dengan getir.
“Cukup, Umai…” suaranya parau menusuk kalbu, “Lihatlah tubuhku yang bergetar ini! Aku si pengecut yang pandai memberi nasihat, tapi payah menjalaninya. Kau… Terlalu indah bagai kasturi, sementara aku hanya debu di tapak kaki.”
Buk Rud memandangi Nek Mai, matanya bagai danau yang menampung hujan lebat.
“Ketahuilah, setiap malam sebelum tidur, doa untuk kebahagiaanmu adalah doa terpanjang dalam hidupku.” Ucap Buk Rud sambil menghela napas dalam. “Maaf, aku harus pulang. Cucu perempuanku sudah menunggu di rumah.” Sambutnya.
Tangannya yang kuat itu terangkat perlahan, seolah ingin menyeka air mata di pipi Nek Mai, tapi berhenti di udara.
“Jangan engkau bersedih… Air matamu lebih berharga dari mutiara di lautan. Pertemuan ini, walau sebentar bagai kedip kunang-kunang, sudah menjadi obat bagi penyesalan lama yang kubawa.”
Senja merah pun akhirnya tenggelam. Langit berubah menjadi ungu kelam, dikhiasi bintang-bintang bagai bidak-bidak perak.
Buk Rud menarik napas dalam, suaranya tiba-tiba lembut bagai usapan sutera. “Selalulah bahagia, Umai… Biarlah penyesalan ini menjadi pupuk bagi keberanian cucu-cucu kita.”
Mereka pun terdiam. Dalam kesunyian itu, tersirat seribu kata yang tak terucap. Lalu, secarik senyum mengembang di bibir mereka berdua, bukan senyum kegembiraan, tapi senyum pemakluman yang dalamnya melebihi palung lautan.
Udak memalingkan muka. Air matanya jatuh membasahi tanah, tersentuh oleh keagungan diam yang lebih bermakna dari ribuan syair.
Dua pasang mata tua itu berpandangan terakhir kali. Buk Rud pun berjalan pelan menuju jalan setapak. Bakul di pundaknya berderit-derit, bagai tembang perpisahan yang syahdu.
Nek Mai berdiri tegak melihatnya pergi, hingga bayangan itu lenyap ditelan kegelapan.
Dan di kejauhan, Buk Rud bergumam pada rembulan.
“Terima kasih, Takdir…. Kau memberiku penutup yang lebih indah dari yang kuminta.”
TAMAT
Toboali, 9 Juli 2025












